Skip to main content

Belajar melunturkan kepemilikan pribadi dari senja sore hari

Lihatlah ufuk di bagian barat. Kalau hari cerah, langit akan memancarkan warna jingga bernas, dari sorotan matahari yang mulai tenggelam di lautan luka dalam. Lukisan Tuhan yang mampu membuat banyak orang sejenak memandang, hingga gelap memayunginya. Tak sedikit orang dengan segenap ambisi sengaja menjemputnya. Dengan orang terkasih. Tengok saja sosok Sukab dalam roman Sepotong Senja Untuk Pacarku, buah pikiran Seno Gumira Ajidarma.  Ia tak kenal patah arang untuk menghadiahkan potret sepotong senja untuk pacarnya. Alina.  

Tapi saya tidak akan membual kisah perjuangan asmara Sukab terhadap Alina, dan sepotong senjanya. Ini hanya secarik cerita biasa tentang senja dan kebersamaan, atau tentang bagaimana kita belajar menghilangkan kepemilikan terhadap suatu yang diciptakan untuk Bersama.
Suatu sore, kala itu saya diajak kawan saya untuk sekedar menemaninya di sebuah coffee shop untuk menyelesaikan tugas akhir kuliahnya yang lama tidak ia sentuh dengan buah pikirannya. Tentu, kami mencari lokasi yang cukup nyaman dan kondusif hanya untuk mengetik dan hal yang cukup sia sia seperti menghisap habis sebungkus rokok dengan cara satu per satu. Ditambah posisi duduk yang satu tingkat di atas lantai dasar dan barang tentu dapat menikmati landscape panorama senja di kota Yogya. 
Setelah melibas hiruk pikuk kendaraan, dan menahan bising bunyi tuter (atau “klakson”, yang biasa kita sebut) diwaktu jam pulang kerja, untuk dapat menikmati senja dengan ditemani sajian secangkir dua kopi dan kudapan sore, ndilalah kami bernasib yang cukup naas. Posisi duduk yang satu tingkat di atas lantai dasar telah penuh oleh muda mudi ramai. Yang telah mereservasi jauh hari sebelumnya, harapan untuk dapat mengirimkan potret senja via watsap untuk gebetan pun luntur, dan mengharuskan kami duduk di tempat yang masih tersedia yang untuk mengintip warna jingga dari sorotan senja pun tak bisa. 
Hingga pada saat kawan saya nyeletuk, berkata bahwa sebenarnya dalam hidup ada hal yang lumrah kita berkuasa untuk memilikinya dan ada juga hal yang memang kita perlu untuk belajar memiliki secara bersamaan. Hal yang kedua ungkapnya suatu yang sangat transenden. Seperti senja yang dilukis dan dihadirkan Tuhan untuk dapat dinikmati banyak orang. Dan selayaknya kita mengakui keindahan tersebut sebagai kebesaran Ilahi. 
Tidak perlu waktu lama untuk saya mengiyakan celetuk kawan saya tersebut, dan tidak lama pula ada seorang perempuan cantik menghampiri saya “Mas boleh pinjam korek ?,” pintanya padaku. Dan sudah pati saya menyodorkan korek, bermerek Alfamart untuknya. Namun ternyata dia tak hanya pinjam korek, dia sambung dengan “Sekalian sama rokoknya ya mas, sebatang. Hehehe.”saya pun menyaksikan perempuan memantik api untuk keluar menyambar rokok yang tersangga di sela mulutnya.

Comments

Popular posts from this blog

Dibuang Sayang 3

Tadabur Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo Oleh   : Rendi Eko Budi S / Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi UMY 2014 Menilik sekilas perkembangan ilmu pengetahuan dalam sejarah, dapat kita bagi berdasarkan periodesasi filsafat, yang biasanya sering dimulai dari zaman Yunani kuno, dalam kurun waktu 624 – 370 SM. Dalam kurun waktu di tahun tersebut berkembanglah pengetahuan dan keyakinan yang bermula dari kepercayaan mitologi dan dewa dewa, serta pandangan sentral akan asal muasal alam raya, atau dapat juga disebut dengan kosmosentrisme. Beranjak dari pelbagai mitologi yunani, hadirlah para filosof zaman Yunani kuno yang dapat disebut juga filosof pra Socrates: Filsafat Alam, banyak filosof yang lahir di zaman ini seperti Thales, Phytagoras, Heraklitus, Demokritus dan masih banyak lagi. Para filosof itu mencetuskan buah pikiranya, dengan seri diskursus kosmosentris melalui berbagai cara memperolehnya (epistimologi) baik secara empiris, rasional maupun intuisi, yang selanjutnya buah dar...

Kesunyian Übermensch om berkumis

Gambar berasal  di sini Bagiku, dalam hal pendiasporaan sangatlah dibutuhkan kekuatan "organik" yang berangkat dari akar rumput, maka dari itu sangatlah perlu kita meluaskan pandangan dan pengetahuan, "mekanik" akan selalu menjadi patronya untuk mencapai suatu etikat kebersamaan dan kebijaksanaan. kekuatan organik yang dipupuk sejak awal, dengan penuh kasih dan perenungan pastilah sangat menghindari  "itik se attelor, ajam se ngeremme" .  kekuatan itu akan selalu diharapkan semua umatnya. karena lahir untuk mengasihi semua umatnya, dan dimiliki oleh bersama dalam satu ikatan kebersamaan.(Rendi)

Peradaban jogja

Oleh   : Rendi Eko Budi S / komfak fisipol umy Jogja   kota menawan bagi para pelajar dan wisatawan Jogja menyimpan genangan cakrawala ilmu bagi setiap insan Jogja punya seribu satu cerita tentang problematika kehidupan                 Disana, terlahir cendikiawan abadi dan berpendidikan                 Bersama kisah pilu merebut kemerdekaan Jogja punya cerita cinta dengan pelancong kehidupan Cinta, budaya, agama, warna dan angkringan                 Kini, jogja ramai ringkih dan rentan                 Ramai, gedung pencakar yang mengusik nostalgia angkringan                ...