Bercengkrama
mengenai sosok Ali syariati, tentu tidak bias dilepaskan dari zaman pembaharuan
Islam. Hal ini dimaksud karena Ali Syariati ialah sosok yang berperan dalam memperjuangkan
serta membawa Islam pada ranah publik. Sekilas, pembaharuan dalam dunia Islam
dicanangkan oleh Jamaluddin Al Afghani, Rasyid Ridho, Hassan Hannafi, Fazlur
Rahman dan sederet nama lainya. Pembaharuan yang dimaksud adalah mengenai
pemahaman Islam secara kontekstual, atau jika meminjam istilah Kuntowijoyo
yakni Pengilmuan Islam, sebagai paradigma interpretasi untuk aksi.
Ali Syariati lahir(1930/50-an) dari
keluarga yang besar, orang tuanya seorang pengajar atau pendidik. Ali Syariati
yang selanjutnya dipanggil Ali juga memperoleh kesempatan bersekolah di
Fakultas Sastra Universitas Sorbone, di sana Ali bertemu para pemikir social
hebat, seperti Jean Paul Sarte, Che Gua Vara. Selepasnya Ali lebih konsen
berprofesi sebagi seorang Dosen, gaya mengajarnya sangat disukai para
mahasiswanya, karena metodenya yang mengedepankan analisis, imajinatif dan
kontekstual.
Kepribadian
Ali yang sangat Islami ditambah terpaan lingkungan akademis yang inklusif Ali
tumbuh menjadi sosok yang moderat, mampu mengawinkan nilai Islam serta meminjam
ilmu pengetahuan barat sebagai alat analisisnya, dilain sisi Ali juga seorang
Marxian sejati.
Ali
mempunyai pengaruh besar pada bangsa Iran. Dibawah kepemimpinan nasional Syah
Pahlevi, yang dipenuhi denga kediktatoran serta menjadi rezim kepanjangtanganan
imperialism barat, yang menjadikan
tatanan social iran menjadi lemah dan membelah menjadi belahan status quo, kaya
dan miskin.kala itu, sosok Ali mempunya pemikiran yang mampu disimak oleh para
pemuda iran tak lama setelah Ali meninggal dibunuh oleh tentara SAVAK, karena
terus menggalang gerakan oposisi revolusioner diIran. Alhasil gerakan
revolusioner di Iran yang mampu menumbangkan rezim Syah didenungkan berkat sang
pemikir muslim Ali syariati.
Ali
syariati melihat, manusia sebagai ciptaan Allah yang paling utuh dan sempurna,
dirinya menyebutnya gabungan dari Basyar dan Insan yang menjadikan Manusia
dapat menjadi pemimpin dirinya pribadi mauun orang lain. Secara kontekstual Ali
banyak mengkritik para Uama yang hanya mengajarkan cara menjadi dan hidup yang
sholeh maupun sholehah, ditengah carut marutnya kondisi bangsa Iran akibat
kebijakan politik yang dicampurtangani oleh penjajahan barat. Hingga Ali
menghadirkan konsep Rausyn Fikr; manusia yang tercerahkan, manusia yang dibekali
Allah Akah dan HAti yang mempunyai keberpihakan pada pihak pihak yang ditindas.
Dan hingga hari ini ghiroh perjuangan Ali sering disebut sebagai semangat
teologi pembebasan atau revolusioner politik keagamaan.
*disampaikan
saat diskusi menjalang berbuka puasa, acara PC IMM Pringsewu. 2019

Comments
Post a Comment