
Tidak
bisa sepikiran[1]
dengan dospem[2]
mengenai proposal skirpsi membuat Eko emosi, dan biasanya dilampiaskan emosinya kepada Surya Pa*oh pemilik partai eh Surya 12
maksudku hihihi. Lha piye wong udud[3]
itu enaknya nggak hanya waktu setelah makan, biasanya dihisapan ke 12 Eko
menemukan inspirasi apapun, dan dihisapan ke 17 Eko sangat merdeka dan tambah
merdeka(bukan tetap merdeka).
Biasanya
rokok habis dihisapan ke 45(bukan
nyamanyamain tahun kemerdekaan lho). dan Eko langsung ngobrol dengan
smartphone genggamnya ` ok google ! aku
mau chat whatsapp sama Garwo.’ Jelas Eko. Jemarinya langusng mengetik. ‘ soto perempatan bangjo[4]
jam 10.30’. lalu jempol eko menekan tombol send entah yang ke berapa kali mungkin yang ke 1928.
Setibanya
di Soto khas lamongan Eko melihat Garwo sudah duduk duluan. ‘wah kue kok ndisi’ i[5],
aku soto babad yo.’ ujar Eko pada Garwo. ‘Aku pusing Ko kenapa aku dan Fulan susah bersatu ya, padahal aku sudah
menunjukan tanduk-tindakku kalau aku suka sama dia, apa aku jujur aja sama dia
yo Ko’. Keluh Garwo.
Srutup
nyess kriuk ting. ‘Babad e enak ko.’
terang Eko dengan wajah berkeringat dan ketiak yang basah maklum di warung soto
khas Lamongan itu Cuma ada satu kipas, itupun lagi diservice dan belum
kelar-kelar. ‘Asuu kancane galau malah ra
nggubris[6]
kok kue.’ Kesal Garwo pada Eko. ‘La
kamu itu gimana to minta bersatu dalam cinta sama Fulan, tapi kamu makan soto
aja nasinya minta dipisah, interpretasimu dari sila ketiga Pancasila ki piye
kandhani kok !’, pungkas Eko pada Garwo
Eko
menatap wajah melas Garwo. ‘Ini saya
contohkan yang namanya persatuan, persatuan itu nggak melulu soal keberagaman,
nggak melulu soal politik dan kepentingan, aku minta rokokmu dulu nanti ku
lanjutkan.’ Diplomasi Eko pada karibnya. Trektek bul sessst, sebatang rokok
berhasil disumutnya. ‘Jadi persatuan itu
wo, rokokmu itu ya rokok ku juga’. Hahaha cekikik Eko
Eko
lalu beranjak ke belakang warung menemui bapak si pemilik warung dia bilang ‘pak
soto dan tetekbengeknya[7]
Garwo yang bayari ya!.’ katanya sambil mingkem menahan rokok di cangkem[8].
Begitulah cara Eko kalau makan nggak punya uang, dia pasti ngajak kawanya lalu ngicrit[9]
lewat belakang warung.
Eko
memang orangnya celelekan[10],
tapi setiap dari perkataanya yang keluar selalu direnungi oleh Garwo menurutnya
kata-kata Eko itu filosofis dan patut untuk dipertimbangkan. Lalu Garwo pun
mencari cari Eko, kok kebelang lama banget, feeling
Garwo sudah tidak enak. Langsung saja Garwo sambangi pak Tejo si pemilik warung
soto.
Semuanya
tigapuluh ribu limaratus nak, tadi Eko ngambil 2 batang surya jadi totalnya
33.500, jelas pak Tejo dengan dengan kalkulator Casio ditanganya. ‘Lalu ada
pesan nggak pak dari Eko ?.’ tanya Garwo pada pak Tejo. Garwo juga sudah
terbiasa diperlakukan seperti ini selama kuliah di Jogja. Kata Eko begini ‘persatuan itu nggak hanya rokokmu itu juga
rokokku, tapi kamu mbayarin aku soto babad juga bentuk perstuan, karena duitmu
itu juga duitku, rezeki orang tuamu juga rezeki orang lain, ada hak milik orang
lain di dalamnya.’ kata pak Tejo
dengan hati-hati.
Garwo
merenung sambil mengengkol sepeda
motor Honda Kharismanya. Dia merenung
karena pesan yang dititipkan Eko pada pak Tejo tadi. Karena keasyikan merenung
Garwo berhenti di bangjo. Dia baru sadar ketika sudah detik ke 7 hampir hijau
lampunya. Dan dia baru sadar kalau harusnya dia belok kiri jalan terus. Hihihi
*terinspirasi
dari buku Talijiwo karya sujiwotejo
[1]
Sepikiran ; dalam bahasa jawa, atau satu pemikiran
[2] Dosen
pemimbing skripsi
[3] Rokok,
dalam bahasa jawa udud atau sesst
[4] Sebutan
untuk lampu merah di Jogja
[5]
Mendahului aku
[6] Acuh tak
acuh
[7] Macam
macamnya
[8] mulut
[9]
Menghilang atau kabur
[10]
Nakal-humoris
Comments
Post a Comment