Skip to main content

Keberhasilan Pelaku Terorisme

Meneriwa warta dari berbagai media daring terkait terjadinya peristiwa serangan terorisme siang tadi pada waktu Sholat Jumat di Masjid Al-Noor, Christchurch Selandia Baru. Saya teringat filsuf komunikasi marshal mcLuhan, ia mengatakan "Without communication, terrorism would not exist".



Saya berduka atas peristiwa itu, yang menewaskan lebih dari 40 muslim tewas ketika sedang beribadah, sadis. Seranganya bak demo game pubg yang mengejar "chicken dinner". Ini merupakan suatu ancaman bagi kedamaian kemanusiaan.

Apapun ideologi serta struktur dibalik pelakunya, saya rasa itu pada akhirnya adalah keyakinan atau paham "maut"(nirperdamaian dan nirkemanusiaan).

Lepas dari itu semua, mengacu pada kutipan marshal mcLuhan di atas, dapat diartikan serangan teror kepada 40 lebih muslim yang sedang beribadah telah "berhasil". Mengapa berhasil ? Ada tiga alasan, terkait epistemologi branding pemain terorisme, sebagai berikut ;


Pertama, ada relasi dialektik mutualisme antara media dan terorisme, keduanya saling berkaitan. Pelaku teror akan menyatakan berhasil jika aksinya itu diberitakan media baik daring maupun konvensional, walaupun akhirnya pelaku tewas dan menuai banyak korban. Keberhasilan itu ditandai dengan massifikasi ketakutan yang tersebar sebab media memberitakanya.

Kedua, media dalam konteks pewartaan aksi terorisme di Selandia Baru, banyak mengambil sudut identitas korban(muslim), pelaku atau menghakimi aksi terorisme. Penilaian moral dari media tersebut pada akhirnya akan menghasilkan bias pemaknaan atas kasus tersebut, karena tidak ada edukasi yang dapat diperoleh dari nilai beritanya. Terlebih pada kasus serangan tempat ibadah di Selandia baru unggahan video saat beraksi menyebar sangat massif.



Ketiga, hadirnya media daring sangatlah cepat untuk mewartakan peristiwa terorisme, sehingga wartawan tidak punya waktu luas untuk menyeleksi isu, alhasil berita alakadarnya untuk mengejar kecepatan turunya berita. Dalam hal ini disiplin ilmu komunikasi menyebutnya dengan konstruksi berita tahap kedua, yang memanfaatkan jaringan nirkabel tanpa sekat, sehingga konstruksi berita dapat diterima untuk seluruh dunia.

Mari berdoa untuk para muslim yang menjadi korban.

Comments

Popular posts from this blog

Dibuang Sayang 3

Tadabur Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo Oleh   : Rendi Eko Budi S / Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi UMY 2014 Menilik sekilas perkembangan ilmu pengetahuan dalam sejarah, dapat kita bagi berdasarkan periodesasi filsafat, yang biasanya sering dimulai dari zaman Yunani kuno, dalam kurun waktu 624 – 370 SM. Dalam kurun waktu di tahun tersebut berkembanglah pengetahuan dan keyakinan yang bermula dari kepercayaan mitologi dan dewa dewa, serta pandangan sentral akan asal muasal alam raya, atau dapat juga disebut dengan kosmosentrisme. Beranjak dari pelbagai mitologi yunani, hadirlah para filosof zaman Yunani kuno yang dapat disebut juga filosof pra Socrates: Filsafat Alam, banyak filosof yang lahir di zaman ini seperti Thales, Phytagoras, Heraklitus, Demokritus dan masih banyak lagi. Para filosof itu mencetuskan buah pikiranya, dengan seri diskursus kosmosentris melalui berbagai cara memperolehnya (epistimologi) baik secara empiris, rasional maupun intuisi, yang selanjutnya buah dar...

Kesunyian Übermensch om berkumis

Gambar berasal  di sini Bagiku, dalam hal pendiasporaan sangatlah dibutuhkan kekuatan "organik" yang berangkat dari akar rumput, maka dari itu sangatlah perlu kita meluaskan pandangan dan pengetahuan, "mekanik" akan selalu menjadi patronya untuk mencapai suatu etikat kebersamaan dan kebijaksanaan. kekuatan organik yang dipupuk sejak awal, dengan penuh kasih dan perenungan pastilah sangat menghindari  "itik se attelor, ajam se ngeremme" .  kekuatan itu akan selalu diharapkan semua umatnya. karena lahir untuk mengasihi semua umatnya, dan dimiliki oleh bersama dalam satu ikatan kebersamaan.(Rendi)

Peradaban jogja

Oleh   : Rendi Eko Budi S / komfak fisipol umy Jogja   kota menawan bagi para pelajar dan wisatawan Jogja menyimpan genangan cakrawala ilmu bagi setiap insan Jogja punya seribu satu cerita tentang problematika kehidupan                 Disana, terlahir cendikiawan abadi dan berpendidikan                 Bersama kisah pilu merebut kemerdekaan Jogja punya cerita cinta dengan pelancong kehidupan Cinta, budaya, agama, warna dan angkringan                 Kini, jogja ramai ringkih dan rentan                 Ramai, gedung pencakar yang mengusik nostalgia angkringan                ...