Skip to main content

Posts

Catatan Pinggir untuk Muktamar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah XIX

Di Kota Kendari yang semoga tidak ada aral, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah akan melangsungkan Muktamarnya ke-19 pada tanggal 21 – 23 Oktober 2021, Dengan Mengusung Tema “Merayakan Kebhinekaan” . Untuk menyongsong hajat besar itu, sebagai kader saya mempunyai harapan yang cukup besar terhadap keberlangsungan pergerakan IMM di masa yang datang, dengan catatan pinggir ini, saya mengucapkan selamat bermuktamar bagi seluruh kader IMM. Sudah Tidak Bisa Ditawar: IMM Itu Sebagai Gerakan Intelektual Jika melihat kemabali tujuan IMM, Tercantum pada Anggaran Dasar (AD) IMM dalam Bab 11 pasal 6 bahwa IMM memiliki tujuan:  mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berahlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah . Pemahaman sederhana penulis atas tujuan IMM tersebut. Pertama, melalui IMM besar harapan untuk dapat lahir sosok profil kader ikatan yang mempunyai intelektualitas yang kuat, mempunyai kareakter berpikir rasional serta ilmiah, term intelektual di sini sejalan dengan term a...
Recent posts

Nyatanya Teknologi Belum Bisa Meredam Rindu

                Sebab rindu kepada seseorang terkasih dapat membuncah karena adanya jarak, dengan adanya jarak disitulah rindu dapat bergerak. hingga terasa dalam hati sanubari terdalam kita masing masing.                 Dampak dari wabah virus corona, membuat banyak orang tengah memendam rindu. Iya, rencana mudik lebaran ke kampung halaman harus ditangguhkan oleh mereka demi menjaga umat di negeri ini agar terhindar dari virus menular corona covid-19.                 Ada anak   yang merantau untuk bekerja harus rela menahan kerinduan kepada Ibu dan Bapaknya di rumah, ada suami yang sedang menjalani kewajiban mencari rezeki harus menunda perjumpaanya dengan   anak dan istri, dan ada pula para pelajar dan mahasiswa yang menempuh pendidikan ja...

Pelajaran di atas meja Angkringan

Di bilangan Gamping persisnya depan pasar sentral Ambarketawang, beberapa PO bus AKAP berhenti menurunkan sejumlah penumpangnya. Bus itu bertolak dari Jakarta siang menjelang sore, sehingga sampai Jogja dini hari sebelum fajar naik. Dan di waktu bersamaan terlihat cahaya lampu redup menguning menerangi warung angkringan 'Pak Ndut'.  Tak lama, tahu isi yang masih hangat itu hampir musnah dalam lumatan saya. Sampai tahu itu benar benar habis tergiling di mulut saya, dan saat itulah kondektur bus Rosalia melakukan tugasnya; menurunkan barang dan penumpangnya. Lain lagi, baru setengah tempe mendoan panas saya nikmati bus Pahala Kencana memperlambat lajunya hingga berhenti sempurna, terlihat dua orang membopong kardus turun dari kendaraan malam cepat itu. Tinggal satu macam gorengan yang perlu saya makan; bakwan di tangan kanan juga tak lupa cabe di tangan kiri, pedas cabenya bikin kaget, sekaget saya melihat manuver bus Eka yang bertolak dari arah sebaliknya ...

Persimpangan Hidup

Tepatnya waktu dimana matahari persis memayung di atas kepala manusia, kereta api kelas luxury membawa seorang pria menuju Yogyakarta. Memang tidak seperti biasanya, dulu ia hanya mampu memesan tiket kelas bisnis untuk bepergian menaiki kereta bersama sang istri.  Namun sekarang pulang pergi naik kereta luxury mampu ia turuti. Ini berkat peruntunganya yang sekarang mampu membawa hidupnya bisa lebih mapan dalam hal finansial. Selepas kehilangan pekerjaan dua tahun silam, sekarang ia berstatus menjadi pegawai negeri sipil di Jakarta.  Kereta terus melaju melibas panjangnya rel, sesekali juga ia turun, menyumat ujung batang rokok tatkala kereta api transit di stasiun besar, begitu seterusnya sampai ia tertidur dan kereta api berhenti sempurna di stasiun tugu Yogyakarta.  Ia meninggalkan kereta dan segala fasilitas yang melekat selama 8 jam perjalanan. Lalu berjalan dan melihat angkringan yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari pintu keluar yang ia lalui. ...

Belajar melunturkan kepemilikan pribadi dari senja sore hari

Lihatlah ufuk di bagian barat. Kalau hari cerah, langit akan memancarkan warna jingga bernas, dari sorotan matahari yang mulai tenggelam di lautan luka dalam. Lukisan Tuhan yang mampu membuat banyak orang sejenak memandang, hingga gelap memayunginya. Tak sedikit orang dengan segenap ambisi sengaja menjemputnya. Dengan orang terkasih. Tengok saja sosok Sukab dalam roman Sepotong Senja Untuk Pacarku, buah pikiran Seno Gumira Ajidarma.  Ia tak kenal patah arang untuk menghadiahkan potret sepotong senja untuk pacarnya. Alina.   Tapi saya tidak akan membual kisah perjuangan asmara Sukab terhadap Alina, dan sepotong senjanya. Ini hanya secarik cerita biasa tentang senja dan kebersamaan, atau tentang bagaimana kita belajar menghilangkan kepemilikan terhadap suatu yang diciptakan untuk Bersama. Suatu sore, kala itu saya diajak kawan saya untuk sekedar menemaninya di sebuah coffee shop untuk menyelesaikan tugas akhir kuliahnya yang lama tidak ia sentuh dengan buah pikir...

kendala anda adalah rezeki kami ; pengantar pemahaman era Disrupsi

Pekan kemarin. Setidaknya, sebagai awam yang menerima segala arus pengetahuan yang ndakik ndakik . Saya telah membuktikan ketangkasan Disrupsi yang tengah menamani kehidupan kita. Bagaimana tidak, sebagai fresh graduate yang sebenarnya nggak fresh fresh amat (lulus telat atau lama), dengan berbekal surat keterangan lulus, saya nekat menawarkan diri saya untuk dilamar oleh perusahaan startup yang ada di kota yang cukup padat kendaraan di pagi dan sore hari. Disamping juga sebuah kota yang mengunggulkan Gudeg sebagai makanan khas yang kalau dilihat. Bagi saya, seperti menu nget ngetan . Tapi tetap, saya juga doyan. Heuheuheu  Tidak singkat cerita, namun lama menunggu, saya mendapat pemberitahuan lewat watsapp, agar saya dapat mengikuti wawancara dengan Hepicar. Oh iya, sebelum jauh, kiranya perlu saya jelaskan kalau Hepicar hadir sebagai startup otomotif di Yogya, yang menawarkan jasa memperbaiki kendaraan yang bermasalah dengan tiba tiba. Pokoknya terjadi tidak sesuai renca...

Memulai hobi baruku yang setengah-setengah

Ada kawanku berbadan cungkring, "mbendino story watsapmu ngepit, tapi kok awakmu panggah lemu" jelasnya ngece padaku. Mencari jenis olahraga untuk badan yang cukup gemuk seperti saya cukup sukar nyatanya, biasanya memang malas untuk berolahraga, dan akhirnya tubuh terpaksa berkeringat bukan setelah melakukan akfitas fisik yang berat, melainkan karena berada pada suhu dan kondisi ruangan yang panas atau memang setelah makan. Dokumen pribadi Kalau mau jujur, berbadan gemuk itu memang tidak nyaman untuk beraktifitas sehari hari. Apalagi sewaktu mencari bajubatau celana yang dibutuhkan, terpaksa harus memilih dan membeli yang pas dan jauh dari yang bagus dan jauh dari keren. Tak berhenti disitu saja, penghakiman sosial juga menghampiri, dibilang "wah awakmu lemu temen loh, mangane opo?". Entah sekedar kaget dan pangling karena lama tak bertemu atau memang badanku ini luasnya diluar kewajaran orang orang biasanya. Entahlah, atas semua itu aku rapopo. Saya ...