Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2018

Sejak Kapan "Rain" disandingkan Sama Kenangan

Di penghujung tahun iklim tropis di Indonesia memang mempunyai pemaknaan sendiri bagi warganya. Lihat saja, dibulan November hingga memasuki awal tahun nanti. Rintik deras air hujan disambut dengan berbagai ekspresi.   Tapi, dari sekian banyak ekspresi dalam menerima musim hujan, ekspresi merayakan galau dan menye-menye tentu yang paling mendominasi. Sungguh aku juga nggak habis pikir, apakah mungkin lagu Benci Tapi Rindu yang ditembangkan tante Ratih Purwasih menjadi cikal bakal ekspresi galau dan menye menye dalam menyambut hujan, lihat saja bunyi lagunya, "yang hujan turun lagi~, di bawah payung hitam kuberlindung~".  Haduh dasar tante ratih, lewat lagunya mewariskan mental melankolis alias galau menye-menye. Dan mungkin sejak populernya lagu itu pula banyak pemuda sekarang menyandingkan hujan dengan kenangan, kenangan masa lalu bersama mantan, yang berdua bersama membasahkan diri bersama turunya hujan. Eh tapi jangankan mantan, pacar saja belum. Hihihi ...

Samudera Perenungan

Pernahkan kita merenung dengan bertanya, sejak kapan pemilu menjadi hajat kepentingan banyak orang, dan pernahkan kita merasa dan juga bertanya sudahkan ruh dan nilai demokrasi yang disalurkan melalui pemilu telah merasuk kedalam sendi sendi tubuh kita ?. Atau pernahkan kita berpikir apakah Indonesia bagian dari kita, atau kita adalah bagian dari Indonesia.  Seharusnya kita dapat belajar dari riuhnya momentum politik yang mendekat mengelilingi kehidupan, dan menawarkan harapan kehidupan baru dengan platform bernafaskan demokrasi. Karena sebagai manusia sejatinya kita harus tegak, berdiri di atas mimpi pribadi, menciptakan jalan harapan kehidupan untuk bersama, dan membawa kita pada harapan hidup yang tidak bergantung pada kekuatan orang lain. seperti perkataan Emha Ainun Nadjib yang perlu untuk direnungkan, bahwa jika manusia berada ditengah pasar kekuasaan politik yang pada akhrinya mengerucut pada satu hingga dua kekuatan, disitulah kita sebagai manusia harus dapat berdi...

Dibuang Sayang 3

Tadabur Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo Oleh   : Rendi Eko Budi S / Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi UMY 2014 Menilik sekilas perkembangan ilmu pengetahuan dalam sejarah, dapat kita bagi berdasarkan periodesasi filsafat, yang biasanya sering dimulai dari zaman Yunani kuno, dalam kurun waktu 624 – 370 SM. Dalam kurun waktu di tahun tersebut berkembanglah pengetahuan dan keyakinan yang bermula dari kepercayaan mitologi dan dewa dewa, serta pandangan sentral akan asal muasal alam raya, atau dapat juga disebut dengan kosmosentrisme. Beranjak dari pelbagai mitologi yunani, hadirlah para filosof zaman Yunani kuno yang dapat disebut juga filosof pra Socrates: Filsafat Alam, banyak filosof yang lahir di zaman ini seperti Thales, Phytagoras, Heraklitus, Demokritus dan masih banyak lagi. Para filosof itu mencetuskan buah pikiranya, dengan seri diskursus kosmosentris melalui berbagai cara memperolehnya (epistimologi) baik secara empiris, rasional maupun intuisi, yang selanjutnya buah dar...

Dibuang sayang 2

Melihat Pembangunan Kota Yogyakarta : Kelompok Terorganisir dan Gerakan Sosial Profetik Oleh : Rendi Eko Budi Setiawan Jogja Jogja, tetap istimewa Istimewa Negerinya, Istimewa Orangnya … Diatas adalah kutipan sebuah lagu yang dibawakan oleh grup musik kegemaran masyarakat Yogyakarta, Hip Hop Jogja. Yogyakarta terlukis indah dibenak para masyarakatnya, kota yang tidak terlepas dari peradaban kemerdekaan Indonesia. Kota Yogyakarta menyimpan berbagai memori dikala para pejuang kala itu merebut kemerdekaan dari sekutu. Hingga kini berbagai sebutan untuk kota Yogyakarta semakin banyak, seperti kota pelajar, kota budaya, dan kota wisata. Kini Yogyakarta telah menginjak usia tua yakni 259 tahun, angka yang cukup banyak untuk melihat problematika pembangunan dan peradaban sebuah kota, disini penulis akan mencoba menguraikan paradoks kontemporer kota Yogyakarta. Melihat Kota Yogyakarta Rancangan   pembangunan  ...

Dibuang Sayang

Manifestasi Hadirnya Organisasi Gerakan Sosial Islam (Muhammadiyah : Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah)   Oleh : IMMawan Rendi Eko Budi Setiawan / Komisariat Fisipol UMY  Latar Belakang Masalah ; Penulis mencoba menafsirkan dalam rangka kegiatan perkaderan Darul Arqom Madya (DAM) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang selanjutnya dapat disebut IMM, terkait tema yang diangkat oleh cabang AR. Fachruddin kota Yogyakarta yang tidak lain adalah “ Revitalisasi Gerakan Sosial IMM Dalam Rangka Mewujudkan Gerakan Pencerahan Muhammadiyah”.   Dewasa ini, gerakan sosial Islam mempunyai cita cita sesuai dengan khittah dalam sejarahnya masing masing, dalam hal ini penulis mengerucut kepada gerakan mahasiswa Islam IMM yang akan dikaitkan dengan kaleidoskop hadirnya Muhamadiyah di Indonesia atau yang dulu disebut Nusantara. Bagi penulis menengok sejarah organisasi:Muhammadiyah baik dari sisi awal gerakan maupun sisi sosiologis perlu untuk menentukan arah gerak di masa depan....