Di penghujung tahun iklim tropis di Indonesia memang mempunyai pemaknaan sendiri bagi warganya. Lihat saja, dibulan November hingga memasuki awal tahun nanti. Rintik deras air hujan disambut dengan berbagai ekspresi. Tapi, dari sekian banyak ekspresi dalam menerima musim hujan, ekspresi merayakan galau dan menye-menye tentu yang paling mendominasi. Sungguh aku juga nggak habis pikir, apakah mungkin lagu Benci Tapi Rindu yang ditembangkan tante Ratih Purwasih menjadi cikal bakal ekspresi galau dan menye menye dalam menyambut hujan, lihat saja bunyi lagunya, "yang hujan turun lagi~, di bawah payung hitam kuberlindung~". Haduh dasar tante ratih, lewat lagunya mewariskan mental melankolis alias galau menye-menye. Dan mungkin sejak populernya lagu itu pula banyak pemuda sekarang menyandingkan hujan dengan kenangan, kenangan masa lalu bersama mantan, yang berdua bersama membasahkan diri bersama turunya hujan. Eh tapi jangankan mantan, pacar saja belum. Hihihi ...
Bunga Rampai Pikiran