Skip to main content

Sebatas Pengetahuanku Saja, Mari Berkunjung mas mbak, pakDHE buDHE

Gambar diambil dari Google



Setelah merdeka dari jajahan negeri sekutu, Indonesia diwarisi pelbagai hal, satu dari sekian hal itu adalah sistem perekonomian(Hal hal yang lainya silahkan ditelusuri, hehe), yang masih berjalan hingga hari ini. Merujuk pada pandangan Bung Hatta, Indonesia setelah merdeka menerima warisan paradigma ekonomi dualistis yakni, pertama ekonomi kolonialisme dan yang kedua ekonomi kapitalisme. Hadirnya ekonomi dualistis berdampak pada bidang sosial, ekonomi dan politik, begitu juga pada tataran paradigma pembangunan Indonesia, yang sampai pada hari ini masih menggunakan paradigma pembangunan modernis yang sama halnya dilakukan oleh negara industrial maju.

Lantas, epistemologi dari pembangunan modernis yang dilakukan negara maju adalah mengeksploitasi sumber daya alam untuk menunjang pembangunan sumber daya manusia, yang pada akhirnya berdampak jauh dari kata ramah lingkungan dan kelestarian alam, selain itu juga dibarengi dengan penanaman modal asing di negara berkembang(seperti negara yang dipimpin oleh Joko Widodo, yang dulunya juga punya usaha mebel, jigur tenen ok)

Indonesia, yang mewarisi ekonomi dualisistis, dan dalam keadaan sadar, mengikuti alur epistemologi pembangunan modernis, yang dilakukan adalah menggadaikan sumber daya alam domestik kepada negara industrial maju, untuk memperoleh utang luar negeri, alhasil pembangunan dan perekonomian Indonesia jauh dari kata mandiri, melainkan bergantung pada sistem perekonomian kapitalis dunia, yang berdampak pada krisis pangan, energi, lingkungan hidup, dan finansial, atau selanjutnya dapat disebut dengan krisis multidimensional. Hal tersebut juga membebankan generasi muda yang akan datang.

Hal di atas sudah banyak diketahui, oleh pemikir hebat negeri, seperti Hatta, Sarbini S, Habibie, Mubyarto dan kawan kawan semua dapat dikabulkan, dapat dikabulkan dengan kantong ajaib, aku ingin terbang bebas di angkasa, “hei baling baling bambu”, teriak dia. La la la aku sayang sekali Doraemon. Hahahahaha.(Rendi)

Comments

Popular posts from this blog

Dibuang Sayang 3

Tadabur Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo Oleh   : Rendi Eko Budi S / Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi UMY 2014 Menilik sekilas perkembangan ilmu pengetahuan dalam sejarah, dapat kita bagi berdasarkan periodesasi filsafat, yang biasanya sering dimulai dari zaman Yunani kuno, dalam kurun waktu 624 – 370 SM. Dalam kurun waktu di tahun tersebut berkembanglah pengetahuan dan keyakinan yang bermula dari kepercayaan mitologi dan dewa dewa, serta pandangan sentral akan asal muasal alam raya, atau dapat juga disebut dengan kosmosentrisme. Beranjak dari pelbagai mitologi yunani, hadirlah para filosof zaman Yunani kuno yang dapat disebut juga filosof pra Socrates: Filsafat Alam, banyak filosof yang lahir di zaman ini seperti Thales, Phytagoras, Heraklitus, Demokritus dan masih banyak lagi. Para filosof itu mencetuskan buah pikiranya, dengan seri diskursus kosmosentris melalui berbagai cara memperolehnya (epistimologi) baik secara empiris, rasional maupun intuisi, yang selanjutnya buah dar...

Kesunyian Übermensch om berkumis

Gambar berasal  di sini Bagiku, dalam hal pendiasporaan sangatlah dibutuhkan kekuatan "organik" yang berangkat dari akar rumput, maka dari itu sangatlah perlu kita meluaskan pandangan dan pengetahuan, "mekanik" akan selalu menjadi patronya untuk mencapai suatu etikat kebersamaan dan kebijaksanaan. kekuatan organik yang dipupuk sejak awal, dengan penuh kasih dan perenungan pastilah sangat menghindari  "itik se attelor, ajam se ngeremme" .  kekuatan itu akan selalu diharapkan semua umatnya. karena lahir untuk mengasihi semua umatnya, dan dimiliki oleh bersama dalam satu ikatan kebersamaan.(Rendi)

Peradaban jogja

Oleh   : Rendi Eko Budi S / komfak fisipol umy Jogja   kota menawan bagi para pelajar dan wisatawan Jogja menyimpan genangan cakrawala ilmu bagi setiap insan Jogja punya seribu satu cerita tentang problematika kehidupan                 Disana, terlahir cendikiawan abadi dan berpendidikan                 Bersama kisah pilu merebut kemerdekaan Jogja punya cerita cinta dengan pelancong kehidupan Cinta, budaya, agama, warna dan angkringan                 Kini, jogja ramai ringkih dan rentan                 Ramai, gedung pencakar yang mengusik nostalgia angkringan                ...