Skip to main content

Memulai hobi baruku yang setengah-setengah

Ada kawanku berbadan cungkring, "mbendino story watsapmu ngepit, tapi kok awakmu panggah lemu" jelasnya ngece padaku.


Mencari jenis olahraga untuk badan yang cukup gemuk seperti saya cukup sukar nyatanya, biasanya memang malas untuk berolahraga, dan akhirnya tubuh terpaksa berkeringat bukan setelah melakukan akfitas fisik yang berat, melainkan karena berada pada suhu dan kondisi ruangan yang panas atau memang setelah makan.

Dokumen pribadi

Kalau mau jujur, berbadan gemuk itu memang tidak nyaman untuk beraktifitas sehari hari. Apalagi sewaktu mencari bajubatau celana yang dibutuhkan, terpaksa harus memilih dan membeli yang pas dan jauh dari yang bagus dan jauh dari keren.


Tak berhenti disitu saja, penghakiman sosial juga menghampiri, dibilang "wah awakmu lemu temen loh, mangane opo?". Entah sekedar kaget dan pangling karena lama tak bertemu atau memang badanku ini luasnya diluar kewajaran orang orang biasanya. Entahlah, atas semua itu aku rapopo.


Saya mencoba bergembira dalam menerima sanjungan-sanjungan yang ditujukan kepada saya, baik untuk kondisi badan maupun yang lainya. Saya malah melihatnya dari sudut pandang yang lain, mereka justru membantuku untuk jujur pada sendiri.


Kembali ke bab jenis olahraga tadi, saya sedang hobi bersepeda, kegiatan yang biasa disebut gowes ini membuat saya kembali mau beraktifitas fisik, pagi maupun sore hari. Hobi ini muncul setelah stalking tentang gowes di platform media sosial.


Motivasi saya untuk bersepeda ini jauh dari kata ingin menguruskan badan, bagi saya bisa kurus karena sering bersepeda itu bonus, yang kalau didapat ya disyukuri kalau nggak ya tetap gowes pedal terus.
Bisa dan mau berolahraga  merupakan rasa syukur yang amat nikmat, bagi saya ini tak lain adalah investasi masa depan, untuk bisa tetap sehat. Karena saya masih pecaya akan hukum kausalitas di dalam tubuh yang sehat terdapat pikiran yang sehat. Bukan akal sehat. Heuheuheu.


Bersepeda ; belajar jujur pada diri sendiri


Menemukan makna jujur pada diri sendiri bisa diperoleh saat kita bersepeda, bagi goweser pemula seperti saya, cepat kelelahan dan ngos ngosan dibarengi dengan degup jantung yang melampaui kecepatan detik dalam jam adalah suatu hal yang tak bisa dihindari. Hal ini harus diakui secara jujur kalau kapasitas tenaga lemah dan harus terus berlatih agar terbiasa.


Kejujuran pada diri sendiri saya dapat setelah mengetahui bahwa olahraga bersepeda mempunyai tingkat kebahayaan yang cukup mengerikan jika kita tak tahu manajemenya.


Cerita saya ketika pertama kali bersepeda dengan jarak 10 hingga 12 kilometer yang melewati beberapa jalan menanjak yang cukup tinggi bagi saya kala itu cukup membuat saya kesusahan nafas, denyut jantung yang cepat hingga melemahnya daya tahan tubuh serta konsentrasi.


Hal itu tentu sangatlah berbahaya untuk keselamatan diri saya sendiri, karena tidak jujur dengan kemampuan fisik, sehingga terus memaksa memacu sepeda untuk menaklukan medan tanjakan. Jika denyut jantung saya melebihi batas normas tentunya dapat mengakibatkan serangan jantung seketika.


Dari pengalaman itu, saya mulai mengatur cara bersepeda saya dengan sering berlatih memadukan jarak tempuh dan mengetahui kondisi denyut jantung agar tetap pada detak rata rata. Dan pengetahuan itu membawa pemaknaan bagi saya agar dapat belajar jujur pada diri sendiri.








Comments

Popular posts from this blog

Dibuang Sayang 3

Tadabur Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo Oleh   : Rendi Eko Budi S / Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi UMY 2014 Menilik sekilas perkembangan ilmu pengetahuan dalam sejarah, dapat kita bagi berdasarkan periodesasi filsafat, yang biasanya sering dimulai dari zaman Yunani kuno, dalam kurun waktu 624 – 370 SM. Dalam kurun waktu di tahun tersebut berkembanglah pengetahuan dan keyakinan yang bermula dari kepercayaan mitologi dan dewa dewa, serta pandangan sentral akan asal muasal alam raya, atau dapat juga disebut dengan kosmosentrisme. Beranjak dari pelbagai mitologi yunani, hadirlah para filosof zaman Yunani kuno yang dapat disebut juga filosof pra Socrates: Filsafat Alam, banyak filosof yang lahir di zaman ini seperti Thales, Phytagoras, Heraklitus, Demokritus dan masih banyak lagi. Para filosof itu mencetuskan buah pikiranya, dengan seri diskursus kosmosentris melalui berbagai cara memperolehnya (epistimologi) baik secara empiris, rasional maupun intuisi, yang selanjutnya buah dar...

Kesunyian Übermensch om berkumis

Gambar berasal  di sini Bagiku, dalam hal pendiasporaan sangatlah dibutuhkan kekuatan "organik" yang berangkat dari akar rumput, maka dari itu sangatlah perlu kita meluaskan pandangan dan pengetahuan, "mekanik" akan selalu menjadi patronya untuk mencapai suatu etikat kebersamaan dan kebijaksanaan. kekuatan organik yang dipupuk sejak awal, dengan penuh kasih dan perenungan pastilah sangat menghindari  "itik se attelor, ajam se ngeremme" .  kekuatan itu akan selalu diharapkan semua umatnya. karena lahir untuk mengasihi semua umatnya, dan dimiliki oleh bersama dalam satu ikatan kebersamaan.(Rendi)

Peradaban jogja

Oleh   : Rendi Eko Budi S / komfak fisipol umy Jogja   kota menawan bagi para pelajar dan wisatawan Jogja menyimpan genangan cakrawala ilmu bagi setiap insan Jogja punya seribu satu cerita tentang problematika kehidupan                 Disana, terlahir cendikiawan abadi dan berpendidikan                 Bersama kisah pilu merebut kemerdekaan Jogja punya cerita cinta dengan pelancong kehidupan Cinta, budaya, agama, warna dan angkringan                 Kini, jogja ramai ringkih dan rentan                 Ramai, gedung pencakar yang mengusik nostalgia angkringan                ...