Kali ini, Gatekeeper masrendii.blogspot.com akan mencoba mereview materi-materi kelas MIM(madrasah intelektual muhammadiyah) yang telah diadakan oleh bidang keilmuan IMM cabang AR. Fakhruddin kota Yogyakarta. Materi kelas pertama dari hasil pengamatan penulis ialah mengenai bangunan epistemologi, yang meliputi beberapa bagian. Pertama, mengenai epistemologi barat, kedua, mengenai epistemologi Islam, dan yang ketiga, epistemologi integrasi dan interkoneksi.
“ saya melihat budi terjatuh dari sepeda sepulang dari sekolah”, “ saya rasa budi tidak akan berangkat bermain sepakbola nanti sore”.
Manusia dikaruniai akal untuk berpikir, dan dalam proses berpikirnya dapat menghasilkan pengetahuan-pengetahuan yang dapat menjadi kesimpulan kebenaran. Dalam disiplin ilmu filsafat, terdapat cara maupun metode dalam memperoleh pengetahuan, salah satunya dapat disebut dengan epistemologi, yang ber-arti epistem (pengetahuan) dan logos (ilmu). Menyoal epistemologi barat secara kondisi sosial historis merupakan awal mula bangkitnya ilmu pengetahuan yang di mulai dengan beberapa pertanyaan dan argumentasi mendasar. Misalnya, ketika kita merujuk pada kalimat diatas, ketika saya melihat Budi terjatuh, dan saya berpikir karena Budi terjatuh ia tidak akan bermain sepakbola pada sore hari. Hal itu tentunya melewati proses berpikir, dan ada cara maupun metode dalam menghasilkan suatu asumsi, misal, dengan cara melihat secara langsung, dan berpikir mengenai perkara kejadian Budi terjatuh. Secara umum, epistemologi barat terdapat beberapa bagian atau metode, pertama yaitu empiris dimana manusia dapat memperoleh pengetahuan menggunakan kerja indranya, seperti melihat, meraba, mendengar dan lain sebagainya. Kedua, yaitu rasio, rasio merupakan kerja tursan dari empirisme, di sini akal manusia bermain untuk mencapai pengetahuan dan kebenaran.
Epitemologi Islam
Dari banyaknya literatur mengenai filsafat barat dan Islam, penulis mencoba menyampaikan argumentasi dengan adanya perbedaan epistemologi. Terutama dalam cara memperoleh pengetahuan, jika pada filsafat barat lebih condong pada empirisme dan rasionalisme, disini muncul perbedaan dalam ranah yang sama yaitu adanya intuisi, atau dapat diartikan menjadi “hati”. Munculnya sifat transendensi ilahiyah dalam proses berpikir, analogi sederhana dalam proses bergerak atau berpikir dalam filsafat Islam adalah adanya paradigma agama dalam cara memperoleh pengetahuan, misalnya, Al-Qur’an dan hadist yang dapat di ejawantahkan ulang melalui berpikir filsafat, atau jika kita meminjam istilah dari Dr. Kuntowijoyo yaitu bagian sintetik analitik. Masih banyak beberapa titik poin perbedaan antara barat dan Islam dalam diskursus filsafat yang nantinya akan diulas dalam review materi MIM selanjutnya.
Itegrasi Ilmu Pengetahuan
Polemik antara agama dan sains banyak menuai kontroversi, jika kita merujuk pada gagasan Ian G Barbour hal ini merupakan suatu konflik dua sisi ataupun menyoal independensi antara agama dan sains. Akan tetapi penulis mencoba mengajak untuk bagaimana mengejawantahkan pemikiran filsafat dalam melihat berbagai konteks termasuk dalam memahami agama melaluli pendekatan sintetik analitik, untuk tercapainya integrasi dan interkoneksi pengetahuan. Menyoal tentang integrasi pengetahuan dapat juga merujuk pada gagasan Michael Root yang. membedakan dua jenis karakteristik ilmu sosial yaitu liberal dan perfeksionis, dapat dikatakan liberal karena tidak sarat akan cita cita transformasi sosial dan nilai kebijakan, begitupun sebaliknya dengan ilmu sosial yang perfeksionis yang kaya akan nilai dan membawa sifat partisan terhadap keadaan sosial sekitar. Integrasi pengetahuan atau bisa disebut dedifferensiasi tak lain adalah upaya bagaimana kita dapat berpikir secara holistik dan komprehensif sesuai dengan perkembangan zaman, jika kita menganalogikan dari gagasan Barbour independensi antara sains dan agama tidak membuat keduanya tidak saling terkoneksi melainkan dapat diintegrasikan untuk menjawab polemik perkembangan zaman.
Referensi :
Pengantar Filsafat, Louis O Kattsof
Teologi Islam

Comments
Post a Comment