Skip to main content

Cuit-Cuitan Menyoal : Gerakan Sosial


Cuit-Cuitan Menyoal : Gerakan Sosial[1]
Oleh : Rendi Eko Budi Setiawan[2]



Pemaknaan sederhana penulis tentang gerakan sosial merujuk pada kegiatan kerumunan atau lembaga dari masyarakat sipil yang mempunyai kepentingan bersama untuk menanggapi suatu;isu, kebijakan politik, penindasan, yang tidak berpihak kepada minoritas.  Posisi gerakan sosial berangkat dari akar rumput atau golongan kelas bawah maupun menengah yang mempunyai kesadaran nurani untuk membela minoritas.

Analog-analisis Marxian dan Gerakan Sosial Lama
            Menjadi tabiat yang harus diterima, kala era Renaisans memunculkan pengetahuan teknologi dan  industri serta melahirkan fenomena dehumanisasi, demikian menjadi pemantik lahirnya gerakan sosial klasik. Menyoal gerakan sosial klasik atau lama, selayaknya perlulah kita menyinggung tentang peralihan produktifitas kerja orang tradisional klasik di Eropa, dari kerja keterampilan tangan, kerja pertanian menuju pada produktifitas kerja industrial dengan menjadi buruh pabrik di bawah tekanan kerja yang ketat dalam rangka menghasilkan produk dan modal dalam keuntungan yang besar.
            Eropa dalam kapitalisme menampakan struktur masyarakat kapitalis, merujuk pada konsep struktur sosial yang diungkapkan oleh Marx terdapat hierarki tingkatan kelas sosial. Pertama, kaum proletariat yang dilekatkan dengan para pekerja yang mempunyai tenaga dan tidak mempunyai alat produksi yang dipaksa bekerja untuk pabrik-pabrik pencari keuntungan kapital. Kedua, kaum kapitalis yang mempunyai konsep dasar kapital atau modal yang dapat diproduksi disirkulasi menjadi modal atau keuntungan yang lebih besar lagi, kaum kapitalis yang mempunyai atas alat produksi dan membayar upah untuk kaum proletar yang dipekerjakanya secara eksploitasi dan paksa[3].
            Ketimpangan kelas dan status quo yang terjadi antara kaum kapitalis dan kaum proletarlah yang menjadi peletak dasar munculnya gerakan sosial klasik. Gagasan dan konsep marxisme atas ketimpangan kelas di era industi menjadi landasan dan pisau analisis sosial bagi penggerak gerakan sosial. Terlebih Marx dan Engels kala itu menerbitkan salah satu karya intelektualnya Communis Manifesto. Karya itu menjadi konsumsi yang dijajakan untuk mengawali pemberontakan atas ketimpangan sosial yang diakibatkan oleh industrialisasi, serta politisasi kaum kapitalis pada para pekerja.
Pemberontakan oleh gerakan sosial kala itu bersifat material, menentang praktik kapital dan eksploitasi serta merebut alat produksi agar dapat dimiliki secara kolektif atau komunal. Karena bagi penggerak gerakan sosial klasik atau marxian kala itu struktur ekonomi harus dimiliki dan diciptakan bersama dengan mengolah serta memiliki alat produksi secara komunal, sistem sosialisme. Namun karena hadirnya praktik kapitalisme dan industrialisasi tidak dapat dilepaskan terkait kebijakan politis negara. Alhasil gerakan sosial klasik mengalihkan goal pada terbentuknya negara komunis, dengan berdirinya partai komunis serta organisasi buruh yang mulai bergerak secara reformis-radikal.
Namun terlepas gerakan sosial klasik bergerak atas dasar kebutuhan material, gerakan ini adalah gerakan akar rumput yang bergerak dilandasi kepentingan bersama untuk keadilan tantanan sosial baru. Produk pemikiran filsafat Marx yang menjadi acuan bergerak adalah buah intelektual yang mempunyai nilai guna  ideologis bagi masyarakat Eropa bahkan dunia kala itu untuk membaca dan bersikap atas ketimpangan sosial.
Analog Sosio-politik Lahirnya Gerakan Sosial Baru
            Amerika Serikat dan Eropa(1955-1968) memasuki era setelah industrialisasi. Ekonomi pasca industrial telah menuai babak konflik sosial baru, platform atau tangan lain dari kapitalisme sebelumya. Munculnya gerakan sosial masyarakat sipil yang menuntut perdamaian, keseimbangan lingkungan, perlawanan atas otoritarianisme, serta feminisme. Gerakan sosial mulai dinamis dengan massa aksi yang berkerumun ke ruang publik, keadaan dimana munculah varian baru dari gerakan sosial dan menjadi wacana lahirnya gerakan sosial pasca klasik[4].
            Negara negara berkembang yang telah mampu terlepas dari belenggu kolonialisme pada akhirnya menghadapi tantangan penciptaan tantanan sosial baru dalam hal kenegaraan politik dan budaya. Negara bekas jajahan kolonialisme telah memasuki era postkolonial. Menyoal gerakan sosial baru setidaknya penting untuk kita melihat struktur sosial dan politik yang terjadi di negara berkembang, mengapa ?, karena ekspansi kekuasaan kolonialisme dan iperialisme barat sampai pada teritorial negara berkembang khususnya asia.
            Negera berkembang India misalakan, dapat kita jadikan rujukan munculnya riak-riak gerakan sosial baru. Pasca terbebas dari negara jajahan Inggris warga sipil India menghadapi tantangan dari dalam, melawan kebijakan politik domestik yang masih menyisakan ketimpangan sosial. Disi lain struktur sosial di India masih terbagi dalam beberapa kelas, seperti kelas kaum kaya, kaum kaya baru yang tercipta dari kekuatan kapitalis perkotaan. Kelas kaum politik dan birokrat pascakolonial, dan kaum miskin yang berada dibawah kaum kaum di atasnya[5]. Berangkat dari permasalahan sosio-politik dan perbedaan kelas, munculah gerakan sosial dengan varian baru yang mempurjuangkan dan meneriakan kebebasan individu, kesetaraan gender, feminisme, perjuangkan hak kaum miskin, dan itu semua gerakan kolektif yang didasarioleh kesadaran politik dan non material. 
            Lalu dimanakah letak dasar perbedaan antara gerakan sosial lama atau klasik dan gerakan sosial baru atau GSB ?. hal ini sebenarnya dapat dirujuk dari baanyaknya studi literatur mengenai GSB, namun setidaknya fonomena gerakan sosial di India dapat menjadi salah satu rujukan untuk mengawali hadirnya GSB di dunia. Jika gerakan sosial lama bertumpu pada perjuangan kelas, anti kapitalisme, dan aksi menuntut hak material atas kerja dengan memperebutkan alat produksi agar dimiliki secara komunal, ini sejalan dengan konsep dan gagasan Marx kala itu. Namun GSB mempunyai konsep dan bekal teori yang berbeda dan sedikit persamaan atas gerakan sosial lama gerakan sosial baru dalam mobilitasnya lebih menekankan pada banyaknya isu yang akan diangkat, serta mengingkari dan meniadakan gerakan sporadis seperti revolusi kelas dan pemberontakan petani.
            Namun, bagi penulis munculnya kategorisasi mengenai gerakan sosial pada akhirnya tatap mempunyai dan memiliki nilai ideologis yang sama, yakni sebagai sarana dan kontrol sosial atas kebijakan politik, dan juga memanifestasikan sifat manusia yang bergantung dengansesama manusia yang lain untuk terciptanya tatanan ssial yang sehat Zoon Politicon, hal ini adalah bentuk pengingkaran atas individualisme dalam ranah sosial dan homo-economi yang melanda manusia pada era setelah Renaisans
           
           
             
           
           
           





[1] Sekilas menelaah tentang gerakan sosial lama dan gerakan sosial baru. disampaikan pada tadarus keilmuan DPD IMM DIY 2018
[2] Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY 2014
[3] Ritzer, Teori Sosiologi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2012, hlm 92
[4] Suharko, dalam jurnal ‘ Gerakan Sosial Baru di Indonesia’, Vol 10 , 2006
[5] Singh, Gerakan Sosial Baru, Resist Book, Yogyakarta,2010, hlm 263
gambar diambil di sini

Comments

Popular posts from this blog

Dibuang Sayang 3

Tadabur Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo Oleh   : Rendi Eko Budi S / Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi UMY 2014 Menilik sekilas perkembangan ilmu pengetahuan dalam sejarah, dapat kita bagi berdasarkan periodesasi filsafat, yang biasanya sering dimulai dari zaman Yunani kuno, dalam kurun waktu 624 – 370 SM. Dalam kurun waktu di tahun tersebut berkembanglah pengetahuan dan keyakinan yang bermula dari kepercayaan mitologi dan dewa dewa, serta pandangan sentral akan asal muasal alam raya, atau dapat juga disebut dengan kosmosentrisme. Beranjak dari pelbagai mitologi yunani, hadirlah para filosof zaman Yunani kuno yang dapat disebut juga filosof pra Socrates: Filsafat Alam, banyak filosof yang lahir di zaman ini seperti Thales, Phytagoras, Heraklitus, Demokritus dan masih banyak lagi. Para filosof itu mencetuskan buah pikiranya, dengan seri diskursus kosmosentris melalui berbagai cara memperolehnya (epistimologi) baik secara empiris, rasional maupun intuisi, yang selanjutnya buah dar...

Kesunyian Übermensch om berkumis

Gambar berasal  di sini Bagiku, dalam hal pendiasporaan sangatlah dibutuhkan kekuatan "organik" yang berangkat dari akar rumput, maka dari itu sangatlah perlu kita meluaskan pandangan dan pengetahuan, "mekanik" akan selalu menjadi patronya untuk mencapai suatu etikat kebersamaan dan kebijaksanaan. kekuatan organik yang dipupuk sejak awal, dengan penuh kasih dan perenungan pastilah sangat menghindari  "itik se attelor, ajam se ngeremme" .  kekuatan itu akan selalu diharapkan semua umatnya. karena lahir untuk mengasihi semua umatnya, dan dimiliki oleh bersama dalam satu ikatan kebersamaan.(Rendi)

Peradaban jogja

Oleh   : Rendi Eko Budi S / komfak fisipol umy Jogja   kota menawan bagi para pelajar dan wisatawan Jogja menyimpan genangan cakrawala ilmu bagi setiap insan Jogja punya seribu satu cerita tentang problematika kehidupan                 Disana, terlahir cendikiawan abadi dan berpendidikan                 Bersama kisah pilu merebut kemerdekaan Jogja punya cerita cinta dengan pelancong kehidupan Cinta, budaya, agama, warna dan angkringan                 Kini, jogja ramai ringkih dan rentan                 Ramai, gedung pencakar yang mengusik nostalgia angkringan                ...