Skip to main content

Sejak Kapan "Rain" disandingkan Sama Kenangan


Di penghujung tahun iklim tropis di Indonesia memang mempunyai pemaknaan sendiri bagi warganya. Lihat saja, dibulan November hingga memasuki awal tahun nanti. Rintik deras air hujan disambut dengan berbagai ekspresi.  

Tapi, dari sekian banyak ekspresi dalam menerima musim hujan, ekspresi merayakan galau dan menye-menye tentu yang paling mendominasi. Sungguh aku juga nggak habis pikir, apakah mungkin lagu Benci Tapi Rindu yang ditembangkan tante Ratih Purwasih menjadi cikal bakal ekspresi galau dan menye menye dalam menyambut hujan, lihat saja bunyi lagunya, "yang hujan turun lagi~, di bawah payung hitam kuberlindung~". 

Haduh dasar tante ratih, lewat lagunya mewariskan mental melankolis alias galau menye-menye. Dan mungkin sejak populernya lagu itu pula banyak pemuda sekarang menyandingkan hujan dengan kenangan, kenangan masa lalu bersama mantan, yang berdua bersama membasahkan diri bersama turunya hujan. Eh tapi jangankan mantan, pacar saja belum. Hihihi

Dan kukira, sudah saatnya kita membedakan, dan tidak menyandingkan antara turunya hujan dan kenangan. Kalau Hujan ya hujan, kenangan ya, ya jangan galau jangan nangis jangan sok menye menye menebar virus galau di medsos. Huhuhu

Kalau hujan sebaiknya kita menerima dengan bijak mas mbak, itukan berkah, tanaman padi dan sayur mayur jadi segar dan bisa tumbuh dengan layak. Atau kalau hujan ya jangan lupa cari cari atap yang bocor. Tapi ya kalau hujan jangan lupa kangen, eh kok aku juga kangen ya, hehehe. Ambyar !

Comments

Popular posts from this blog

Dibuang Sayang 3

Tadabur Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo Oleh   : Rendi Eko Budi S / Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi UMY 2014 Menilik sekilas perkembangan ilmu pengetahuan dalam sejarah, dapat kita bagi berdasarkan periodesasi filsafat, yang biasanya sering dimulai dari zaman Yunani kuno, dalam kurun waktu 624 – 370 SM. Dalam kurun waktu di tahun tersebut berkembanglah pengetahuan dan keyakinan yang bermula dari kepercayaan mitologi dan dewa dewa, serta pandangan sentral akan asal muasal alam raya, atau dapat juga disebut dengan kosmosentrisme. Beranjak dari pelbagai mitologi yunani, hadirlah para filosof zaman Yunani kuno yang dapat disebut juga filosof pra Socrates: Filsafat Alam, banyak filosof yang lahir di zaman ini seperti Thales, Phytagoras, Heraklitus, Demokritus dan masih banyak lagi. Para filosof itu mencetuskan buah pikiranya, dengan seri diskursus kosmosentris melalui berbagai cara memperolehnya (epistimologi) baik secara empiris, rasional maupun intuisi, yang selanjutnya buah dar...

Kesunyian Übermensch om berkumis

Gambar berasal  di sini Bagiku, dalam hal pendiasporaan sangatlah dibutuhkan kekuatan "organik" yang berangkat dari akar rumput, maka dari itu sangatlah perlu kita meluaskan pandangan dan pengetahuan, "mekanik" akan selalu menjadi patronya untuk mencapai suatu etikat kebersamaan dan kebijaksanaan. kekuatan organik yang dipupuk sejak awal, dengan penuh kasih dan perenungan pastilah sangat menghindari  "itik se attelor, ajam se ngeremme" .  kekuatan itu akan selalu diharapkan semua umatnya. karena lahir untuk mengasihi semua umatnya, dan dimiliki oleh bersama dalam satu ikatan kebersamaan.(Rendi)

Peradaban jogja

Oleh   : Rendi Eko Budi S / komfak fisipol umy Jogja   kota menawan bagi para pelajar dan wisatawan Jogja menyimpan genangan cakrawala ilmu bagi setiap insan Jogja punya seribu satu cerita tentang problematika kehidupan                 Disana, terlahir cendikiawan abadi dan berpendidikan                 Bersama kisah pilu merebut kemerdekaan Jogja punya cerita cinta dengan pelancong kehidupan Cinta, budaya, agama, warna dan angkringan                 Kini, jogja ramai ringkih dan rentan                 Ramai, gedung pencakar yang mengusik nostalgia angkringan                ...