Skip to main content

Peradaban jogja




Oleh  : Rendi Eko Budi S / komfak fisipol umy

Jogja  kota menawan bagi para pelajar dan wisatawan
Jogja menyimpan genangan cakrawala ilmu bagi setiap insan
Jogja punya seribu satu cerita tentang problematika kehidupan
                Disana, terlahir cendikiawan abadi dan berpendidikan
                Bersama kisah pilu merebut kemerdekaan
Jogja punya cerita cinta dengan pelancong kehidupan
Cinta, budaya, agama, warna dan angkringan
                Kini, jogja ramai ringkih dan rentan
                Ramai, gedung pencakar yang mengusik nostalgia angkringan
                Ringkih akan kebijakan yang bukan bukan
                Bukan untuk kami, kami yang tak punya ini itu di kehidupan
Oh jogja, yang kini rentan
Rentan akan tangan yang bergerak karena uang kapitalisan
Cerita sejarah akan pembangunan yang mematikan kota peradaban,
Dari seluk beluk kemerdekaan
                Digantung, rakyat berlindung, dibawah tugu yang megah dibawah awan
                Hujan dan mendung, yang menjadi tangis
Tangis tanpa air mata
Tanpa air mata,
Tanpa air mata, dibwah kendali hitam dan putih catur dalam permainan





Comments

Popular posts from this blog

Dibuang Sayang 3

Tadabur Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo Oleh   : Rendi Eko Budi S / Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi UMY 2014 Menilik sekilas perkembangan ilmu pengetahuan dalam sejarah, dapat kita bagi berdasarkan periodesasi filsafat, yang biasanya sering dimulai dari zaman Yunani kuno, dalam kurun waktu 624 – 370 SM. Dalam kurun waktu di tahun tersebut berkembanglah pengetahuan dan keyakinan yang bermula dari kepercayaan mitologi dan dewa dewa, serta pandangan sentral akan asal muasal alam raya, atau dapat juga disebut dengan kosmosentrisme. Beranjak dari pelbagai mitologi yunani, hadirlah para filosof zaman Yunani kuno yang dapat disebut juga filosof pra Socrates: Filsafat Alam, banyak filosof yang lahir di zaman ini seperti Thales, Phytagoras, Heraklitus, Demokritus dan masih banyak lagi. Para filosof itu mencetuskan buah pikiranya, dengan seri diskursus kosmosentris melalui berbagai cara memperolehnya (epistimologi) baik secara empiris, rasional maupun intuisi, yang selanjutnya buah dar...

Kesunyian Übermensch om berkumis

Gambar berasal  di sini Bagiku, dalam hal pendiasporaan sangatlah dibutuhkan kekuatan "organik" yang berangkat dari akar rumput, maka dari itu sangatlah perlu kita meluaskan pandangan dan pengetahuan, "mekanik" akan selalu menjadi patronya untuk mencapai suatu etikat kebersamaan dan kebijaksanaan. kekuatan organik yang dipupuk sejak awal, dengan penuh kasih dan perenungan pastilah sangat menghindari  "itik se attelor, ajam se ngeremme" .  kekuatan itu akan selalu diharapkan semua umatnya. karena lahir untuk mengasihi semua umatnya, dan dimiliki oleh bersama dalam satu ikatan kebersamaan.(Rendi)