Skip to main content

Kelas MIM Pertama 2017


Kali ini, Gatekeeper masrendii.blogspot.com akan mencoba mereview materi-materi kelas MIM(madrasah intelektual muhammadiyah) yang telah diadakan oleh bidang keilmuan IMM cabang AR. Fakhruddin kota Yogyakarta. Materi kelas pertama dari hasil pengamatan penulis ialah mengenai bangunan epistemologi, yang meliputi beberapa bagian. Pertama, mengenai epistemologi barat, kedua, mengenai epistemologi Islam, dan yang ketiga, epistemologi integrasi dan interkoneksi.

“ saya melihat budi terjatuh dari sepeda sepulang dari sekolah”, “ saya rasa budi tidak akan berangkat bermain sepakbola nanti sore”.

Manusia dikaruniai akal untuk berpikir, dan dalam proses berpikirnya dapat menghasilkan pengetahuan-pengetahuan yang dapat menjadi kesimpulan kebenaran. Dalam disiplin ilmu filsafat, terdapat cara maupun metode dalam memperoleh pengetahuan, salah satunya dapat disebut dengan epistemologi, yang ber-arti epistem (pengetahuan) dan logos (ilmu). Menyoal epistemologi barat secara kondisi sosial historis merupakan awal mula bangkitnya ilmu pengetahuan yang di mulai dengan beberapa pertanyaan dan argumentasi mendasar. Misalnya, ketika kita merujuk pada kalimat diatas, ketika saya melihat Budi terjatuh, dan saya berpikir karena Budi terjatuh ia tidak akan bermain sepakbola pada sore hari. Hal itu tentunya melewati proses berpikir, dan ada cara maupun metode dalam menghasilkan suatu asumsi, misal, dengan cara melihat secara langsung, dan berpikir mengenai perkara kejadian Budi terjatuh. Secara umum, epistemologi barat terdapat beberapa bagian atau metode, pertama yaitu empiris dimana manusia dapat memperoleh pengetahuan menggunakan kerja indranya, seperti melihat, meraba, mendengar dan lain sebagainya. Kedua, yaitu rasio, rasio merupakan kerja tursan dari empirisme, di sini akal manusia bermain untuk mencapai pengetahuan dan kebenaran.

Epitemologi Islam

Dari banyaknya literatur mengenai filsafat barat dan Islam, penulis mencoba menyampaikan argumentasi dengan adanya perbedaan epistemologi. Terutama dalam cara memperoleh pengetahuan, jika pada filsafat barat lebih condong pada empirisme dan rasionalisme, disini muncul perbedaan dalam ranah yang sama yaitu adanya intuisi, atau dapat diartikan menjadi “hati”. Munculnya sifat transendensi ilahiyah dalam proses berpikir, analogi sederhana dalam proses bergerak atau berpikir dalam filsafat Islam adalah adanya paradigma agama dalam cara memperoleh pengetahuan, misalnya, Al-Qur’an dan hadist yang dapat di ejawantahkan ulang melalui berpikir filsafat, atau jika kita meminjam istilah dari Dr. Kuntowijoyo yaitu bagian sintetik analitik. Masih banyak beberapa titik poin perbedaan antara barat dan Islam dalam diskursus filsafat yang nantinya akan diulas dalam review materi MIM selanjutnya.

Itegrasi Ilmu Pengetahuan

Polemik antara agama dan sains banyak menuai kontroversi, jika kita merujuk pada gagasan Ian G Barbour hal ini merupakan suatu konflik dua sisi ataupun menyoal independensi antara agama dan sains. Akan tetapi penulis mencoba mengajak untuk bagaimana mengejawantahkan pemikiran filsafat dalam melihat berbagai konteks termasuk dalam memahami agama melaluli pendekatan sintetik analitik, untuk tercapainya integrasi dan interkoneksi pengetahuan. Menyoal tentang integrasi pengetahuan dapat juga merujuk pada gagasan Michael Root yang. membedakan dua jenis karakteristik ilmu sosial yaitu liberal dan perfeksionis, dapat dikatakan liberal karena tidak sarat akan cita cita transformasi sosial dan nilai kebijakan, begitupun sebaliknya dengan ilmu sosial yang perfeksionis yang kaya akan nilai dan membawa sifat partisan terhadap keadaan sosial sekitar. Integrasi pengetahuan atau bisa disebut dedifferensiasi tak lain adalah upaya bagaimana kita dapat berpikir secara holistik dan komprehensif sesuai dengan perkembangan zaman, jika kita menganalogikan dari gagasan Barbour independensi antara sains dan agama tidak membuat keduanya tidak saling terkoneksi melainkan dapat diintegrasikan untuk menjawab polemik perkembangan zaman.

Referensi :
Pengantar Filsafat, Louis O Kattsof
Teologi Islam

Comments

Popular posts from this blog

Dibuang Sayang 3

Tadabur Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo Oleh   : Rendi Eko Budi S / Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi UMY 2014 Menilik sekilas perkembangan ilmu pengetahuan dalam sejarah, dapat kita bagi berdasarkan periodesasi filsafat, yang biasanya sering dimulai dari zaman Yunani kuno, dalam kurun waktu 624 – 370 SM. Dalam kurun waktu di tahun tersebut berkembanglah pengetahuan dan keyakinan yang bermula dari kepercayaan mitologi dan dewa dewa, serta pandangan sentral akan asal muasal alam raya, atau dapat juga disebut dengan kosmosentrisme. Beranjak dari pelbagai mitologi yunani, hadirlah para filosof zaman Yunani kuno yang dapat disebut juga filosof pra Socrates: Filsafat Alam, banyak filosof yang lahir di zaman ini seperti Thales, Phytagoras, Heraklitus, Demokritus dan masih banyak lagi. Para filosof itu mencetuskan buah pikiranya, dengan seri diskursus kosmosentris melalui berbagai cara memperolehnya (epistimologi) baik secara empiris, rasional maupun intuisi, yang selanjutnya buah dar...

Kesunyian Übermensch om berkumis

Gambar berasal  di sini Bagiku, dalam hal pendiasporaan sangatlah dibutuhkan kekuatan "organik" yang berangkat dari akar rumput, maka dari itu sangatlah perlu kita meluaskan pandangan dan pengetahuan, "mekanik" akan selalu menjadi patronya untuk mencapai suatu etikat kebersamaan dan kebijaksanaan. kekuatan organik yang dipupuk sejak awal, dengan penuh kasih dan perenungan pastilah sangat menghindari  "itik se attelor, ajam se ngeremme" .  kekuatan itu akan selalu diharapkan semua umatnya. karena lahir untuk mengasihi semua umatnya, dan dimiliki oleh bersama dalam satu ikatan kebersamaan.(Rendi)

Peradaban jogja

Oleh   : Rendi Eko Budi S / komfak fisipol umy Jogja   kota menawan bagi para pelajar dan wisatawan Jogja menyimpan genangan cakrawala ilmu bagi setiap insan Jogja punya seribu satu cerita tentang problematika kehidupan                 Disana, terlahir cendikiawan abadi dan berpendidikan                 Bersama kisah pilu merebut kemerdekaan Jogja punya cerita cinta dengan pelancong kehidupan Cinta, budaya, agama, warna dan angkringan                 Kini, jogja ramai ringkih dan rentan                 Ramai, gedung pencakar yang mengusik nostalgia angkringan                ...