Ilmu pengetahuan dapat kita dapatkan dewasa ini dengan berbagai hal, satu diantaranya yaitu dengan membaca buku. Dengan analogi sederhana, membaca buku adalah cara kita mengetahui sejarah lampau, dan kita reinterpretasi kembali untuk menjadi peta ataupun petunjuk hidup dalam berkehidupan kedepan.
Pada saat ini kita hidup di abad 21, di mana zaman menjadi maju, teknologi, industri, transportasi dan sebagaimana lainya tumbuh dengan cepat. Dapat dikata hal tersebut hadir setelah datangnya abad pencerahan(renainsans), begitu mudah hidup kita, mesin-mesin pembantu telah tersedia, ekonomi tumbuh pesat, tata kelola pemerintahan melakukan pembangunan hingga perencanaan.
Namun, dibalik semua itu bukan tidak mungkin masalah-masalah sosial hadir ditengah-tengah modernisasi tersebut. Cepatnya pertumbuhan ekonomi dan teknologi juga berakibat terjadinya ketimpangan. masalah kemanusiaan yang dikesampingkan akibat orientasi pertumbuhan ekononi dan pembangunan di era masyarakat industri, terlebih liberalisasi perdagangan, perbankan, dan hal semacam lainya yang berujung pada sistem neoliberalisme, yang dengan singkat dan sejarahnya, genggaman pasar bebas dalam rangka pertumbuhan diatur dan dinikmati pada segelintir orang saja, yang berujung pada sistem dan sikap kapitalisme.
Dari keseluruhan hal diatas, jalan neoliberalisme, kapitalisme, semakin kencang arusnya pada suatu ketika berbagai negara terintegrasi satu dengan lainya, yang dipelopori oleh negara-negara maju, singkatnya hal ini dapat dinamai globalisasi, dampak dari aktivitas tersebut negara berkembang akan mengalami gejolak dalam berbagai hal, yang mengakibatkan ketidak sejahteraan rakyatnya.
Melihat aktivitas dan lingkaran sistem itu, munculah banyak organisasi, dalam rangka mencapai masyarakat yang madani secara ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya. Lsm, persyerikatan, persatuan, komunitas, komunikator politik, gerakan mahasiswa dan masih banyak lagi mulailah bermunculan sebagai bentuk perlawanan atas aktivitas sistem yang dalam kacamata mereka membuat ketimpangan dalam tatanan sosial
Model gerakan perlawanan organisasi kala itu, beragam macamnya, misal dengan berdialog, bersuara, berkerumun dan segala macam cara yang lain untuk dapat menyuarakan apa yang mereka rasakan.
Tak lama kemudian, kondisi struktur masyarakat lebih bisa berkembang serta diiringi masalah-masalah politik yang tak menuai titik jelas tujuanya, organisasi perlawanan itu mulai mengganti model perlawanan yang baru, yang sering disebut saat ini yaitu gerakan sosial baru. Singkat perbedaan model geraknya seperti kefokusan pada satu isu, dan metode gerak yang semakin jelas dan rinci.
Hadirnya organisasi perlawanan jika kita meminjam istilah Antonio Gidens adalah jalan ketiga, dalam rangka mencapai suatu keseimbangan. Karena kesadaran masyarakat di muka bumi ini masihlah heterogen. Jika kita mencoba menengok kebelakang masalah ini juga terjadi di Athena, yang sering dilekatkan pada filosof Socrates.
Lalu, hari ini permasalahan semakin bermunculan yang juga tidak terlepas daripada hal diatas, juga ditengah-tengah siulan ceriwis burung kutilang, daun yang melambai, padi mengembang, kabut menyelimuti, yang semua itu mulai beranjak tiada akibat aktivitas yang sempat disampaikan diatas.
Sekurang-kurangnya, bagi organisasi perlawanan sekarang hal yang bisa dilakukan adalah bagaimana membuat anggotanya memiliki kesadaran kritis, dengan cara "membaca buku" atau meliterasi diri. Berharap kepada pendidikan formalpun seperti tiada nilai yang melekat pada esensinya, sama konteksnya seperti apa yang dikritik Paulo Freire kala itu.
Harapanya membaca buku dapat menjadi pisau analisis untuk memperoleh kesadaran dan ilmu pengetahuan, untuk dapat bergerak mengatasi hal yang dirasa timpang atas reaksi nalar kritisnya yang berangkat dari kesadaran yang diperoleh saat membaca buku.
Dengan seperti itu, alasan apalagi untuk kita mengelak dalam membaca buku, banyak intelektual sudah melakukan hal yang abadi dengan menulis(pram) yang sejatinya dapat kita hargai dengan membacanya.
Sudah saatnya kita beranjak meninggalkan buta wacana, aksara dan buta baca buku. Mari berorganisasi dan membaca buku, selamatkan alam dengan kesadaran kita agar peradaban dapat digapai oleh semua anak bangsa.
Pada saat ini kita hidup di abad 21, di mana zaman menjadi maju, teknologi, industri, transportasi dan sebagaimana lainya tumbuh dengan cepat. Dapat dikata hal tersebut hadir setelah datangnya abad pencerahan(renainsans), begitu mudah hidup kita, mesin-mesin pembantu telah tersedia, ekonomi tumbuh pesat, tata kelola pemerintahan melakukan pembangunan hingga perencanaan.
Namun, dibalik semua itu bukan tidak mungkin masalah-masalah sosial hadir ditengah-tengah modernisasi tersebut. Cepatnya pertumbuhan ekonomi dan teknologi juga berakibat terjadinya ketimpangan. masalah kemanusiaan yang dikesampingkan akibat orientasi pertumbuhan ekononi dan pembangunan di era masyarakat industri, terlebih liberalisasi perdagangan, perbankan, dan hal semacam lainya yang berujung pada sistem neoliberalisme, yang dengan singkat dan sejarahnya, genggaman pasar bebas dalam rangka pertumbuhan diatur dan dinikmati pada segelintir orang saja, yang berujung pada sistem dan sikap kapitalisme.
Dari keseluruhan hal diatas, jalan neoliberalisme, kapitalisme, semakin kencang arusnya pada suatu ketika berbagai negara terintegrasi satu dengan lainya, yang dipelopori oleh negara-negara maju, singkatnya hal ini dapat dinamai globalisasi, dampak dari aktivitas tersebut negara berkembang akan mengalami gejolak dalam berbagai hal, yang mengakibatkan ketidak sejahteraan rakyatnya.
Melihat aktivitas dan lingkaran sistem itu, munculah banyak organisasi, dalam rangka mencapai masyarakat yang madani secara ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya. Lsm, persyerikatan, persatuan, komunitas, komunikator politik, gerakan mahasiswa dan masih banyak lagi mulailah bermunculan sebagai bentuk perlawanan atas aktivitas sistem yang dalam kacamata mereka membuat ketimpangan dalam tatanan sosial
Model gerakan perlawanan organisasi kala itu, beragam macamnya, misal dengan berdialog, bersuara, berkerumun dan segala macam cara yang lain untuk dapat menyuarakan apa yang mereka rasakan.
Tak lama kemudian, kondisi struktur masyarakat lebih bisa berkembang serta diiringi masalah-masalah politik yang tak menuai titik jelas tujuanya, organisasi perlawanan itu mulai mengganti model perlawanan yang baru, yang sering disebut saat ini yaitu gerakan sosial baru. Singkat perbedaan model geraknya seperti kefokusan pada satu isu, dan metode gerak yang semakin jelas dan rinci.
Hadirnya organisasi perlawanan jika kita meminjam istilah Antonio Gidens adalah jalan ketiga, dalam rangka mencapai suatu keseimbangan. Karena kesadaran masyarakat di muka bumi ini masihlah heterogen. Jika kita mencoba menengok kebelakang masalah ini juga terjadi di Athena, yang sering dilekatkan pada filosof Socrates.
Lalu, hari ini permasalahan semakin bermunculan yang juga tidak terlepas daripada hal diatas, juga ditengah-tengah siulan ceriwis burung kutilang, daun yang melambai, padi mengembang, kabut menyelimuti, yang semua itu mulai beranjak tiada akibat aktivitas yang sempat disampaikan diatas.
Sekurang-kurangnya, bagi organisasi perlawanan sekarang hal yang bisa dilakukan adalah bagaimana membuat anggotanya memiliki kesadaran kritis, dengan cara "membaca buku" atau meliterasi diri. Berharap kepada pendidikan formalpun seperti tiada nilai yang melekat pada esensinya, sama konteksnya seperti apa yang dikritik Paulo Freire kala itu.
Harapanya membaca buku dapat menjadi pisau analisis untuk memperoleh kesadaran dan ilmu pengetahuan, untuk dapat bergerak mengatasi hal yang dirasa timpang atas reaksi nalar kritisnya yang berangkat dari kesadaran yang diperoleh saat membaca buku.
Dengan seperti itu, alasan apalagi untuk kita mengelak dalam membaca buku, banyak intelektual sudah melakukan hal yang abadi dengan menulis(pram) yang sejatinya dapat kita hargai dengan membacanya.
Sudah saatnya kita beranjak meninggalkan buta wacana, aksara dan buta baca buku. Mari berorganisasi dan membaca buku, selamatkan alam dengan kesadaran kita agar peradaban dapat digapai oleh semua anak bangsa.
Comments
Post a Comment