Di Kota Kendari yang semoga tidak ada aral, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah akan melangsungkan Muktamarnya ke-19 pada tanggal 21 – 23 Oktober 2021, Dengan Mengusung Tema “Merayakan Kebhinekaan”. Untuk menyongsong hajat besar itu, sebagai kader saya mempunyai harapan yang cukup besar terhadap keberlangsungan pergerakan IMM di masa yang datang, dengan catatan pinggir ini, saya mengucapkan selamat bermuktamar bagi seluruh kader IMM.
Sudah Tidak Bisa Ditawar: IMM Itu Sebagai Gerakan Intelektual
Jika melihat kemabali tujuan IMM, Tercantum pada Anggaran Dasar (AD) IMM dalam Bab 11 pasal 6 bahwa IMM memiliki tujuan: mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berahlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah. Pemahaman sederhana penulis atas tujuan IMM tersebut. Pertama, melalui IMM besar harapan untuk dapat lahir sosok profil kader ikatan yang mempunyai intelektualitas yang kuat, mempunyai kareakter berpikir rasional serta ilmiah, term intelektual di sini sejalan dengan term akademisi Islam dalam redaksi lengkap tujuan IMM, atau jika dirasa penggunaan term intektual terlalu dekat dengan paradigma global, term cendekiawan muslim penulis rasa pantas untuk disematkan. Kedua, seluruh upaya dalam tujuan IMM dan gerakanya dimaksudkan untuk mendukung gerakan Muhammadiyah pada lokus keilmuan.
Dalam status sosialnya, kader IMM merupakan individu yang berilmu, ditandai dengan berkesempatan menempuh pendidikan tinggi. Atas itu istilah intelektual melekat dalam pribadi kader IMM. Namun dengan predikat tersebut, ada harapan atau tujuan dari sosok intelektual. Pemikir hebat pernah memberikan nasehat untuk sosok intelektual, seperti Antonio Gramsci yang berpandangan sosok intelektual haruslah memiliki prinsip yang organik, yang artinya mempunyai dasar keberpihakan dalam menggunakan ilmunya untuk hal kebaikan, seperti bekerja untuk kemanusiaan, dan kesetaraan.
Seorang pemikir muslim Ali Syariati juga pernah berujujar, bahwa setiap individu haruslah berupaya menjadi yang tercerahkan, ia menyebutnya sebagai “Raushan Fikr” yaitu menusia yang tercerahkan. Istilah Raushan Fikr dipakai Ali Syariati sebagi simbol semangat umat muslim untuk keluar dari ketertinggalan, keterpurukan, baik secara materi, ilmu dan hegemoni penjajahan politik.
Sosok seorang kader IMM: Halim Sani, menyampaikan gagasanya melalui buku: Manifesto Gerakan Intelektual Profetik. Ini merupakan buku yang akrab dibaca oleh kalangan kader IMM selepas diterbitkanya, intisari yang ingin disampaikan Halim Sani adalah perlunya ilmu sosial profetik atau ISP, menjadi paradigma IMM untuk bergerak dalam lokus keagamaan, keilmuan dan kemanusiaan.
Halim Sani dalam buku tersebut meminjam pemikiran ISP oleh Kuntowijoyo, penggagas ilmu sosial profetik, yang berawal dari tadaburnya pada surat Ali Imran ayat 110. Dari surat tersebut diturunkan menjadi tiga bagian oleh Kuntowijoyo yakni gerakan ilmu sosial profetik yang mempunyai tiga unsur. Pertama, humanisasi; upaya kerja kemanusiaan dalam bahas sederhana penulis saling tolong menolong pada multiaspek. Kedua, liberasi, pembebasan, yang mempunyai sasaran terbebas dari sistem kekuasaan politik yang diskriminatif yang dapat berimbas pada kehidupan sosial, dan ilmu pengetahuan yang materialistik. Ketiga, transendensi unsur keyakinan bahwa tindakan manusia kepada sesamanya dalam melakukan humanisasi dan liberasi adalah semata ditujukan kepada ajaran agama atau Allah.
Kali lain, dari uraian di atas. sekiranya perlu kepemimpinan IMM di masa yang akan datang berkeyakinan untuk benar benar mengusahakan tebentuknya akademisi atau intelektual dengan memaksimalkan potensi kadernya.
Membumikan Prinsip Hidup Moderat Untuk Melawan Penyebaran Ekstrimisme
Data yang dihimpun dari berbagai literatur, sejak 2009 terdapat setidaknya empat insiden teror bom dalam skala besar. Atas itu setidaknya Indonesia sedang tidak aman dari ancaman terorisme atau radikalisme. Sedangkan, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, berujar hasil survei pada tahun 2017, sebanyak 39 persen dari mahasiswa di 15 provinsi terindikasi tertarik pada paham radikal. Hal itu menjadi penanda penyebaran radikalisme sudah masuk dalam gerbang perguruan tinggi.
Haidah Bagir (2017) dalam bukunya Islam Tuhan Islam Manusia menerangkan ada tiga hal dibalik seseorang melakukan aksi terorisme. Pertama, ideologi yang membenarkan jika diikuti. Kedua, adanya kelompok yang memfasilitasi untuk menjalankan ideologi dan berbagai model penerapannya. Ketiga, individu yang termarjinalkan baik dalam kehidupan sosial maupun finansial. Dengan itu dapat dimaknai Tindakan terorisme selain mempunyai konstruksi ideologi juga membawa tujuan politis dibaliknya.
Berkaitan dari uraian di atas, sekiranya penting untuk IMM masuk dalam pencegahan paham radikalisme di ranah kampus atau perguruan tinggi, dengan identitas kader yang dimiliki harapanya IMM mampu membumikan prinsip hidup yang moderat atau tengahan. Untuk menjauhi paham radikalisme yang berujung pada tindakan ekstrem yang banyak merugikan negara.
IMM: Adaptasi Model Gerakan Digital
Hari ini dunia telah melewati gerbang kehidupan digital, lini kehidupan telah bertransformasi secara digital, termasuk organisasi pergerakan mahasiswa. Dalam konteks sosial pengalaman aktivisme digital telah banyak terjadi dan telah menemui kesuksesan dalam tujuanya, begitu juga di Indonesia, praktik aktivisme atau protes melalui pendekatan digital mulai banyak digencarkan. Maka IMM perlu merumuskan transformasi dan adaptasi model gerakan secara digital tanpa menghilangkan ruh dan nilai identitasnya.
Meredith (2014) dalam New Media and New Activism mendefinisikan aktivisme digital atau aktivisme media sebaga upaya dan taktik untuk memobilisasi massa dalam upaya perlawanan terhadap elite kekuasan.. Contoh lain, di Indonesia pada tahun 2019 terjadi demonstrasi oleh mahasiswa, yang dinamakan aksi Gejayan Memanggil. Akitivisme oleh mahasiswa itu muncul untuk merespon serta menolak kebijakan politik nasional di Indonesia, aksi itu juga menjadi trend di Twitter Indonesia dengan hastag #gejayanmenggil, fenomena tersebut menjadi salah satu aksi mahasiswa dengan pendekatan protes digital.
Selanjutya, Wiliam A. Gamson dalam artikelnya Movements and Media as Interacting System, menjelasakan bawah aktivisme digital dapat membuat publik simpati. Ini dikarenakan karakter aktivisme digital yang cepat meluas menembus batas sekat negara. Satu gerakan aktivisme digital dapat membuat simpati seluruh warga dunia dengan bantuan koneksi dan jaringan internet. dengan rangkaian penejelasan penulis di atas, langkah terdekat IMM kedepanya adalah membuat gerakan digital dan membangung sistem media resmi yang terorganisir, sehingga IMM mampu tampil menjadi “bumper” intelektual di ruang publik digital dan nyata.
Rendi Eko Budi S
(Sekretaris Bidang Hikmah dan Kebijakan Publik DPD IMM Lampung, 2019 - Sekarang)

Aku padamu
ReplyDelete