Skip to main content

Formulir Dan Surat Kesanggupan Peserta


A.                MUQADDIMAH

Assallamu’alaikum Warahmmatullahi Wabarakatuh. Telah banyak “kaum merah”[1] menafsirkan gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah hari ini. itu adalah bagian dari pengejawantahan kader akan internalisasi dalam tubuh ikatan. Menyoal akan internalisasi nilai-nilai Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, sangatlah diperlukan ruang perbincangan ideologis, untuk menopang dan mewujudkan visi besar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah(IMM)[2].
Meminjam istilah Buya Syafii Maarif, intelektualisme dan aktivisme harus dapat berjalan beriringan agar dapat menjawab persoalan kemasyarakatan hari ini. Menanggapi hal itu, Pimpinan Cabang IMM Abdul Razaq Fakhruddin kembali menggelar Creative Minority Madrasah Intelektual Muhammadiyah yang selanjutnya disebut MIM yang menjadi kegiatan rutin setiap tahun di bawah kepengurusan bidang rpk riset dan pengembangan keilmuan.
Lebih dari satu dasawarsa MIM menjadi ruang keilmuan kebanggaan kader[3]. untuk membentuk ciri khas keilmuan yang dimiliki. Lantas, luaran dan harapan setelah terselenggarakanya kegiatan MIM tak lain adalah terbentuknya nalar kritis kader yang dapat memunculkan kesadaran dan pembebasan[4]. Lain dari pada itu, semoga dengan adanya MIM mampu menjadi wadah bagi kader untuk meluaskan pengetahuan dan pandangan, dan juga mampu menjadi penggerak serta menginisiasi pentignya membangun keilmuan disetiap komisariat, agar karakter pemikiran tengahan atau moderat dapat dicapai, yang hasilnya “bibit-bibit” kader organik[5] terwujud dan siap mengabdi serta berproses dalam ikatan dan persyarikatan.



[1] Sebutan bagi kader IMM yakni kaum merah, kaum merah juga dipakai dalam judul buku” Genealogi Kaum Merah” yang ditulis salah satunya oleh Cak Makhrus Akhmadi
[2] Mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berahlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah
[3] Para kader IMM AR.Fakhruddin, ada MIM sebagai Creative Minority, juga sebagai lembaga, MIM indigenious school
[4] Kesadaran, merujuk dari 3 jenjang kesadaran dari Paulo Freire : magis,naif, kritis. Selanjutnya pembebasan dapat diartikan sebagai bebas dalam berpikir, terhindar dari dogma dogma sosial, pembebasan dimuarakan dalam hal kemanusiaan atau humanisme teosentris.
[5][5] Intelektual organik, sebutan yang berasal dari filosof Italia Antonio Gramsci, yaang menurutnya revolusi tidak serta terjadi akibat adanya aksi massa yang berkerumun, namun revolusi dapatlah sangat terjadi jika menyiapkan kekuatan organik dari akar rumput







Adapun Formulir, surat kesanggupan yang bisa di unduh di sini

Comments

Popular posts from this blog

Dibuang Sayang 3

Tadabur Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo Oleh   : Rendi Eko Budi S / Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi UMY 2014 Menilik sekilas perkembangan ilmu pengetahuan dalam sejarah, dapat kita bagi berdasarkan periodesasi filsafat, yang biasanya sering dimulai dari zaman Yunani kuno, dalam kurun waktu 624 – 370 SM. Dalam kurun waktu di tahun tersebut berkembanglah pengetahuan dan keyakinan yang bermula dari kepercayaan mitologi dan dewa dewa, serta pandangan sentral akan asal muasal alam raya, atau dapat juga disebut dengan kosmosentrisme. Beranjak dari pelbagai mitologi yunani, hadirlah para filosof zaman Yunani kuno yang dapat disebut juga filosof pra Socrates: Filsafat Alam, banyak filosof yang lahir di zaman ini seperti Thales, Phytagoras, Heraklitus, Demokritus dan masih banyak lagi. Para filosof itu mencetuskan buah pikiranya, dengan seri diskursus kosmosentris melalui berbagai cara memperolehnya (epistimologi) baik secara empiris, rasional maupun intuisi, yang selanjutnya buah dar...

Kesunyian Übermensch om berkumis

Gambar berasal  di sini Bagiku, dalam hal pendiasporaan sangatlah dibutuhkan kekuatan "organik" yang berangkat dari akar rumput, maka dari itu sangatlah perlu kita meluaskan pandangan dan pengetahuan, "mekanik" akan selalu menjadi patronya untuk mencapai suatu etikat kebersamaan dan kebijaksanaan. kekuatan organik yang dipupuk sejak awal, dengan penuh kasih dan perenungan pastilah sangat menghindari  "itik se attelor, ajam se ngeremme" .  kekuatan itu akan selalu diharapkan semua umatnya. karena lahir untuk mengasihi semua umatnya, dan dimiliki oleh bersama dalam satu ikatan kebersamaan.(Rendi)

Peradaban jogja

Oleh   : Rendi Eko Budi S / komfak fisipol umy Jogja   kota menawan bagi para pelajar dan wisatawan Jogja menyimpan genangan cakrawala ilmu bagi setiap insan Jogja punya seribu satu cerita tentang problematika kehidupan                 Disana, terlahir cendikiawan abadi dan berpendidikan                 Bersama kisah pilu merebut kemerdekaan Jogja punya cerita cinta dengan pelancong kehidupan Cinta, budaya, agama, warna dan angkringan                 Kini, jogja ramai ringkih dan rentan                 Ramai, gedung pencakar yang mengusik nostalgia angkringan                ...