"ayo kawanku, di mana kawanku ?"
"Hidup Mahasiswa !"
"Rakjat adalah koentji !"
"Runtuhkan tirani !"
"Lawan kapitalisme yang sudah tersemai di lingkungan kita !"
Di atas adalah pekikan kader gerakan mshasiswa, selain presentasi tugas kuliah di kelas, atau memang sengaja. Membulatkan tekad untuk meninggalkan jadwal kuliah hari itu, untuk mengikuti aksi turun ke jalan, demonstrasi !. Alasanya mereka tak mau terpenjara dalam tembok tembok kelas, kelas bagi mereka sama halnya dengan bank bank konvensional, yang jauh dari penderitaan rakyat.
Ujaran keras yang mereka lontarkan di bawah terik matahari, dan pantulan panas marka jalan, tentu punya latar belakang yang sangat ngideologis. Lha gimana, selepas mereka melewati hari sakral demi menyandang gelar kader organ gerakan mshasiswa, kehidupanya sangat berubah setengah bundarnya jam dinding.
Menjadi ngaktivis juga harus prihatin, lha piye. Setengah kiriman uang dari orang tua yang disuruh ngirit itu, masih saja dibagi setengahnya untuk membeli judul buku atas saran seniornya. Demi mengetahui gagasan-gagasan tokoh repolucioner macam Tjokroaminoto sang pejuang ekonomi berbasis koperasi, membeli buku setebal bantal kusut bernama das kapital untuk mengerti kondisi masyarakat agraris yang diperas tenaganya oleh pemilik modal, membeli edisi buku pilsapat agar dapat berpikir jeruuu.
Hingga berdialog dengan agamawan ysng membumi seperti Kuntowijoyo, Syariati, ma Jamaludin dan kawan kawan seruntutnya. Yakinlah uang satu bulan itu akan habis sebelum akhir bulan tiba. Hiya hiya hiya
Duuuh, memang mahal untuk bisa mengakses ilmu pengetahuan, namun kalau sudah didasari dengan sebab musabab cinta, pinjam buku ke kawanoun lupa dikembalikan.
Akhirnya aku cuma mau bilang, selamat untuk umur yang ke 55 IMM, semoga tetap istiqomah dalam perjuangan. Tabik.
"Hidup Mahasiswa !"
"Rakjat adalah koentji !"
"Runtuhkan tirani !"
"Lawan kapitalisme yang sudah tersemai di lingkungan kita !"
"Pejabat pemerintah adalah antek antek asing !, Mereka wujud lain dari neolib"
Kawan kawan, kita nyanyikan lagu bersama ," kepada para. Mahasiswa yang meeindukan kemenangan, kepada rakyat yang kebingungan dipersimpangan jalan
Di atas adalah pekikan kader gerakan mshasiswa, selain presentasi tugas kuliah di kelas, atau memang sengaja. Membulatkan tekad untuk meninggalkan jadwal kuliah hari itu, untuk mengikuti aksi turun ke jalan, demonstrasi !. Alasanya mereka tak mau terpenjara dalam tembok tembok kelas, kelas bagi mereka sama halnya dengan bank bank konvensional, yang jauh dari penderitaan rakyat.
Ujaran keras yang mereka lontarkan di bawah terik matahari, dan pantulan panas marka jalan, tentu punya latar belakang yang sangat ngideologis. Lha gimana, selepas mereka melewati hari sakral demi menyandang gelar kader organ gerakan mshasiswa, kehidupanya sangat berubah setengah bundarnya jam dinding.
Menjadi ngaktivis juga harus prihatin, lha piye. Setengah kiriman uang dari orang tua yang disuruh ngirit itu, masih saja dibagi setengahnya untuk membeli judul buku atas saran seniornya. Demi mengetahui gagasan-gagasan tokoh repolucioner macam Tjokroaminoto sang pejuang ekonomi berbasis koperasi, membeli buku setebal bantal kusut bernama das kapital untuk mengerti kondisi masyarakat agraris yang diperas tenaganya oleh pemilik modal, membeli edisi buku pilsapat agar dapat berpikir jeruuu.
Duuuh, memang mahal untuk bisa mengakses ilmu pengetahuan, namun kalau sudah didasari dengan sebab musabab cinta, pinjam buku ke kawanoun lupa dikembalikan.
Akhirnya aku cuma mau bilang, selamat untuk umur yang ke 55 IMM, semoga tetap istiqomah dalam perjuangan. Tabik.





Comments
Post a Comment