Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2019

Halaman Pertama

Halaman Pertama Jika akalmu meragu itu sebab hatimu bergerak Itu berbanding lurus denganku Menatap wajahmu, menyimak tuturmu Adalah kedamaian bagiku Yang membawaku pada rindu tanpa sebab Yang mungkin saja menjadi salah tangkap Tentang asmara, aku lelaki halaman pertama Karena bagiku, engkau adalah buku yang tak pernah selesai kubaca Jogja, 13 Maret 2019 Rendi

Keberhasilan Pelaku Terorisme

Meneriwa warta dari berbagai media daring terkait terjadinya peristiwa serangan terorisme siang tadi pada waktu Sholat Jumat di Masjid Al-Noor, Christchurch Selandia Baru. Saya teringat filsuf komunikasi marshal mcLuhan, ia mengatakan "Without communication, terrorism would not exist". Saya berduka atas peristiwa itu, yang menewaskan lebih dari 40 muslim tewas ketika sedang beribadah, sadis. Seranganya bak demo game pubg yang mengejar "chicken dinner". Ini merupakan suatu ancaman bagi kedamaian kemanusiaan. Apapun ideologi serta struktur dibalik pelakunya, saya rasa itu pada akhirnya adalah keyakinan atau paham "maut"(nirperdamaian dan nirkemanusiaan). Lepas dari itu semua, mengacu pada kutipan marshal mcLuhan di atas, dapat diartikan serangan teror kepada 40 lebih muslim yang sedang beribadah telah "berhasil". Mengapa berhasil ? Ada tiga alasan, terkait epistemologi branding pemain terorisme, sebagai berikut ; Pertama, ada relasi ...

#miladIMM55 ; Menjadi Kader IMM di Jogja

"ayo kawanku, di mana kawanku ?" "Hidup Mahasiswa !" "Rakjat adalah koentji !" "Runtuhkan tirani !" "Lawan kapitalisme yang sudah tersemai di lingkungan kita !" "Pejabat pemerintah adalah antek antek asing !, Mereka wujud lain dari neolib" Kawan kawan, kita nyanyikan lagu bersama ," kepada para. Mahasiswa yang meeindukan kemenangan, kepada rakyat yang kebingungan dipersimpangan jalan Di atas adalah pekikan kader gerakan mshasiswa, selain presentasi tugas kuliah di kelas, atau memang sengaja. Membulatkan tekad untuk meninggalkan jadwal kuliah hari itu, untuk mengikuti aksi turun ke jalan, demonstrasi !. Alasanya mereka tak mau terpenjara dalam tembok tembok kelas, kelas bagi mereka sama halnya dengan bank bank konvensional, yang jauh dari penderitaan rakyat. Ujaran keras yang mereka lontarkan di bawah terik matahari, dan pantulan panas marka jalan, tentu punya latar belakang yang sangat ngideologis. ...