Persoalan dunia hari ini
semakin rumit adanya, ketimpangan sosial semakin dapat dilihat, dibaca melalui
data dan nalar perasaan. Benang merah dari itu semua dapat kita ketahui jika
dianalisa lebih jauh dan mendalam, misalnya dari kebijakan politik yang kurang
menguntungkan, dan hanya menguntungkan disisi lain saja. Dengan penduduk negeri
yang semakin banyak, serta pembangunan fisik yang semakin berkembang,
lingkungan kita seraya semakin ramai. Akan tetapi ramai juga kemiskinan yang
ada, masih kita dapatkan orang-orang yang dilemahkan secara kesadaran dan
materi. Alih-alih pentingnya pendidikan untuk menjawab itu semua juga semakin
ambigu, banyak koruptor-koruptor berdasi yang masih berlaku di ruang
pemerintahan, kebijakan politik yang memihak para pemodal(borjuis), juga cerita
para proletar yang berusaha bebas dari persoalanya menjerit untuk mendapatkan
hak nya.
Kerja
Intelektual dan Gerakan Sosial Untuk Menjawab Persoalan
Ilmu pengetahuan
berkembang sudah sejak dari zaman Yunani kuno, para filsuf mengemukakan hasil pemikiran kosmosentrisnya.
Singkatnya di Athena kala itu zaman hidup-kehidupan semakin ramai, persoalan
satu dengan lainya banyak yang terjadi, aparatur negara sudah berdiri,
keresahan akan paham dogmatis yang mengukung menjadi paham keyakinan(teologi)
menjadi masalah bagi filsuf-filsuf zamaan keemasan, terjadinya dehumanisasi
akibat mitologi Yunani mulai dijawab dengan pemikiran para filsuf kala itu. Hingga
puncaknya dizaman Renainsans manusia menemukan puncak kebebasan berpikir, dan
berkuasa melalui pemikiranya. akan tetapi kebebasa tersebut sedikit banyak juga
kembali mengakibatkan dehumanisasi, dan krisis nir nilai keyakinan atau
transenden.
Ilmu sosial barat telah
berdiri sendiri, akan tetapi hari ini, dikala masalah sosial semakin kompleks
ingtegrasi ilmu pengetahuan dapat dilakukan utuk menjawab dan menjadi pijakan
teori dalam bergerak diranah sosial, secara sederhana ilmu pengetahuan menjadi
pisau analisis untuk kita bergerak.
Lalu siapakah seorang
intelektual itu ?, jika dahulu para rasul membawa misi kemanusiaan akibat
kentimpangan kehidupan sosial, lalu hari ini siapa yang menggantikan tugas para
rasul itu. Jika kita meminjam istilah dari Ali Syariati seorang ideolog dari
Iran, kaum intelektual baginya adalah “ RausanFikr” dalam arti ialah insan yang
tercerahkan dalam pikiranya dan perbuatanya, RausynFikr juga menemukan
kebenaran dari nalar berpikirnya, dan memafhumi nilai-nilai transformatif para
rasul terdahulu(Jalaludin Rakhmat, Ali
Syariati Ideologi Kaum Intelektual)
Jiwa dan sifat profetik
juga dapat disandingkan dengan tugas para intelektual, sejarah muculnya
profetik jauh dan lama adanya, dari Ali Syariati, M Iqbal, Garaudy dan beberapa
filsuf barat yang lain, yang juga sempat diilmuisasikan oleh intelektual Muslim
Indonesia Dr. Kuntowijoyo dengan ISP (Ilmu Sosial Profetik) selain mendapat
inspirasi dari filsuf barat dan muslim, Ilmu Sosial Profetik dari kuntowijoyo
juga berpijak dari surat Ali Imran ayat 110, dalam artian dari integrasi ilmu
pengetahuan tersebut, Islam yang menjadi teologi(keyakinan) dapat bergerak
menjadi teoritis ke ranah sosiologis untuk mampu membaca persoalan sosial dan
menjadi landasan geraknya. Dalam hal ini Dr. Kuntowijoyo menyebutnya dengan
Humanisme Teosentris(Halim Sani,
Manifesto Gerakan Intelektual Profetik)
Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah : Organisasin Perkaderan dan Gerakan Sosial
Paulo
Freire(Brazil,1921) dengan pelbagai masalah yang dihadapinya
untuk menghadapi persoalan pendidikan kala itu, yang juga membongkar kebudayaan
bisu, membagi tingkatan kesadaran manusia menjadi tiga. Pertama, magis, kedua, naif,
dan ketiga kritis. Untuk mengetahui
dan membagi dalam rangka mencapai kesadaran kritis menurut Paulo Freire butuh
melalui ketiga tahapan tersebut dimulai dari ketidaktahuan, jika disamakan
dengan analogi perkaderan IMM, yakni pedagogi, andragogi, dan sinergosi.
Muhammadiyah(1912) dengan segenap cita-citanya, dan
semangat gerakanya mengharapkan negara yang baldatun thayyibatun wharabun
ghafur, masyarakat, negara yang bersih, suci, tentram dan sejahtera dalam
budaya dan beragama. Muhammadiyah juga sebagai ranah perkaderan dan gerakan
sosial.
Dalam geraknya,
Muhammadiyah mengembangkan sayapnya dengan mendirikan ortom(organisasi otonom).
Salah satunya adalah IMM(Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) yang berdiri sejak 14
Maret 1964. Dalam balada banyaknya organisasi pergerakan mahasiswa di
Indonesia, sebut saja FMN, PMII, HMI, SEKBER, SOPINK, PEMBEBASAN, KAMMI dan
masih banyak lainya, IMM juga masuk dalam jajaran satu dari organisasi
pergerakan mahasiswa tersebut, walaupun berbeda kepentingan, akan tetapi jika
dilihat dalam kacamata vertikakal, hal yang dihadapi organisasi itu semua
adalah sama, sama-sama melihat ketimpangan sosial dengan sama-sama menggunakan
pisau analisisnya, sama-sama mengharapkan negara yang ideal, sejahtera dan
aman. Tekhusus HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) yang dapat dikata masih dalam
keluarga IMM, melihat para founding father IMM terdahulu juga lahir dari internal
HMI(baca:Kelahiran Yang dipersoalkan).
Dalam hal ini, juga
timbul pertanyaan ambiguitas gerakan IMM, apakah sebagai gerakan sosial kiri
atau juga. Dengan aktivismenya gerakan kiri jelas akan keterpihakanya kepada kelas
proletar dengan pelbagai masalah seperti kata Marx, atau kiri yang terlalu
konservatif dan tidak jelas arah keterpihakanya. Jika gerakan kiri, berpihak
atas orang yang ditindas dengan kajian dan fokus masalah tertentu, misalkan
agraria, pendidikan, politik dan lain sebagainya IMM juga kalanya juga bergerak
sama adanya. Jika gerakan kiri diisi
oleh para intelektual, bernalar kritis dan bermisi transformatif, IMM juga
melakukan hal yang demikian untuk mencapai terwujudnya cita-cita Muhammadiyah. Dan
sejatinya IMM dan banyaknya organisasi pergerakan mahasiswa dapat bersatu untuk
melawan penindasan, dan meliterasi masyarakat demi terwujudnya negara yangt
ideal untuk kemaslahatan bersama.
Lalu yang menjadi
perbedaan IMM dengan yang lain adalah suatu nilai transendental, nilai agamis
atau intuisi teosentris(keagamaan). Atau gerakan profetik yang mempunyai
semangat berlaku pada rasulNya, yang harus diemban oleh kader IMM. Segala
gerakan transformatif sesuai tujuan IMM adalah atas kesadaran teologi agama
Islam yang mengajarkan nilai kemanusiaan. Yang sempat diparafrasekan menjadi
IMM menjadi gerakan intelektual profetik yang mempunyai semangat humanisasi,
liberasi, dan transendensi (baca:ISP)
Maka jelas, dalam gerak
IMM mempunyai dua roda siklus, pertama, IMM sebagai organisasi perkaderan, dan
IMM juga sebagai gerakan sosial. Kedua hal tersebut harus lancar berputar
sebagaimana mestinya, selanjutnya adalah pembangunan manusia(kader) untuk
mencapai pribadi yang unggul, berkuasa atas pikiran dan lakunya, untuk mecapai
sifat RausynFikr ala Syariati, profetik ala Kuntowijoyo, dan juga Intelektual
Organik seperti Gramsci.
Dan sebagai penegasan,
muculah penegasan yang berisikan enam poin untuk meluruskan IMM agar tetap pada
rel koridor juangnya, enam penegasan ini diadakan di Solo kala itu, atau yang
sering disebut sebagai deklarasi kota barat, pada Muktamar 1965
“ IMM adalah gerakan mahasiswa Islam
Kepribadian Muhammadiyah adalah
landasan perjuangan IMM
Fungsi IMM adalah sebagai eksponen
mahasiswa dalam Muhammadiyah
Ilmu adalah amaliyah IMM dan amal
adalah ilmiyah IMM
IMM adalah organisasi yang sah
mengindahkan segala hukum dan peraturan negara
Amal IMM dilahirkan dan diabadikan
untuk kepentingan agama nusa dan bangsa “
Rendi Eko Budi S
Rendi Eko Budi S
Referensi Pustaka :
Jalaludin
Rakhmat, Ali Syariati Ideologi Kaum Intelektual
Halim
Sani, Manifesto Gerakan Intelektual Profetik

Comments
Post a Comment