Skip to main content

Perenungan









Untuk, Nora Maya Siregar

Puisi merupakan bentuk reinterpretasi dari pengetahuan yang bersumber dari bacaan. Hadirnya puisi juga hasil dari pengamatan indrawi dan kedalaman intuisi. Jika puisi dihadirkan di muka bumi, maka barisan kata kata telah menjadi milik pembaca untuk mandiri dalam menafsirkanya

Hidupnya puisi adalah tak lain dari beraneka ragam tafsiran artinya, dan penafsiran pembaca atas atas puisi melalui pencapaian ilmu pengetahuanya. Karena hidupnya puisi karena multitafsir pembacanya, maka pengejaran arti sebenarnya dari puisi yang kita baca bukanlah tujuan utama. Begitupun seperti apa yang diungkapkan PakDhe Candra Malik, “ jika sastra bertingkat kata dan makna berlapis tafsir, maka musik bertangga nada”. Begitulah tuturnya sang Sufi itu.

Dasar pengetahuan adalah keingintahuan, puncak pengetahuan adalah ketidak tahuan. Hehehe, begitupun dengan rindu deq, bukan banyaknya intensitas temu yang menjadikanya rindu, melainkan rindulah yang berasal dari rindu, heuheu. Telah lahir juga deq dalam 1001 fatwa rindu yang mengkultus kata menjadi “ rindu bukanlah tentang pernah berjumpa, rindu adalah tentang telah bepisah”. Begitupun dengan fenomena kita bertemu yang melahirkan harapan dan kemungkinan baru, hehe

Deq Nora, mengenai puisi yang mas kirim di chat, dengan segenap hati mas coba jelaskan pengetahun dengan hati yang gembira riang tak terkira membawa boneka yang indah jelita, hehehe.

Sebagai hadiah
Malaikat menanyakan
apakah aku ingin berjalan di atas mega
dan aku menolak
karena kakiku masih di bumi
sampai kejahatan terakhir dimusnahkan
sampai dhuafa dan mustadh'afin
diangkat Tuhan dari penderitaan
aku ingin
meletakkan sekuntum sajak
dimakam nabi
supaya sejarah menjadi jinak
dan mengirim sepasang merpati

Manunsia dalam konsepsi agama Islam, termaktubkan dengaan jelasnya dalam teks yang diwahyukan Nya. Manusia di turunkan di muka bumi menjadi wakil Allah, atau bisa disebut sebagai khalifah untuk sesama, sungguhlah tinggi derajat manusia di dalam konsepsi agama Islam. Jika kita meminjam istilah Nietzche manusia harusdapat unggul dalam pengetahuanya, atau dalam bahasanya “ ubermanch”.

Lalu dalam proses isra’ miraj rasul, jika rasul egois dan mementingkan diri pribadi tidaklah akan kembali lagi ke bumi, ia lebih memilih terbang ke menara gading di atas mega, akan tetapi, Islam mempunyai nilai rahmatan lil alamin, maka rasul memilih turun ke bumi, untuk menuntaskan persoalan sosial, hingga kejahatan terstruktur dimusnahkan sesuai dengan tugas khilafah, jika kita meminjam istilah Ali Syariati, kita sebagai umatNya harus dapat menjadi “Rasyn Fikr” manusia yang tercerahkan.

Memilih terbang di atas mega bukanlah pilihan yang humanis, karena kesalehan seseorang deq, bukan diukur oleh kesalehan pribadinya, akan tetapi kesalehan sosialnya. Agar sejarah Islam dan pesan sintetic analitic (baca Islam sebagai Ilmu & Paradigma Islam) dalam Al-Quran menjadi jinak dan mampu bermanfaat untuk sesama. Sastra profetik yang dihadirkan Kuntowijoyo sangatlah indah dan halus, yang mampu membawa umatnya kembali ke hakikat transendensi dan humanisme teosentris.

Hehehe, jangan terlalu serius deq Nora membacanya. Tulisan ini dibuat dengan hati yang gembira dan juga tidak terlalu serius, karena kalau terlalu serius biasanya hilang fokus. Maka bergembiralah agar kefokusan tetap terjaga, hehehe

Comments

Popular posts from this blog

Dibuang Sayang 3

Tadabur Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo Oleh   : Rendi Eko Budi S / Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi UMY 2014 Menilik sekilas perkembangan ilmu pengetahuan dalam sejarah, dapat kita bagi berdasarkan periodesasi filsafat, yang biasanya sering dimulai dari zaman Yunani kuno, dalam kurun waktu 624 – 370 SM. Dalam kurun waktu di tahun tersebut berkembanglah pengetahuan dan keyakinan yang bermula dari kepercayaan mitologi dan dewa dewa, serta pandangan sentral akan asal muasal alam raya, atau dapat juga disebut dengan kosmosentrisme. Beranjak dari pelbagai mitologi yunani, hadirlah para filosof zaman Yunani kuno yang dapat disebut juga filosof pra Socrates: Filsafat Alam, banyak filosof yang lahir di zaman ini seperti Thales, Phytagoras, Heraklitus, Demokritus dan masih banyak lagi. Para filosof itu mencetuskan buah pikiranya, dengan seri diskursus kosmosentris melalui berbagai cara memperolehnya (epistimologi) baik secara empiris, rasional maupun intuisi, yang selanjutnya buah dar...

Kesunyian Übermensch om berkumis

Gambar berasal  di sini Bagiku, dalam hal pendiasporaan sangatlah dibutuhkan kekuatan "organik" yang berangkat dari akar rumput, maka dari itu sangatlah perlu kita meluaskan pandangan dan pengetahuan, "mekanik" akan selalu menjadi patronya untuk mencapai suatu etikat kebersamaan dan kebijaksanaan. kekuatan organik yang dipupuk sejak awal, dengan penuh kasih dan perenungan pastilah sangat menghindari  "itik se attelor, ajam se ngeremme" .  kekuatan itu akan selalu diharapkan semua umatnya. karena lahir untuk mengasihi semua umatnya, dan dimiliki oleh bersama dalam satu ikatan kebersamaan.(Rendi)

Peradaban jogja

Oleh   : Rendi Eko Budi S / komfak fisipol umy Jogja   kota menawan bagi para pelajar dan wisatawan Jogja menyimpan genangan cakrawala ilmu bagi setiap insan Jogja punya seribu satu cerita tentang problematika kehidupan                 Disana, terlahir cendikiawan abadi dan berpendidikan                 Bersama kisah pilu merebut kemerdekaan Jogja punya cerita cinta dengan pelancong kehidupan Cinta, budaya, agama, warna dan angkringan                 Kini, jogja ramai ringkih dan rentan                 Ramai, gedung pencakar yang mengusik nostalgia angkringan                ...