Skip to main content

Dibuang Sayang

Manifestasi Hadirnya Organisasi Gerakan Sosial Islam (Muhammadiyah : Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah)  
Oleh : IMMawan Rendi Eko Budi Setiawan / Komisariat Fisipol UMY 

Latar Belakang Masalah ;

Penulis mencoba menafsirkan dalam rangka kegiatan perkaderan Darul Arqom Madya (DAM) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang selanjutnya dapat disebut IMM, terkait tema yang diangkat oleh cabang AR. Fachruddin kota Yogyakarta yang tidak lain adalah “ Revitalisasi Gerakan Sosial IMM Dalam Rangka Mewujudkan Gerakan Pencerahan Muhammadiyah”.   Dewasa ini, gerakan sosial Islam mempunyai cita cita sesuai dengan khittah dalam sejarahnya masing masing, dalam hal ini penulis mengerucut kepada gerakan mahasiswa Islam IMM yang akan dikaitkan dengan kaleidoskop hadirnya Muhamadiyah di Indonesia atau yang dulu disebut Nusantara. Bagi penulis menengok sejarah organisasi:Muhammadiyah baik dari sisi awal gerakan maupun sisi sosiologis perlu untuk menentukan arah gerak di masa depan. Karena bagi penulis muhammadiyah lahir tidak lain adalah sebagai instrumen ataupun alat yang secara kolektif mencoba bergerak sesuai dengan cita dan khitahnya.   Ketidaktahuan sejarah akan melahirkan ambiguitas gerakan organisasi. Yang pada akhirnya organisasi menjadi multitafsir dan jauh dari ibu harapan sejarah dan khitah tujuan. Yang terjadi hari ini pengamatan dari pada penulis yang juga ikut aktif dalam kegiatan perkaderan serta aktifitasnya di IMM adalah tak lain gagalnya penafsiran akan gerakan IMM yang berujung hanya pada gerakan dan aktifitas keagamaan dan pergulatan  teologi, yang juga menimbulkan fundamentalisme pemikiran yang menjadi salah satu tidak tercapainya gerakan pembaharuan dan gerakan pencerahan. Gerakan yang terjadi dalam tubuh ikatan berhenti pada tataran kesalehan pribadi yang kolektif, yang minim akan pembebasan pemikiran secara reformis dan moderat, sehunga esensi dari pada gerakan penekan dan sosial hilang. Hal ini yang perlu di revitalisasi bagi penggerak IMM cabang AR. FAchruddin kota Yogyakarta jika melihat tema yang diangkat dalam kegiatan DAM yang akan di laksanakan pada tanggal 5 September 2017, agar ruh dari pada gerakan IMM sesuai dengan khitah Muhammadiyah yang menginginkan pembaharuan dan pencerahan baik dalam hal teologis dan praktik. 

Rumusan Masalah ;

Islam pernah besar di jazirah arab, dan pernah mengalami pergulatan kemunduran dan kebangkitan. Penulis akan akan sekilas menjelaskan sejarah awal masuknya agama Islam di Nusantara, sekarang Indonesia. serta munculnya gerakan Islam di Indonesia. Yang akan penulis bagi menjadi beberapa fase. Yaitu bagaimana Islam masuk di Nusantara. Dan Islam dalam masa ataupun era penjajahan. Lantas kalimat tanya selanjutnya yang dapat kita pikirkan adalah faktor sosial apa yang membujuk Ahmad Dahlan untuk mendirikan Muhammadiyah, yang kala itu dakwah menggunakan organisasi yang kolektif sedang digalakan dizamanya, dan bagaimana kondisi sosial secara teologis di Nusantara pada kisaran abad ke 7 hingga 13 yang pada kala itu Islam masuk langsur dari negeri Jazirah Arab, yang sebelumnya juga Nusantara telah didatangi bangsa Persia, India dan Cina (Abdullah, dalam Haedar 2010: 53).  Hari ini, yang telah memasuki abad ke 21, dengan sekilas menilik sejarah. Bagaimana seharusnya gerakan sosial Islam khususnya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dalam menyikapi masalah hari ini, di tengah permasalahan konflik horizontal antar agama suku dan budaya yang tidak lain adalah konflik berujung kepentingan segmen politik. Juga negara yang di hadapkan oleh kesenjangan ekonomi yang kurang berdaulat, serta pembangunan berparadigma modernis.  

Kerangka Teori dan Pembahasan ;

Agama Islam dapat dikata sebagai agama rahmatan lil alamin bagi semua umat manusia dan alam semesta. Indonesia merupakan negara yang paling banyak berpenduduk Muslim kendatipun bukan Negara Islam yang terkonstitusikan.   Sebelum Islam hadir, Nusantara lebih dulu bercengrama dengan agama dan kepercayaan Hindu serta lingkungan agraris dengan banyaknya keyakinan akan animisme (Maarif, dalam Haedar 2010: 52). Nusantara yang luas dan strategis secara geografis yang memungkinkan sumber daya alam tumbuh melimpahi para penghuni Nusantara, juga bentuk kepulauan yang ada menjadikan Nusantara menjadi tempat persinggahan kapal kapal saudagar untuk sekedar singgah bertransaksi dagang dan yang pastinya juga membawa agama Islam melalui pesisir, kiranya pada abad ke 13 para saudagar dari India, Parsi dan Cina singgah di wilayah kepulauan dan bandar bandar penting di Nusantara ( Haedar 2010: 53). Kala 13 masehi, kerajaan Islam juga telah berdiri yakni Samudra Pasai sebelum beberapa kerajaan lain juga bermunculan seperti halnya di pulau jawa, sulawesi selatan dan lain sebaginya.   

Islam masuk ke Nusantara dengan ramah dan tidak berprinsip legal formal atau bersifat ortodoksi dalam misi Islamisasi yang juga dapat dikatakan menghadapi Hinduisasi kala itu, pengaruh kebudayaan Hindu di Nusantara dapat kita ketahui cukup massif adanya seperti di pulau Jawa, Jawa Tengah, Jawa Timur. Lain hal lagi seperti di pulau Sumatera seperti di Aceh, Minangkabau Sumatera Barat. Yang kuat akan syariat Islam hingga tak heran dapat memunculkan para pemikir hebat dinegeri asal Nusantara itu. Haedar Nashir menulis dan mengutip sebagai berikut:  “Taufik Abdullah(1974- 1-8) mencatat betapa Islam di Indonesia mengalami dinamika penghadapan antara ajarandan sejarah antara keyakinan doktrin agama dan realitas zaman yang selalu berubah, sehingga Islamisasi mengalami persambungan dan dan perubahan sekaligus jawaban terhadap zamanya, sekaligus penghadapan Islam dengan  sejarah dan kebudayaan  sehingga Islam bersifat dinamis dan menjadi awal mula beragam coraknya. “  Banyaknya ragam corak agama Islam tak lain adalah seperti yang telah dicatat oleh Haedar di atas, bagaimana islam hadir di Nusantara terlanjur basah akan kebudayaan Hindu yang dekat dengan hinduisasi di beberapa daerah, juga melekatnya kepercayan animisme dan dinamisme. Maka dari itu bagi penulis masihlah berkesinambungan dengan tesis yang diungkapkan oleh Cliford Geertz “ The Religion of Java” atau lebih mudah dipahami dengan istilah Islam Kejawen, yang juga melahirkan perbedaan abangan dan santri, yang juga mengalami perdebatan teologis antara Islam yang kaya akan budaya jawa dan hindu juga Islam Puritan yang yang di bawa oleh kaum santri moderat yang bergeneologi dari tohoh muslim abdul wahab yang identik dengan gerakan Wahabbiah.  Kisaran abad ke 19, ketika ideologi Imperialisme sedang mengalami puncaknya, yang tidak lain adalah dijalankan oleh bangsa bangsa besar Eropa, seperti Belanda Portugis, Inggris, Spanyol, dan masih banyak lagi. Bangsa bangsa itu berlayar menyusur samudra di belahan dunia terutama menuju belahan amerika latin, belahan dunia bagian timur, di Asia, seperti di Asia Tenggara bahkan Indonesia sempat disinggahi oleh bangsa tersebut. Hal itu bagi penulis juga merupakan awal mula ataupun cikal bakal terjadinya kolonialisme di beberapa negara berkembang seperti Nusantara, sebelum menjadi Hindia Belanda dan Indonesia.  Kondisi sosiologis orang Nusantara kala kedatangan bangsa portugis tahun 1551 bagi penulis akan berpengaruh untuk sepak terjang agama dan umat Islam kedepanya. Portugis datang sebelum VOC(Vireenigne Oost Indische Companie) yang mengincar rempah rempah dan dibawanya kembali ke Eropa dengan harga jual yang tinggi, juga tidak menguntungkan untuk orang-orang Nusantara kala itu. Pada waktu itu di abad ke 19 dunia sedang berada dalam puncak ilmu pengetahuan, “ Renaisance” abad pencerahan dimana rasionalisme digunakan 

Untuk memandang kehidupan manusia kedepanya, serta juga merupakan kritik daripada peradaban Yunani Kuno yang terkungkung pada tataran keyakinanya pada mitologi. Berbeda dengan kondisi di Nusantara, kondisi orang-orang masih jumud, di bawah kendali jajahan bangsa portugis. Kebudayan Hinduisasi dan kepercayaan animisme dan dinamisme yang menyebabkan praktik sesembahan seperti tahayul kurafat dan bid’ah tidak membawa Nusantara pada kebangkitan pola pikir manusia, melainkan kestagnan-an berpikir yang membawa Nusantara pada kehancuran di bawah bayang bayang ideologi Dunia.  Kedatangan VOC 1602 adalah awal mula tejadinya kolonialisme di Nusantara, sebelum VOC pun hancur karena ulahnya sendiri yang selanjutnya digantikan oleh pemerintah Belanda yang memegang kendali atas Hindia Belanda Kala itu melalui pemerintahan Kuasi yang dibuatnya. Sistem kerja tanam paksa yang merugikan orang-orang Hindia Belanda. Umat islam yang beragam coraknya seperti yang telah disebutkan diatas menjadi kesempatan bagi Belanda untuk menghadirkan kebijakanya. Walaupun juga kala itu orang – orang keturunan priyayi juga sempat mengenyam pendidikan karena kebijakan politik etis, dan mempunyai tipikal kritis untuk melawan sekutu. Akan tetapi sebagian besar umat Islam masih dalam keterbelakangan. Katakanlah saja kebijakan politik belah bambu yang membuat masyarakat Hindia Belanda ditindas, dan diperas kendatipun pada tahun 1887 politik etis menyapa Hindia Belanda yang tak lain adalah strategi awal belah bambu pemerintahan kolonial. Begitupula seperti apa yang dikata Haedar Nashir dalam Bukunya Muhammadiyah Gerakan Pembaharuan, sebagaimana berikut:  “ pemerintah Kolonial juga melakukan politik Islam Hindia Belanda, yang kelihatan memberikan apresiasi padakwiatan dan ibadah umat Islam, tetapi mematikan potensi politik umat Islam. Untuk tumbuh menjadi kekuatan sendiri dan melawan jajahan dan pemerintahan kolonial. Untuk itu Islam tidak dibiarkan menjadi agama yang tumbuh dinamis, mereka membiarkan corak keagamaan umat islam, bahkan dengan politik Islam atas Advis Snouck Hurgronje, praktik tradisionalitas Islam diawetkan dan dijinakan agar tetap terkungkung pada kejumudan dan keterbelakangan “  Begitulah kondisi teologis dan sosiologis orang-orang Nusantara sebelum dan setelah kedatangan Islam, juga setelah kedatangan VOC dan Belanda yang menguasai Nusantara dengan begitu lamanya. Akan tetapi masuk pada awal 20, di awal mula orde lama kondisi juga berubah dengan seiring berjalanya waktu dan perkembangan pola pikir masyarakat Hindia Belanda 

Era Kebangkitan Islam   1784 di Aceh muncul kebangkitan gerakan Islam yang Pertama, dengan penggerak Tuanku nan Tua yang menerapkan hukum Islam serta mengorganisasi para saudagar yang singgah di ujung pulau Sumatera, setelahnya juga ada perang padri 1803 yang salah satu 
penggeraknya adalah Tuanku Imam Bonjol yang membawa corak Islam puritan yang berakar juga dari gerakan Wahabiah, selain dari pada itu. Perang padri juga sedikit banyak melakukan perlawanan terhadap pemerintahan kolonial Hindia Belanda(Haedar, 2010: 64-65). Hal ini bagi penulis adalah awal mula kebangkitan umat Islam semenjak dibukanya terusan suez, yang memungkinkan orang-orang Hindia Belanda memperoleh kemungkinan menunaikan ibadah Haji, lantas dalam perjalanan haji-nya, walaupun ditempuh dengan waktu yang sangat lama, hingga mencapai berbulan bulan, ini adalah bagian dari pada kesempatan bagi mereka, yang memperoleh keuntungan dapat belajar dan bertemu dengan para tokoh dan pemikir timur tengah, walaupun di sisi lain menunaikan ibadahnya. Hal ini menjadi batu loncatan bagi umat Islam untuk mengembangkan pemikiran yang sekaligus akan dibawanya untuk mengembangkan kebudayaan dan konsep beragama di Hindia Belanda, yang juga menjadi babak baru untuk memperkuat amunisi melawan kolonialisme yang telah mengakar kala itu.  Hal di atas bagi penulis juga merupakan keran bagi, orang-orang Hindia Belanda untuk berserikat dan berorganisasi dan menjadi cikal bakal tebentuknya gerakan islam, yang dibarengi oleh semangat kebebasan dan kemerdekaan di awal abad ke 20. Seperti yang diucapkan Haedar Nashir sebagaimana berikut:  “ lahirlah beberapa paham dan orientasi gerakan berupa organisasi Islam dengan aliran yang beragam, baik tradisionalis maupun modernis, seperti jamiat khair(1905), serikat dagang Islam atau SI(1911), Muhammadiyah(1912), persatuan Islam(1923) dan Nadhlatul Ulama(1926) dan semua organisasi Ilsam di atas bersifat gerakan.”   Pada masa inilah bagi penulis, hadirnya gerakan organisasi Islam merupakan kebangkitan umat Islam, yang mendapatkan peluang langsung bersentuhan dengan pemikiran tokoh timur tengah seperti Al Afgani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dan lain sebagainya. Hal ini juga yang dijalankan ahmad dahlan yang juga banyak membaca buku buku terkait pan Islamisme Al Afgani, pembaharuan moderat Muhammad Abduh, dan Abdul Wahab mengenai puritanisme Islam. Lebih dari itu K.H Ahmad Dahlan juga berkesempatan berguru oleh beliau para pemikir Islam. Yang luaranya termanifestasikan dalam organisasi muhammadiyah yang bagi penulis katakan, Muhammadiyah bergerak pada ranah purifikasi atau jika penulis meminjam istilah dari Hilman Latief Muhammadiyah hari ini harus lebih dari pada gerakan puritanisme untuk menjawab sejarah umat Islam yang terdahulu, karena dari segi sosiologis akan terus bergerak secara dinamis, maka dari itu Hilman Latief mengatakan konsep gerakan post puritanisme harus digalakan, agar selain dari pada gerakan pemurnian akidah yang sesuai Al Quran dan As Sunah, Muhammadiyah juga dapat  menjawab permasalahan bangsa hari ini. Atau jika penulisa meminjam istilah dari Dr. Kuntowijoyo, teks sebagaimana yang dimaksudkan adalah Islam mampu menjawab konteks permasalahan sosial hari ini, yang beliau (Kuntowijoyo) katakan sebagi pengilmuan Islam, atau diperhalus dengan gerakan sosial Profetik.  

Selain dari pada organisasi Islam Muhammadiyah, bagi penulis adalah hal yang varian di mana hanya terletak pada perbendaan paham teologis yang sama sama menginginkan keramahan Islam dan membawa keadaan dalam nuansa Baldatun Thayibatun warabun Ghafur. Karena pada hakikatnya semuanya adalah gerakan organisasi Islam yang sama sama berangkat dari niat mengembalikan kejayaan Islam di Nusantara.  Lain dari pada itu, jika melihat konsepsi manusia dalam agama Islam tak lain adalah hal yang berbeda jika kita padankan dengan konsepsi manusia menurut ilmu sosial sekuler atau barat(konteks sebelum era kebangkitan Islam di Nusantara). Khalifatullah adalah konsep dan posisi manusia di muka bumi, dalam arti hal ini adalah menjadi wakil Allah, yang mempunyai tugas dalam wilayah khilaffah, yang juga dibelaki akal untuk digunakan dalam hidup dan berkehidupan dalam tatanan sosial. Kesadaran manusia sebagai khaliffatullah-lah yang juga bagi penulis menjadi salah satu faktor datangnya kebangkitan Islam di Nusantara. Jika kita melihat Kuntowijoyo dalam bukunya “ Islam Sebagai Ilmu” Umat Islam dapat bangkit jika sadar dan mampu merespon islamisasi pengetahuan yang telah lama mengungkung manusia(berawal dari budaya hinduisasi) di Nusantara. Islamisasi pengetahuan juga tak lain juga respon terhadap ilmu sekuler barat, yang mulanya dipelopori pada zaman pencerahan atau renaisans, yang melahirkan masalah baru yakni dehumanisasi, dehumanisasi menjalar hingga ke timur, Nusantara mengalaminya seiring ekspansi ideologi imperialisme, kapitalisme dan globalisasi. Maka dari itu thesis dari pada Kuntowijoyo adalah perlunya pengilmuan Islam, untuk merespon masalah tersebut, pengilmuan yang mempunyai ghiroh Islam yang membawapada pembebasan dari ketertindasan dan kebebasan dalam ekspresi berpikir, yang dalam penjelasan satu diantaranya Kuntowijoyo memaparkan gerak dari teks ke konteks, sebagaimana Islam mampu mencari dan menjadi landasan bergerak untuk membaca dan menyelesaikan masalah sosial hari ini. 

Tawaran dan Simpulan ;

IMM Sebagai Gerakan Sosial Profetik

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) adalah organisasi otonom persyarikatan Muhammadiyah, IMM adalah wadah bagi para kader muda Muhammadiyah ditataran mahasiswa dan dalam kancah Universitas. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah atau yang akrab disapa IMM mempunyai tiga kompetensi dasar dalam ranah geraknya. Pertama, kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah mempunyai pengetahuan keagamaan ssebagai basis dan landasan kepribadian. Kedua, kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah mempunyai ciri khas dan tolak ukur keilmuan, untuk dapat membaca dan mengkaji realitas sosial yang terjadi. Ketiga, kader Ikatan Mahasiwa Muhammadiyah dapat mengambil langkah taktis dalam ranah kemahasiswaan maupun di tataran masyarakat dan kota. Dengan ketiga kompetensi dasar diatas. Diharapkan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah juga dapat menjadi gerakan sosial profetik. 
Profetik berasal dari prophet yang berarti nabi. Kata profetik juga menjadi icon dalam perjuangan pembebasan(Sani 2011, 40). Istilah profetik sendiri dilekatkan kepada mereka yang sadar dan kritis akan realita sosial, dan juga mengindakan unsur-unsurnya dengan melakukan humanisasi, liberasi dan dijiwai dengan transendensi. Ilmu profetik sendiri dalam diskursus pewarisnya Kuntowijoyo tidak lain adalah tafsir dari surat Ali Imran Ayat 110 “kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada tuhan”. Pesan yang terkandung dari ayat diatas memberikan semangat etika profetik sebagai sarana transformasi sosial. Sebagaimana keterlibatan manusia dalam sejarah untuk merubah sejarah yang menindas menjadi berkeadilan tanpa penindasan( Sani 2011, 43,44). Dalam hal ini IMM dapat dikatakan sebagai gerakan dan kelompok terorganisir seperti apa yang penulis paparkan diatas, untuk meakukan pendidikan politk, dan melakukan pengawalan atas pembangunan yang tidak memihak kepada rakyat jelata ataupun proletar. Secara sosiologis gerakan profetik dalam membangun gerakan aktivisme terorganisir untuk mengupayakan perlawanan terhadap pembangunan dunia ketiga terbagi menjadi tiga macam. Pertama, merupakan respon terhadap realitas makro yang menyebabkan dehumanisasi. Kedua, respon diri (Internal) IMM yang membutuhkan paradigma gerakan dalam menyikapi realitas sosial. Ketiga, respon terhadap amal usaha Muhammadiyah yang terjebak dalam ritualitas, birokratis serta pragmatisme(Sani 2011, 44). Dengan berdasarkan tiga macam gerakan profetik diatas, IMM mampu membaca realitas makro maupun kondisi sosial yang ada, dan dapat merubahnya dan melakukan transformasi sosial untuk menciptakan tatanan struktur sosial yang adil dan rezim politik yang mensejahterakan. Ilmu sosial profetik ( Gerakan sosial profetik) secara teoritis mempunyai tiga pilar dalam ranah geraknya serta dalam kaidah etika profetik yaitu; Humanisasi, liberasi, dan transendensi. Humanisasi, Intelektual profetik (Gerakan sosial profeik) mempunyai kewajiban atas tafsir dan makna dari surat Ali Imran ayat 110, yaitu menganjurkan kepada kebaikan dan menegakan kebenaran. Dalam diskursus demokrasi dalam pemerintahan Indonesia (Kota Yogyakarta) kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah wajib melakukan oposisi kepada sistem politik, untuk meluruskan dan memperjuangkan hak-hak masyarakat sipil ditengah padatnya mitos pembangunan yang hanya berpihak bagi segelintir para pemodal. Liberasi, mempunyai makna melarang atau mencegah segala tindakan dan perbuatan kejahatan. Membebaskan manusia yang termajinalkan oleh kebijakan yang menindas, 
membebaskan manusia dari kemiskinan, kekerasan, dominasi dan eksploitasi. Maka dari itu Ikatan Mahaiswa Muhammadiyah dikatakan juga sebagai gerakan sosial yang dapat memihak kepada rakyat-rakyat kecil dari para kelas elit dan kebjakan berbau kapitalisme dan neoliberalisme. Transendensi, transendensi adalah gagasan ini merupakan jiwa dalam proses humanisasi dan liberasi. Proses memanusiakan manusia dan melakukan proses pembebasan merupakan sarana untuk kembali kepada sang pencipta, tuhan.(Sani 2011, 51). Paradox pembangunan di dunia ketiga memang sangat rumit dan pragmatis, hal itu juga karena kondisi sosial, ekonomi, budaya, politik yang ada pada era nya. Dewasa ini kota Yogyakarta semakin sesak karena pembangunan fisik, disisi lain kebijakan rancangan pembangunan jangka menengah kota Yogyakatra adalah menjadikan DIY sebagai pusat pasar pariwisata, budaya dan kota pendidikan. Lantas dengan adanya realita dan masalah yang ada saat ini, rakyat Yogyakarta menerima imbas dari produk kebijakan neoliberalisme, seperti jalan raya yang sesak dan macet, tata ruang yang semrawut, sumber daya alam yang terkuras.. Lalu kepada siapakah rakyat jelata dan kaum proletar berpihak ?. sebuah pertanyaan yang miris dan sinis. Yang dapat dijawab dengan para penerus bangsa serta masyarakat sipil dan terorganisir yang kiat melakukan aktivisme dan perlawanan pada mitos pembangunan. 

Tulisan yang jelek saja belum ini digunkan untuk mengikuti Darul Arqam Madya PC IMM AR. Fakhruddin tahun 2017



Daftar Pustaka.

Sani, Abdul.2011. Manifesto Gerakan Intelektual Profetik.Yogyakarta: Samudera Biru. Nashir, Haedar.2011. Gerakan Pembaharuan Muhammadiyah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah Latief, Hilman. 2017. Post Puritanisme. Yogyakarta: LP3M Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Bagir. Haedar. 2017. Islam Tuhan Islam Manusia. Bandung: Mizan. Kuntowijoyo.2006.Islam Sebagai Ilmu: Tiara Wacana

Comments

Popular posts from this blog

Dibuang Sayang 3

Tadabur Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo Oleh   : Rendi Eko Budi S / Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi UMY 2014 Menilik sekilas perkembangan ilmu pengetahuan dalam sejarah, dapat kita bagi berdasarkan periodesasi filsafat, yang biasanya sering dimulai dari zaman Yunani kuno, dalam kurun waktu 624 – 370 SM. Dalam kurun waktu di tahun tersebut berkembanglah pengetahuan dan keyakinan yang bermula dari kepercayaan mitologi dan dewa dewa, serta pandangan sentral akan asal muasal alam raya, atau dapat juga disebut dengan kosmosentrisme. Beranjak dari pelbagai mitologi yunani, hadirlah para filosof zaman Yunani kuno yang dapat disebut juga filosof pra Socrates: Filsafat Alam, banyak filosof yang lahir di zaman ini seperti Thales, Phytagoras, Heraklitus, Demokritus dan masih banyak lagi. Para filosof itu mencetuskan buah pikiranya, dengan seri diskursus kosmosentris melalui berbagai cara memperolehnya (epistimologi) baik secara empiris, rasional maupun intuisi, yang selanjutnya buah dar...

Kesunyian Übermensch om berkumis

Gambar berasal  di sini Bagiku, dalam hal pendiasporaan sangatlah dibutuhkan kekuatan "organik" yang berangkat dari akar rumput, maka dari itu sangatlah perlu kita meluaskan pandangan dan pengetahuan, "mekanik" akan selalu menjadi patronya untuk mencapai suatu etikat kebersamaan dan kebijaksanaan. kekuatan organik yang dipupuk sejak awal, dengan penuh kasih dan perenungan pastilah sangat menghindari  "itik se attelor, ajam se ngeremme" .  kekuatan itu akan selalu diharapkan semua umatnya. karena lahir untuk mengasihi semua umatnya, dan dimiliki oleh bersama dalam satu ikatan kebersamaan.(Rendi)

Peradaban jogja

Oleh   : Rendi Eko Budi S / komfak fisipol umy Jogja   kota menawan bagi para pelajar dan wisatawan Jogja menyimpan genangan cakrawala ilmu bagi setiap insan Jogja punya seribu satu cerita tentang problematika kehidupan                 Disana, terlahir cendikiawan abadi dan berpendidikan                 Bersama kisah pilu merebut kemerdekaan Jogja punya cerita cinta dengan pelancong kehidupan Cinta, budaya, agama, warna dan angkringan                 Kini, jogja ramai ringkih dan rentan                 Ramai, gedung pencakar yang mengusik nostalgia angkringan                ...