Tadabur
Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo
Oleh
: Rendi Eko Budi S / Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi UMY 2014
Menilik sekilas perkembangan ilmu pengetahuan dalam
sejarah, dapat kita bagi berdasarkan periodesasi filsafat, yang biasanya sering
dimulai dari zaman Yunani kuno, dalam kurun waktu 624 – 370 SM. Dalam kurun
waktu di tahun tersebut berkembanglah pengetahuan dan keyakinan yang bermula
dari kepercayaan mitologi dan dewa dewa, serta pandangan sentral akan asal
muasal alam raya, atau dapat juga disebut dengan kosmosentrisme.
Beranjak dari pelbagai mitologi yunani, hadirlah para
filosof zaman Yunani kuno yang dapat disebut juga filosof pra Socrates:
Filsafat Alam, banyak filosof yang lahir di zaman ini seperti Thales,
Phytagoras, Heraklitus, Demokritus dan masih banyak lagi. Para filosof itu
mencetuskan buah pikiranya, dengan seri diskursus kosmosentris melalui berbagai
cara memperolehnya (epistimologi) baik secara empiris, rasional maupun intuisi,
yang selanjutnya buah dari dalamnya berpikir para filosof menghasilkan suatu
teori yang mempunyai nilai axiologi yang dapat kita pahami berbagai nilai yang
terkandung didalamnya. Para filofos zaman Yunani ini identik dengan sebutan
filosof miletus.(Jostein Gardeer, Dunia Sophie, hlm 70-71, 2013).
Sekitar tahun 470 – 399 SM, terjadi adanya transisi
fokus kajian para filosof, sejak dari Yunani kuno, mazhab Alea yang diisi para
filosof seperti Socrates, Plato dan Aristoteles mengkritik dan mengejawantahkan
pikiran teoritis filosofof alam, yang terlalu asik dengan seri
kosmosentrismenya. Di zaman era Socrates kondisi struktur sosial telah tertata
dengan pelbagai masalahnya, salah satu dari masalah yang coba dilawan para
filosof alea adalah persoalan kebenaran, moral dan lain lain. (Ali Maksum,
Pengantar Filsafat, hlm 57-59, 2008). Para filosof yang mulai muncul di Athena
merubah kajian ontologisnya menjadi seri kajian antroposentrisme melawan kaum
sophis (baca kaum sophis) dan menawarkan nilai kebenaran serta moral yang
beradab. Lepas dari Yunani kuno, datanglah abad pertengahan sekitar 806 M
hingga seterusnya, yang terdapat filsafat skolastik Islam dan skolastik
Kristen, yang berpusat pada teosentrisme.
Pemikiran ilmu pengetahuan barat, dari periodesasi ke
periode selanjutnya memang selalu berbeda, dari Yunani hingga zaman pencerahan (Renaissance).
Jika diawal periode Yunani sampai abad pertengahan, pemikiran masih mengakar
dengan mitologi yunani dan teosentrismenya yang mengekang manusia pada waktu
itu.
Munculnya zaman renaissance atau bisa kita sebut
dengan zaman pencerahan yang ada pada kisaran tahun 1469 M, mempunyai cita-cita
membebaskan manusia dari kungkungan dogmatis yang mengakar yang berpusat pada
mitologi, aliran rasionalisme turut juga mewarnai pada zaman pencerahan ini
yang juga melahirkan semangat antroposentrisme atau humanisme.(Kuntowijoyo,
Paradigma Islam, hlm 159-161, 1991). Dalam zaman pencerahan, alih – alih
mengembalikan kedaulatan manusia dan revolusi ilmu pengetahuan dan pemahanan
teologi, juga mengakibatkan masalah baru seperti agnostisisme serta
sekularisme, dan juga terjebak hanya dalam dialektika ilmu pengetahuan tanpa
adanya perubahan sosial, juga menimbulkan masalah anti agama.
Michael Root, membedakan dua jenis karakteristik ilmu
sosial yaitu liberal dan perfeksionis, dapat dikatakan liberal karena tidak
sarat akan cita cita transformasi sosial dan nilai kebijakan, begitupun
sebaliknya dengan ilmu sosial yang perfeksionis yang kaya akan nilai dan
membawa sifat partisan terhadap keadaan sosial sekitar. (Kuntowijoyo, Muslim
Tanpa Masjid, hlm 360-361, 2001). Jika dapat kita telisik lebih jauh ilmu
sosial barat yang bersifat perfeksionis menurut michael Root ada pada transisi zaman
Renaissance yang memulai peradaban dunia modern, dan postmodern, jika zaman
modern setelah renaissance ada, keduanya memiliki karakteristik differensiasi
atau dengan kata lain pemisahan, sebagai upaya dalam melepaskan manusia dari
dogma agama dan mitos pada abad pertengahan dan Yunani kuno yang terikat pada
seri kosmosentris dan teosenterisme, yang dimaksud differensiasi atau
selanjutnya disebut pemisahan ini adalah bagaimana antara ilmu pengetahuan dan
agama dipisahkan dan tidak dapat berjalan beriringan,agama dan pelbagai
disiplin ilmu lainya. (Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid, hlm 362 – 363, 2001)
Dedifferensiasi (Integralistik Ilmu)
: Ilmu Sosial Profetik (Kuntowijyoyo)
Post modernisme dapat dikata sebagai ilmu yang
berkarakteristik dedifferensiasi (Lasch, 1990:11-5 dalam Kuntowijoyo, Muslim
Tanpa Masjid, 362, 2001). Sebuah ilmu yang tidak memisahkan antara agama dan
ilmu dalam arti mengintegralkan ilmu pengetahuan dari masa ke masa dalam rangka
menjawab sekularisasi dan menghadirkan desekularisasi yang mempunyai nilai
humanisme, berangkat dari iru secara epistimologi post modernisme atau ilmu
yang berkarakteristik dedifferensiasi memandang sah rasio, empiris maupun wahyu
dalam memperoleh pandangan ilmu. Perbedaan antara filsafat Islam dan barat dalam
kacamata epistimologi terletak pada intuisi dan wahyu, akan tetapi dalam
filsafat islam juga tidak menafikan empirisme dan akal untuk memperoleh
pandangan ilmu pengetahuan.
Ilmu sosial profetik, yang muncul belum lama ini
seperti menjadi sintesis akan perdebatan ilmu sosial barat yang hanya berkutat
pada mitos dan logos (liberalisme non perfeksionis). Ilmu sosial profetik yang
selanjutnya dapat disingkat dengan “ISP” bukanlah murni muncul dari pemikiran
kuntowijoyo, akan tetapi terdapat genealogi pemikiran, kata profetik berasal
dari kata prophet yang mempunyai arti nabi atau sifat kenabian, profetik juga
menjadi semangat perjuangan Muhammad Iqbal salah seorang filosof dari Amerika
Latin, yang juga turut mempengaruhi pemikiran Kuntowijoyo. (Sani H, MGIP, hlm
40-41, 2011). Asal pikiran mengenai ISP dari Kuntowijoyo terisnpirasi oleh
Muhammad Iqbal dan Roger Garaudy, dalam bukunya Membangun Kembali Pikiran Agama
dalam Agama Islam ( Iqbal,1966:123 dalam Kuntowijoyo, hlm 363, Muslim Tanpa
Masjid). Iqbal menjelaskan etika
profetik yang juga mengutip dari Abdul Quddus, jika proses isra’ mi’raj
Muhammad telah sampai ke tempat yang setinggi tingginya, akan tetapi ia tetap
kembali ke bumi untuk melaksanakan tugas kenabianya.
Kemudian, berangkat dari genealogi pemikiran diatas,
Kuntowijoyo mencetuskan ISP sebagai jawaban persoalan hari ini, interpretasi
kuntowijoyo mengenai etika profetik yang dibawa oleh Muhammadi Iqbal sebagai
misi pembebasan kala itu, menemukan sintesis pembaruan. Kuntowijoyo meletakan
landasan Illahiyah untuk ISP yang ia cetuskan sebagai hasil tadabur dan
penafsiranya atas surat Ali Imran ayat 110 “ Kamu adalah umat terbaik yang
dilahirkan untuk manusia, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang
munkar, dan beriman kepada tuhan”. Ayat diatas Kuntowijoyo menemukan semangat
profetik yang selanjutnya dibawa dalam ranah ISP, disini kuntowijoyo tetap
memakai kata ilmu bukan teologi, karena akan lebih sarat akan nilai
dediferensiasi ilmu. Ada tiga makna yang diinterpretasi Kuntowijoyo dalam surat
tersebut, pertama, Amar Ma’ruf dimana manusia mengajak kepada kebaikan dalam
berkehidupan. Kedua, Nahi Mun’kar haruslah manusia menyeru dan mencegah dari
kegiatan dan tindakan kekerasan, kejahatan dan penindasan. Ketiga, Tu’minuna
billah adalah landasan iman mengapa manusia harus menyeru dari yang munkar dan
mengajak kepada kebaikan, yang semata juga karena agama allah, karena dalam
Islam mengandung juga nilai humanisme teosentrik, yang mempunyai arti agama
yang beriman kepada Allah, dan mengarahkan perjuangan untuk kemanusian yang
berdaulat.(kuntowijoyo, Paradigma Islam, 1991. Atas dasar itu jelaslah
kedudukan umat manusia di muka bumi ini sebagai Khalifah Allah atau Khairu
Ummah dalam agama Islam sangatlah berperan, sebagai wakil tuhan ataupun penerus
nilai kenabian yang pernah dibawa rasul SAW. Berbeda dengan kedudukan manusia
pada berkembangnya ilmu sosial barat waktu itu, Yunani dan Romawi dimana
manusia sangatlah dipandang rendah dan memiliki status quo dalam stuktur dan
pemikiranya, sehingga diperlukanya mitologi untuk tuntutan hidup, dalam arti
struktur sosial yang menentukan super struktur (manusia atau kesadaran).
Tiga Pilar Ilmu Sosial Profetik
ISP yang memberi harapan mampu menjawab persoalan
sosial hari ini dengan pendekatan strukturalisme transendental, yang
berlandaskan surat Ali Imran Ayat 110, dengan segala karakteristiknya seperti
dedifferensiasi, perfeksionis, communitarian dan partisan mempunyai tiga pilar
yang dijelaskan di dalamnya.
Humanisasi
(Amar Ma’ruf)
Lawan dari dehumanisasi, dimana umat mampu memperjuangkan
nilai memanusiakan manusia yang memungkinkan diperluklanya juga teori untuk
kegiatan aksi, dehumanisasi tidak hanya dimulai akibat dari adanya renaissance,
dalam kacamata modern pergeseran nilai dan budaya juga tejadi ditengah
lingkungan sosial, melesatnya globalisasi yang memungkinkan tumbuh kembangnya
industialisasi juga salah satu dari akibat munculnya dehumanisasi, kapitalisme,
sekulerisme dan lain sebagainya. Maka dari itu perlu pendekatan teoritis,
historis dan kasus.
Liberasi
(Nahi Munkar)
Memilikii misi pembebasan, yang juga tidak terlepas
dari teks Al’Quran yang dapat kita tadabur ulang dengan ilmu pengetahuan guna
menjalankan perintahNya, misal dalam surat Ali Imran ayat 110 yang ditunjang
sebagai landasan illahiyah ISP, secara teknis dan praktik liberasi kita sebagai
manusia dimuka mubi mampu menganalisis keaadaan sosial, apakah terjadi
ketimpangan atau baik baik saja, karena penindasan ataupun kekerasan yang
dimaksud Kal Marx, bersifat terstruktur, kita dapat menyadarinya dengan
menggunakan ilmu dan analisis serta melakukan perjuangan pembebasan atas
ketidakadilan sosial
Transendensi
(Tu’minuna billah)
Kerja humanisasi dan liberasi seperti apa yang
dimaksud Kuntowijoyo dalam ISP nya juga relafan dengan perkerjaan seorang
intelektual dengan segala macam tugasnya dalam rangka mencapai etika profetik.
Dalam pilar yang ketiga ini tentunya adalah bagaimana manusia beriman kepada Allah.
Transendensi juga sebagai pembeda ISP dengan ilmu lainya, tidak hanya sekedar
kerja humanis semata, akan tetapi dalam islam meliputi humanisme teosentrik
yang mengusahakan bekerja itelektual dan humanis sebagai rasa iman kita
terhadap Allah, Agama dan Rasul SAW.
*Essay
ini disampaikan pada saat diskusi dengan bidang keilmuan PK IMM FEB UMY 2016
Daftar Pustaka
(Jostein
Gardeer, Dunia Sophie, hlm 70-71, 2013).
(Sani
H, Manifesto Gerakan Intelektual Profetik, hlm 40-41, 2011).
(Iqbal,1966:123
dalam Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid, hlm 363, 2001).
(Ali
Maksum, Pengantar Filsafat, hlm 57-59, 2008).
(Kuntowijoyo,
Muslim Tanpa Masjid, hlm 362 – 363, 2001).
(Kuntowijoyo,
Paradigma Islam, hlm, 159-161, 1991).
Comments
Post a Comment