Skip to main content

#miladIMM55 ; Menjadi Kader IMM di Jogja

"ayo kawanku, di mana kawanku ?"
"Hidup Mahasiswa !"
"Rakjat adalah koentji !"
"Runtuhkan tirani !"
"Lawan kapitalisme yang sudah tersemai di lingkungan kita !"


"Pejabat pemerintah adalah antek antek asing !, Mereka wujud lain dari neolib"
Kawan kawan, kita nyanyikan lagu bersama ," kepada para. Mahasiswa yang meeindukan kemenangan, kepada rakyat yang kebingungan dipersimpangan jalan


Di atas adalah pekikan kader gerakan mshasiswa, selain presentasi tugas kuliah di kelas, atau memang sengaja. Membulatkan tekad untuk meninggalkan jadwal kuliah hari itu, untuk mengikuti aksi turun ke jalan, demonstrasi !. Alasanya mereka tak mau terpenjara dalam tembok tembok kelas, kelas bagi mereka sama halnya dengan bank bank konvensional, yang jauh dari penderitaan rakyat.


Ujaran keras yang mereka lontarkan di bawah terik matahari, dan pantulan panas marka jalan, tentu punya latar belakang yang sangat ngideologis. Lha gimana, selepas mereka melewati hari sakral demi menyandang gelar kader organ gerakan mshasiswa, kehidupanya sangat berubah setengah bundarnya jam dinding.


Menjadi ngaktivis juga harus prihatin, lha piye. Setengah kiriman uang dari orang tua yang disuruh ngirit itu, masih saja dibagi setengahnya untuk membeli judul buku atas saran seniornya. Demi mengetahui gagasan-gagasan tokoh repolucioner macam Tjokroaminoto sang pejuang ekonomi berbasis koperasi, membeli buku setebal bantal kusut bernama das kapital untuk mengerti kondisi masyarakat agraris yang diperas tenaganya oleh pemilik modal, membeli edisi buku pilsapat agar dapat berpikir jeruuu.


Hingga berdialog dengan agamawan ysng membumi seperti Kuntowijoyo, Syariati, ma Jamaludin dan kawan kawan seruntutnya. Yakinlah uang satu bulan itu akan habis sebelum akhir bulan tiba. Hiya hiya hiya
Duuuh, memang mahal untuk bisa mengakses ilmu pengetahuan, namun kalau sudah didasari dengan sebab musabab cinta, pinjam buku ke kawanoun lupa dikembalikan.

Akhirnya aku cuma mau bilang, selamat untuk umur yang ke 55 IMM, semoga tetap istiqomah dalam perjuangan. Tabik.

Comments

Popular posts from this blog

Dibuang Sayang 3

Tadabur Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo Oleh   : Rendi Eko Budi S / Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi UMY 2014 Menilik sekilas perkembangan ilmu pengetahuan dalam sejarah, dapat kita bagi berdasarkan periodesasi filsafat, yang biasanya sering dimulai dari zaman Yunani kuno, dalam kurun waktu 624 – 370 SM. Dalam kurun waktu di tahun tersebut berkembanglah pengetahuan dan keyakinan yang bermula dari kepercayaan mitologi dan dewa dewa, serta pandangan sentral akan asal muasal alam raya, atau dapat juga disebut dengan kosmosentrisme. Beranjak dari pelbagai mitologi yunani, hadirlah para filosof zaman Yunani kuno yang dapat disebut juga filosof pra Socrates: Filsafat Alam, banyak filosof yang lahir di zaman ini seperti Thales, Phytagoras, Heraklitus, Demokritus dan masih banyak lagi. Para filosof itu mencetuskan buah pikiranya, dengan seri diskursus kosmosentris melalui berbagai cara memperolehnya (epistimologi) baik secara empiris, rasional maupun intuisi, yang selanjutnya buah dar...

Kesunyian Übermensch om berkumis

Gambar berasal  di sini Bagiku, dalam hal pendiasporaan sangatlah dibutuhkan kekuatan "organik" yang berangkat dari akar rumput, maka dari itu sangatlah perlu kita meluaskan pandangan dan pengetahuan, "mekanik" akan selalu menjadi patronya untuk mencapai suatu etikat kebersamaan dan kebijaksanaan. kekuatan organik yang dipupuk sejak awal, dengan penuh kasih dan perenungan pastilah sangat menghindari  "itik se attelor, ajam se ngeremme" .  kekuatan itu akan selalu diharapkan semua umatnya. karena lahir untuk mengasihi semua umatnya, dan dimiliki oleh bersama dalam satu ikatan kebersamaan.(Rendi)

Peradaban jogja

Oleh   : Rendi Eko Budi S / komfak fisipol umy Jogja   kota menawan bagi para pelajar dan wisatawan Jogja menyimpan genangan cakrawala ilmu bagi setiap insan Jogja punya seribu satu cerita tentang problematika kehidupan                 Disana, terlahir cendikiawan abadi dan berpendidikan                 Bersama kisah pilu merebut kemerdekaan Jogja punya cerita cinta dengan pelancong kehidupan Cinta, budaya, agama, warna dan angkringan                 Kini, jogja ramai ringkih dan rentan                 Ramai, gedung pencakar yang mengusik nostalgia angkringan                ...