Di bilangan Gamping persisnya depan pasar sentral Ambarketawang, beberapa PO bus AKAP berhenti menurunkan sejumlah penumpangnya. Bus itu bertolak dari Jakarta siang menjelang sore, sehingga sampai Jogja dini hari sebelum fajar naik. Dan di waktu bersamaan terlihat cahaya lampu redup menguning menerangi warung angkringan 'Pak Ndut'.
Tak lama, tahu isi yang masih hangat itu hampir musnah dalam lumatan saya. Sampai tahu itu benar benar habis tergiling di mulut saya, dan saat itulah kondektur bus Rosalia melakukan tugasnya; menurunkan barang dan penumpangnya.
Lain lagi, baru setengah tempe mendoan panas saya nikmati bus Pahala Kencana memperlambat lajunya hingga berhenti sempurna, terlihat dua orang membopong kardus turun dari kendaraan malam cepat itu.
Tinggal satu macam gorengan yang perlu saya makan; bakwan di tangan kanan juga tak lupa cabe di tangan kiri, pedas cabenya bikin kaget, sekaget saya melihat manuver bus Eka yang bertolak dari arah sebaliknya menuju Purbalingga, biasanya penumpang Eka makan sebungkus dua nasi kucing di angkringan pak ndut, sembari menunggu bus tiba.
Itulah tontonan larut malam yang saya sukai, disamping terbangun di sepertiga malam dengan perut meronta kelaparan.
Tiga gorengan dengan satu bungkus nasi kucing cukup mengganjal perut saya dengan presisi aman hingga siang tiba, selebihnya saya gunakan untuk menghabiskan minuman yang saya pesan dengan perlahan.
Bagi saya angkringan bukan sekedar transaksi jual beli makanan oleh penjual dan pembeli, lebih dari itu adalah tempat untuk permenungan diri, berpikir sampai bercengkrama. Ya, semacam suaka bagi saya.
Lamat lamat saya termenung, sambil minum teh seteguk, binar mata saya kabut sesekali, dilewati asap rokok dari para pelanggan pak ndut. Kursi panjang yang saya duduki masih muat untuk satu orang, yang penuh jika diisi hingga sepasang empat bokong manusia.
Luruh dalam aktivitas, seorang tua berselendang sarung datang "pak nyuwun plastik kangge mbungkus gorengan". Pinta bapak tua itu dengan pakaian mirip si Unyil sambil menatap jenis gorengan yang kiranya akan ia masukan ke kantong plastik.
Pak ndut meragu, tak kunjung mengulurkan kantong plastik. "Tinggal sitik e pakde gorengane ?". Terang pak ndut.
Dan pak tua itu paham, ia membalas "ora akeh, sitik wae". Timpalnya, sekelibat empat gorengan menyesaki kantong plastik, dijinjing dan larut dalam langkah pak tua yang entah kemana.
Penjual makanan khas angkringan memang mencari rezeki, bahkan hasil jualanya menjadi pundi pundi keuangan mereka. Apalagi dengan pak ndut, yang mulai berdagang tengah malam hingga pukul tujuh pagi , di tengah riuh ramainya pasar.
Namun ternyata, materi bukanlah segalanya bagi mereka. Pak ndut seperti yakin rezeki sudah digariskan datang untuknya beserta istri; lewat makanan yang dihidangkan, lewat orang orang yang lapar di malam hari. Pak ndut bisa saja merelakan gorenganya diborong laris oleh orang seperti pak tua itu, namun baginya sisi lain berdagang adalah berbagi. Pak ndut seperti tak sampai hati jika pelangganya tak kebagian makanan karena habis diawal karena borongan.
Bagi saya, pak ndut memberi pelajaran pada kita untuk berbagi dengan sesama. Di angkringan kita harus mengendalikan nafsu lapar, mempedulikan orang lain atas nama kemanusiaan. Jika ramai pembeli makanlah secukupnya, sajian yang dihidangkan tentu juga hak milik pembeli yang lain, kita belajar cukup atas apa yang kita butuhkan, tidak berlebih dan juga kurang. Di angkringan kita dipertemukan dengan perlunya keseimbangan dalam hidup.
Syahdan teh hangat saya surut, radio lawas milik pak ndut bersuara seperti tak mau mati karena termakan usia.
"Kalau bulan bisa ngomong (oh yeah ?) ~ dia jujur tak akan bohong ~" begitu lagu dendangan Doel Sumbang dan Nini Carlina melantun dari radio lawas pak ndut yang bersuara, menghibur pelanggan angkringan yang silih berganti.



Comments
Post a Comment