Jika kita mencoba menghayati untuk menemukan jalan yang lurus, dalam fenomena ibadah sholat jumat yang merupakan wujud dari sikap dan laku beragama umat Islam secara transendensi ilahiyah kepada sang pemilik gusti Allah.
Berangkat dari itu, dihadirkanya sholat jumat bukan semata hanya ritual peribadatan semata, melainkan ada proses mencari untuk menemukan jalan yang lurus, perihal ini telah termanifestasikan dalam satu dari sekian rukun sholat jumat yakni khotbah, dimana khotib menyampaikan pesan agamis seperti kisah teladan rasul maupun penjabaran kandungan isi makna dari isi Al Quran.
Jika kita mencoba mengambil hikmah dari proses ibadah sholat jumat, tentu merupakan suatu hal yang bermanfaat dan dapat memberikan kita pesan moral untuk berbuat baik dalam tatanan lingkungan sosial.
Untuk mendapatkan hal lebih dari apa yang disampaikan saat khotbah berlangsung, kita yang berlaku sebagai jamaah harus pintar menyimak apa yang disampaikan khotib. Jika kita meminjam apa yang dikemukakan Paulo Freire yang menghadirkan pendekatan "hadap masalah" atau dialogis sebagai ejawantahan dari fenomena "pendidikan bank". Dalam artian khotib dan jamaah sebagai penyimak mampu memposisikan dirinya sama-sama sebagai subjek, terlebih lagi jamaah sholat jumat harus dapat berinteraksi dengan pesan yang disampaikan khotib secara "non verbal" dengan harapan jamaah mampu mendapatkan sintesis dari penyampaian khotbah tersebut.
Karena reinterpretasi kembali terhadap apa yang telah disampaikan khotib dapat membantu kita dalam proses pencarian jalan yang lurus, jika kita mencoba menyandingkan apa yang disampaikan khotib, dengan pendekatan sintetik-analitik yang dihadirkan oleh Kuntowijoyo sebagimana dijelaskanya tentang teks yang berisi kisah pada era rasul serta teks yang bersifat konstruk yang mempunyai nilai dan sarat akan makna yang dapat kita interpretasikan kembali menjadi pengetahuan.
Hal diatas hanya sebatas upaya untuk menggali lebih dalam lagi proses ibadah kita sebagai umat Islam, agar tidak berhenti pada praktik simbolik semata, dan pada akhirnya kitalah yang menjadi hamba Allah, dan sabagimana dapat patuh terhadap keyakinan kita sebagai wujud dari sikap peribadatan agama
Berangkat dari itu, dihadirkanya sholat jumat bukan semata hanya ritual peribadatan semata, melainkan ada proses mencari untuk menemukan jalan yang lurus, perihal ini telah termanifestasikan dalam satu dari sekian rukun sholat jumat yakni khotbah, dimana khotib menyampaikan pesan agamis seperti kisah teladan rasul maupun penjabaran kandungan isi makna dari isi Al Quran.
Jika kita mencoba mengambil hikmah dari proses ibadah sholat jumat, tentu merupakan suatu hal yang bermanfaat dan dapat memberikan kita pesan moral untuk berbuat baik dalam tatanan lingkungan sosial.
Untuk mendapatkan hal lebih dari apa yang disampaikan saat khotbah berlangsung, kita yang berlaku sebagai jamaah harus pintar menyimak apa yang disampaikan khotib. Jika kita meminjam apa yang dikemukakan Paulo Freire yang menghadirkan pendekatan "hadap masalah" atau dialogis sebagai ejawantahan dari fenomena "pendidikan bank". Dalam artian khotib dan jamaah sebagai penyimak mampu memposisikan dirinya sama-sama sebagai subjek, terlebih lagi jamaah sholat jumat harus dapat berinteraksi dengan pesan yang disampaikan khotib secara "non verbal" dengan harapan jamaah mampu mendapatkan sintesis dari penyampaian khotbah tersebut.
Karena reinterpretasi kembali terhadap apa yang telah disampaikan khotib dapat membantu kita dalam proses pencarian jalan yang lurus, jika kita mencoba menyandingkan apa yang disampaikan khotib, dengan pendekatan sintetik-analitik yang dihadirkan oleh Kuntowijoyo sebagimana dijelaskanya tentang teks yang berisi kisah pada era rasul serta teks yang bersifat konstruk yang mempunyai nilai dan sarat akan makna yang dapat kita interpretasikan kembali menjadi pengetahuan.
Hal diatas hanya sebatas upaya untuk menggali lebih dalam lagi proses ibadah kita sebagai umat Islam, agar tidak berhenti pada praktik simbolik semata, dan pada akhirnya kitalah yang menjadi hamba Allah, dan sabagimana dapat patuh terhadap keyakinan kita sebagai wujud dari sikap peribadatan agama
Comments
Post a Comment