Skip to main content

Media Sosial dan Ruang Gema


Terlepas dari informasi hoaks lebamnya wajah eyang Ratna Sarumpaet yang berkelindan di lini massa media sosial, tentu merawat kesehatan pikiran dengan mengendalikan informasi yang akan kita konsumsi sehari-hari, adalah hal baik untuk diketahui.

Berawal dari sifat dasar kehidupan sosial yang dialektik, dan menghasilkan asumsi dimana kehidupan bermasyarakat sangatlah bersifat sui generis, yang membawa kita pada penjelasan adanya dialektika konstruktivis antara kehidupan bermasyarakat dan manusia, keduanya erat berhubungan, sehingga dapat dipahami manusia tak lain merupakan produk masyarakat, begitupun sebaliknya masyarakat dapat membentuk pola kehidupan manusia(kebudayaan, adat istiadat, pengetahuan individu). Hal tersebut adalah fenomena sosiologis akan kerja konstruktivisme yang diuraikan lebih dalam lewat analogi proses tiga tahap simultan (eksternalisasi-obyektifikasi-internalisasi) konstruktivisme oleh Peter L Berger dan Thomas Luckman.

Meminjan konsep konstruktivisme di atas, rasanya masih relafan untuk dijadikan frame berpikir dalam melihat keramaian peristiwa yang ada di halaman media sosial hari ini. Menyoal media sosial tentunya haruslah dilekatkan dengan era digital yang kaya akan teknologi dan jaringan, sehingga kita mampu mengatur, mengendalikan informasi peristiwa mana saja yang akan kita konsumsi dan terjadi di seluruh sudut semesta dunia, dengan hanya menggunakan gawai yang kita miliki. Untuk hal ini Marshall McLuhan menyebutnya dengan "Global Village".

Menjadi suatu permasalahan bagi kita semua yang menjalani kehidupan "amfibi", eksis di dunia nyata bahkan maya. Adalah hal yang menarik juga untuk menilik bagaimana media sosial membentuk narasi pengetahuan kita hari ini dengan segala kontenya. Setidaknya kita kawula yang asyik memainkan media sosial dapat menerima dua kemungkinan. Pertama, stagnansi perputaran pengetahuan. Kedua, perluasan pengetahuan dengan jembatan jaringan media sosial sebagai akses.

Media massa adalah produk virtual, memungkinan kita untuk berinteraksi antar sesama. Facebook, Twitter, dan segenap-ganjil kawananya itu tentu mempunyai algoritma konten yang akan disuguhkan pada beranda akun kita setiap harinya. Namun disisi lain ternyata pengguna media sosial juga mampu untuk ikut andil dalam menentukan apa saja konten yang dapat dilihat dan dikonsumsi. Kontrol atas pemilihan konten yang kita kehendaki itu berupa filter personal akun, filter tersebutlah yang membawa kita dalam dua kemungkinan di atas, 

Untuk kemungkinan pertama beginilah sirkulasinya; semisal kita menghendaki berteman dengan berbagai macam akun dan sifatnya, seperti portal berita, media pop, akun timses politisi, akun kesehatan, dan tokoh publik yang dari semua relasi pertemanan itu memungkinkan pengguna medsos mengalami stagnansi pengetahuan, karena pada dasarnya ruang lingkup medsos adalah echo chamber(ruang gema). 

Fenomena ruang gema tersebut memungkinkan pengguna medsos mendapatkan informasi sesuai dengan yang dikehendaki, aktivitas ruang gema memungkinkan terjadi dengan adanya algoritma filter bubble, dimana konten informasi terbaru yang hadir di lini masa medsos tak jauh sifatnya dari yang kita kehendaki sebelumnya, yang pada akhirnya dapat membawa  pada lingkaran kebenaran menurut versi pengguna masing-masing. kebenaran tersebut tak lain hanya kesemuan belaka, karena dalam ruang gema medsos pengguna tak memungkinkan menjangkau kebenaran yang orisinil.

Dilain sisi, kemungkinan kedua dapat dicapai pengguna medsos yang sadar akan sifat kesemuan ruang maya. Menghadapi ruang gema dengan mengendalikan serta memilih informasi dari akun yang terpercaya, sehingga konsumsi informasi lebih berimbang dan memungkinkan terhindar dari kebenaran semu alias hoaks, dan dengan pengendalian pemilihan informasi secara berimbang, pengetahuan dapat datang lebih menyeluruh yang dapat menemani keseharian kita dalam bermedsos ria. (Rendi)

Gambar diambil di sini

Comments

Popular posts from this blog

Dibuang Sayang 3

Tadabur Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo Oleh   : Rendi Eko Budi S / Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi UMY 2014 Menilik sekilas perkembangan ilmu pengetahuan dalam sejarah, dapat kita bagi berdasarkan periodesasi filsafat, yang biasanya sering dimulai dari zaman Yunani kuno, dalam kurun waktu 624 – 370 SM. Dalam kurun waktu di tahun tersebut berkembanglah pengetahuan dan keyakinan yang bermula dari kepercayaan mitologi dan dewa dewa, serta pandangan sentral akan asal muasal alam raya, atau dapat juga disebut dengan kosmosentrisme. Beranjak dari pelbagai mitologi yunani, hadirlah para filosof zaman Yunani kuno yang dapat disebut juga filosof pra Socrates: Filsafat Alam, banyak filosof yang lahir di zaman ini seperti Thales, Phytagoras, Heraklitus, Demokritus dan masih banyak lagi. Para filosof itu mencetuskan buah pikiranya, dengan seri diskursus kosmosentris melalui berbagai cara memperolehnya (epistimologi) baik secara empiris, rasional maupun intuisi, yang selanjutnya buah dar...

Kesunyian Übermensch om berkumis

Gambar berasal  di sini Bagiku, dalam hal pendiasporaan sangatlah dibutuhkan kekuatan "organik" yang berangkat dari akar rumput, maka dari itu sangatlah perlu kita meluaskan pandangan dan pengetahuan, "mekanik" akan selalu menjadi patronya untuk mencapai suatu etikat kebersamaan dan kebijaksanaan. kekuatan organik yang dipupuk sejak awal, dengan penuh kasih dan perenungan pastilah sangat menghindari  "itik se attelor, ajam se ngeremme" .  kekuatan itu akan selalu diharapkan semua umatnya. karena lahir untuk mengasihi semua umatnya, dan dimiliki oleh bersama dalam satu ikatan kebersamaan.(Rendi)

Peradaban jogja

Oleh   : Rendi Eko Budi S / komfak fisipol umy Jogja   kota menawan bagi para pelajar dan wisatawan Jogja menyimpan genangan cakrawala ilmu bagi setiap insan Jogja punya seribu satu cerita tentang problematika kehidupan                 Disana, terlahir cendikiawan abadi dan berpendidikan                 Bersama kisah pilu merebut kemerdekaan Jogja punya cerita cinta dengan pelancong kehidupan Cinta, budaya, agama, warna dan angkringan                 Kini, jogja ramai ringkih dan rentan                 Ramai, gedung pencakar yang mengusik nostalgia angkringan                ...