Tepatnya waktu dimana matahari persis memayung di atas kepala manusia, kereta api kelas luxury membawa seorang pria menuju Yogyakarta. Memang tidak seperti biasanya, dulu ia hanya mampu memesan tiket kelas bisnis untuk bepergian menaiki kereta bersama sang istri.
Namun sekarang pulang pergi naik kereta luxury mampu ia turuti. Ini berkat peruntunganya yang sekarang mampu membawa hidupnya bisa lebih mapan dalam hal finansial. Selepas kehilangan pekerjaan dua tahun silam, sekarang ia berstatus menjadi pegawai negeri sipil di Jakarta.
Kereta terus melaju melibas panjangnya rel, sesekali juga ia turun, menyumat ujung batang rokok tatkala kereta api transit di stasiun besar, begitu seterusnya sampai ia tertidur dan kereta api berhenti sempurna di stasiun tugu Yogyakarta.
Ia meninggalkan kereta dan segala fasilitas yang melekat selama 8 jam perjalanan. Lalu berjalan dan melihat angkringan yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari pintu keluar yang ia lalui.
Secangkir kopi tengah terhidang, asap panasnya bertabrakan dengan asap rokok yang keluar dari mulutnya. Wajahnya tersorot cahaya perisai malam yang datang dari layar paranti genggamnya.
Tak ada agenda, satu yang terpikirkan, hanya ingin menghubungi kawan lama yang seingatnya masih tinggal di Jogja.
"Hallo, koe ngelih to, ayo kancani aku madang neng lesehan pecel lele langganan mbiyen". Ajaknya makan lewat telfon untuk si Marko teman sepeminuman kopi dahulu sewaktu mahasiswa.
Dulu semasa mahasiswa kalau baru saja dapat kiriman uang saku dari orang tua, mereka berdua makan sepaket lele bakar lengkap dengan tetek bengeknya. Makan malam berdua bisa habis sampai seratusribu. Untuk hari selanjutnya mereka lebih memilih uangnya dibelikan rokok dan menahan lapar. Prinsip mahasiswa perantau yang ahli hisap; lebih baik nggak makan dari pada nggak rokok an.
Selang tak lama akhirnya mereka bersua, menukar kabar di atas tikar sembari menunggu hidangan disajikan. Marko dan Komar pernah dipisahkan oleh sebuah pilihan hidup. Marko tetap di Jogja untuk cita citanya ingin jadi dosen, dengan melanjutkan studi pascasarjana. Sedangkan Komar lebih dulu menikah, tak lama setelah sarjana disematkan untuknya.
Marko menerangkan dihadapan sahabatnya, tak lama lagi dirinya akan diwisuda dan resmi meraih gelar magister di bidang ilmu sosial. Yang artinya tentu cita citanya semakin dekat untuk tercapai. " Es duaku wis meh rampung, dua bulan lagi saya wisuda Mar".
Komar mendengarnya senang, sejak dahulu Komar pun yakin Marko aksn sukses di jalur akademisi.
"Ayo kita habiskan menu makan mewah kita jaman mahasiswa dulu Ko" ujar Komar dengan nada lapar.
Mereka lahap memindahkan menu makanan ke perutnya masing masing, dan tak menghiraukan bising kendarasn lewat. Hingga kucing kucing pengendus bau ikan tengah menunggu sisa sisa makanan, sampai nantinya piring mereka terangkat bersih.
Batangan tusuk gigi terlihat menari di sela sela gigi mereka berdua. Tak lama dua rokok pun keluar dari bungkusnya dan termakan api.
Komar melamun sambil merasakan perut yang terasa penuh. Pete bakar yang masih terasa di mulut komar menambah nikmat rasa rokok yang ia hisap. "Nasib, saya diterima pns Ko. Nasib pula aku pisah dengan istriku".
Sambil menyenderkan punggung di dinding, dengan kaki selonjor Komar menceritakan rumah tangganya yang hancur belum lama ini. Ia pisah dengan istrinya lantaran kebutuhan dasar hidup sukar untuk dipenuhi dengan pekerjaan Komar dahulu.
Komar bercerita bahwa cinta akan bisa dikalahkan dengan masalah finansial, dan malam itu Komar menangis, membagi rasa dengan sahabat lamanya. Komar seperti orang yang patah arang menjalani hidup di malam itu.
"Marko, dulu saya sering beradu mulut dengan istriku. Lebih lagi ketika buah hati kita lahir, ketika kebutuhan bayi kami sedang banyak, dan disaat itu juga saya kehilangan mata pencaharian. Sampai aku prrnsh nekat minta kiriman orang tua lagi buat beli popok dan susu anaku". Lirih Komar dengan tangis kecilnya
Sebagai karib. Komar pasang telinga untuk Komar tentu sebagai bentuk empati atas musibah yang menjatuhi sahabatnya.
"Dulu saat sebelum pisah, untuk memenuhi kebutuhan primer rasanya seperti nafas senin - kamis Ko. Dulu saya berharap istri saya kuat menjalani hidup dengan keadaan ekonomi seperti itu, dan saya akan peras keringat untuk menafkahinya". Isak tangis Komar semakin sepi, dan sepertinya penjual pecel lele tahu sepasang karib yang menjadi pelangganya sejak lama sedang bercengkrama dengan khusyuk, hingga menunda untuk menutup warung sejenak.
"Sabar Mar, saya mendukungmu untuk terus maju menatap hari esok. Kita masih muda, tuhan punya cerita lain untukmu yang saya yakin akan menebus kekecewaanmu sekarang". Timpal Marko sambil memindah posisi duduknya.
"Sekarang jangankan kebutuhan primer. Kamu ituloh dengan pekerjaanmu sekarang kebutuhan sekunder saja bisa kamu penuhi, bahkan hidup dengan mapan. Yasudah sekarang ayo pulang ke kos saya" saut Marko sambil merogoh saku, mencari kunci motor.
Bersama Marko, si Komar dibesarkan hatinya, dibukakan secercah asa masa depan yang cerah, merajut kembali mimpi mimpi mereka dikala masih mahasiswa. Hingga mereka berdua terbawa oleh suasana malam Jogja yang mulai hening dan sepi.

Comments
Post a Comment