Skip to main content

" Jangan Hancurkan Rumah Besarmu"




Melirik Sekilas Sejarah
Dunia dalam persoalan hari ini semakin ramai dan kompleks akan permasalahan politis dan sosial, baik itu vertikal maupun horizontal. Semangat bangkitnya ghiroh ilmu pengetahuan dalam rangka mencari hakikat yang ada ataupun kebenaran, mulai muncul, dari zaman yunani kuno yang bias akan spekulatif, abad pertengahan dengan masa keterpurukan dan kebangkitan, hingga zaman kita (Dunia Ketiga) yang begitu sesak akan persoalan diberbagai dimensi.
Melihat mundur ke kiri, periodesasi berdasarkan garis koordinat matematika. Zaman keemasan, transisi antara mazhab miletus yang berakhir ditangan filsuf Democritus, dan berpindah haluan pemikiran ke Athena yang diawali oleh buah pemikiran Socrates kala itu. Dalam era zaman keemasan, kritik atas pemikiran filsuf yunani kuno yang terlalu berkutat pada pembahasan kosmosentris dalam ontologi filsafat.  Bagi Socrates dan para filsuf lainya, yang berkembang di Athena kala itu, melihat kondisi sosial yang terhegemoni oleh dogma dogma totemisme sejak zaman Plato, sudah tidak memungkinkn lagi untuk membahas dan memikirkn hkikat terbentuknya alam semesta, yang bagi filsuf masa keemasan dapat mengakibatkan dehumanisasi. Berangkat atas persoalan itu, tidak sedikit produk pemikiran Socrates dan kawan kawan beralih pada pencarian kebenaran sejati dan masalah politik dan sosial.
Tidak berhenti sampai disitu, perputaran pemikiran untuk menjawab persoalan sosial masih ada hingga zaman kita sendiri, atas dasar itu, perlu menurut penulis membaca sejarah untuk menatap dan menjawab persoalan berikutnya.

Muhammadiyah dan Perjuangan Terdahulu
Semangat perjuangan atas kondisi ketimpangan di ranah sosial sudah sejak lama ada, sebut saja marxis, yang memperjuangkan masyarakat tanpa kelas, (Borjuis & Proletar). Dan juga para filsuf aliran strukturalisme, serta para pemikir islam di abad pertengahan. terlepas dari pergulatan itu, Muhammadiyah sebagai organisasi perkaderan dan sosial. Menilik AD dan ART, tujuan didirikanya Muhammadiyah adalah “ baldatun thayyibatun warabbun ghafur”. Jika dikontekstualisasikan di era berdirinya Muhammadiyah (1912) hal dan persoalan terdekat kala itu, bagi Muhammadiyah dan pendirinya KH. Ahmad Dahlan yaitu TBC (Tahayul, Bid’ah, dan Curofat).
            Tidak hanya berhenti disitu, untuk memperlebar sayap dakwahnya Muhammadiyah memiliki berbagai organisasi otonom, seperti Pemuda Muhammadiyah, Ikatan pelajar Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Hizbul Wathan, Aisyiyah, dan lainya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah : Urgensi Terdekat Untuk Mencapai Tujuan Ikatan
            Setengah abad perjalanan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, terlepas dari problematika berdirinya kala itu (lihat: kelahiran yang dipersoalkan, GKM, TSM). Tidak terlepas dari permasalahan eksternal dan internal. Membaca mukatamar IMM di Solo tahun 1965, terbitlah deklarasi ikatan, atau yang biasa disebut 6 penegasan IMM :
1.     IMM adalah gerakan mahasiswa
2.    Kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM
3.    Fungsi IMM adalah sebagai eksponen mahasiswa
4.    Ilmu adalah amaliah IMM dan amal adalah ilmiah IMM
5.    IMM adalah organisasi yang sah mengindahkan segala hokum, undang-undang,
Peraturan dan falsafah Negara yang berlaku
6.    Amal IMM dilahirkan dan diabadikan untuk kepentingan agama, nusa dan bangsa
Keenam penegasan diatas yang lahir di kota barat Solo juga memunculkan trilogi ikatan yang meliputi Keagamaan, Kemahasiswaan, Kemasyarakatan.Dalam rangka mencari urgensi terdekat yang harus dilakukan para kader IMM bagi penulis, sebelum melangkah jauh taktis ke ranah aktualisasi, munculah beberapa pertanyaan berangkat dari 6 penegasan dan trilogi IMM :
1.     Apa tujuan IMM?
2.    Kontekstualisasi Operasional IMM ?
3.    Apa tugas Mahasiswa ?
4.    Apa tugas Intelektual ?
Melihat tujuan IMM dalam AD IMM bab II pasal 6 adalah “Mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berahlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah”. Membaca, dan berangkat dari redaksi diatas, bagi penulis dapat dianalisis menjadi dua bagian dari redaksi tersebut. Mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berahlak mulia : tugas kaderisasi. dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah : gerakan social.
            Cukup berat perjuangan kader-kader IMM untuk menjawab berbagai persoalan hari ini, organisasi otonom yang bergerak dalam ranah mahasiswa ini mempunyai tugas melakukan transformasi social untuk megupayakan tatanan dan masyarakat yang ideal, seperti sebagian banyak cita-cita berbagai organisasi pergerakan mahasiswa.
            IMM yang menjadi basis eksponen mahasiswa terutama di perguruan tinggi Muhammadiyah mempunyai rivalitas yang cukup kompleks, jika disandingkan dengan amnesty aktivitas kegiatan dan lembaga kampus, maupun perpolitikan dikalangan mahasiswa. Terlepas dari euforia tersebut, jelaslah sebagai insan atau organisasi yang sama-sama mempunyai tujuan untuk kebaikan Negara, masalah-masalah vertical dan sosial, yang menjadi hal terdekat dalam ranah aktualisasi.
            Dalam permasalahan dunia ketiga, hari ini. nir-kekerasan yang terjadi dalam kelas-kelas sosial terjadi dengan terstruktut(sturtural) sama seperti yang dicemaskan oleh para filsuf aliran strukturalisme. Kontekstualisasi mahasiswa dan organisasi pergerakan, terkhusus IMM untuk melihat dan menjawab persoalan hari ini adalah bagaimana mencari hakikat yang dijalani, sebagai diri seorang mahasiswa yang berintelektual dan membawa visi dan misi Muhammadiyah.
            Jika kita meminjam apa perkataan Buya Syafii Maarif, “ kerja intelektual adalah kerja seumur hidup”. Berangkat dari perkataan diatas, penulis mencoba menguraikan lebih dengan radikalisasi makna. Bagi Buya Syafii dalam buku tri kompetensi dasar IMM, tugas intelektual idealnya adalah melakukan transformasi sosial maupun juga sebagai batu loncatan mengenai masalah-masalah kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan.
            Jika kita menengok kembali pada zaman keemasan, setelah Socrates. Plato menggambarkan bahwa Negara harus dipimpin oleh filsuf, yang mempunyai kepekaan sosial, berlaku adil dan berpendidikan.
            Hegemoni dari hari ke hari semakin Nampak jelas, dan terstruktur, seperti apa yang dikatakan para pemikir aliran strukturalis hingga dekontruksi, seperti Derrida tokoh yang memperkenalkan post strukturalis, menentang totemisme yang dogmatis hingga menyebabkan teologi, yang selanjutnya di sebut reduksi logosentrisme, sebelum ia(Derrida) membuat tesis baru dari perkawinan strukturalisme dan post strukturalis menjadi dekontruksi.
`          tidak hanya berhenti sampai disitu saja, persoalan hari ini bahkan lebih kompleks dari apa yang dilihat Marx, Gramsci, Freire dan para pemikir lainya. Melihat hal ini, sama juga seperti apa yang dikatakan Jean Baurdrllard(1929), yang memperkenalkan dunia simulasi yang didalamnya terdapat konsep simulacra, dimana ada reproduksi ulang dari fenomena dan peristiwa. Para pemikir terdahulu dengan sejarah dan lingkungan sosialnya dikala itu, seperti m,engingatkan zaman yang akan datang, bahwa persoalan dunia akan semakin kompleks, yang selanjutnya oleh Baurdrllard disebut dunia atau ralita simulacra. Terlepas dari apa yang penulis sampaikan diatas. Kehadiran intelektual maupun organisasi-organisasi yang bergerak sebagai eksponen mahasiswa sejatinya menjawab atas persoalan tersebut.
            Jika kita meminjam teori yang dikemukakan oleh Antonio Gramsci, yang mengatakan untuk melakukan hegemoni dalam rangka mencapai kesinambungan yang baik antara rakyat dan Negara diperlukan seorang intektual, yang selanjutnya oleh Gramsci di bedakan menjadi dua kategori intelektual, tradisional, dan organik. Yang ,menurut Gramsci, untuk merubah tatanan Negara yang lebih baik butuh para intelektual organic yang benar menginginkan perubahan untuk rakyat, yang dapat bekerja dalam siklus perputaran dari atas kebawah dan sebaliknya(baca Gramsci).  Begitu pula dengan Nietzche, yang mengatakan manusia haruslah mempunyai moral dan nilai seni dalam rangka mencapai keunggulan yang paripurna “Ubermansc” untuk menghadapi persoalan yang tak kasat mata, yang hanya mampu dibaca dengan nalar kritis.
            Dewasa ini, urgensi terdekat IMM dalam mencapai kesadaran kolektif sangatah penting. Hal ini yang harus dipupuk sejak dini melalui ideologisasi dan penerapan budaya organisasi, dalam rangka menerima kesadaran kritis. profetik misalkan, yang dikenalkan oleh pemikir islam, seperti Muhammad Iqbal, Muhammad Abduh, Roger Groudy, hingga ke Prof. Kuntowijoyo yang mengembangkanya melalui Ilmu Sosial Profetik, bagaimana menjawab persoalan sosial dengan integralisasi ilmu sosial barat, abad pertengahan dan islam, dan tetap mengutamakan transendensi teosentris dalam aktualisasinya.
            Kontekstualisasi profetik dalam ranah gerak IMM, juga sempat dibawa oleh Halim Sani hingga sekarang, dalam bukunya Manifesto Gerakan Intelektual Profetik, Halim Sani berbicara mengenai ikatan, hakikat manusia, metodologi dan pentingnya profetik sebagai gen perjuangan IMM.
            Proses pemahaman ideologisasi dan berwacana gagasan untuk kader komisariat hingga tataran cabang dalam kontekstualisasi IMM bagi penulis cukup berat dan penting, untuk memperlancar proses sirkulasi perkaderan ikatan dan Muhammadiyah. sr.rendi


Referensi :
Manifesto Gerakan Intelektual Profetik
Gagasan-Gagasan PolitikAtonio Gramsci
Teori Sosiologi Ritzer

Comments

Popular posts from this blog

Dibuang Sayang 3

Tadabur Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo Oleh   : Rendi Eko Budi S / Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi UMY 2014 Menilik sekilas perkembangan ilmu pengetahuan dalam sejarah, dapat kita bagi berdasarkan periodesasi filsafat, yang biasanya sering dimulai dari zaman Yunani kuno, dalam kurun waktu 624 – 370 SM. Dalam kurun waktu di tahun tersebut berkembanglah pengetahuan dan keyakinan yang bermula dari kepercayaan mitologi dan dewa dewa, serta pandangan sentral akan asal muasal alam raya, atau dapat juga disebut dengan kosmosentrisme. Beranjak dari pelbagai mitologi yunani, hadirlah para filosof zaman Yunani kuno yang dapat disebut juga filosof pra Socrates: Filsafat Alam, banyak filosof yang lahir di zaman ini seperti Thales, Phytagoras, Heraklitus, Demokritus dan masih banyak lagi. Para filosof itu mencetuskan buah pikiranya, dengan seri diskursus kosmosentris melalui berbagai cara memperolehnya (epistimologi) baik secara empiris, rasional maupun intuisi, yang selanjutnya buah dar...

Kesunyian Übermensch om berkumis

Gambar berasal  di sini Bagiku, dalam hal pendiasporaan sangatlah dibutuhkan kekuatan "organik" yang berangkat dari akar rumput, maka dari itu sangatlah perlu kita meluaskan pandangan dan pengetahuan, "mekanik" akan selalu menjadi patronya untuk mencapai suatu etikat kebersamaan dan kebijaksanaan. kekuatan organik yang dipupuk sejak awal, dengan penuh kasih dan perenungan pastilah sangat menghindari  "itik se attelor, ajam se ngeremme" .  kekuatan itu akan selalu diharapkan semua umatnya. karena lahir untuk mengasihi semua umatnya, dan dimiliki oleh bersama dalam satu ikatan kebersamaan.(Rendi)

Peradaban jogja

Oleh   : Rendi Eko Budi S / komfak fisipol umy Jogja   kota menawan bagi para pelajar dan wisatawan Jogja menyimpan genangan cakrawala ilmu bagi setiap insan Jogja punya seribu satu cerita tentang problematika kehidupan                 Disana, terlahir cendikiawan abadi dan berpendidikan                 Bersama kisah pilu merebut kemerdekaan Jogja punya cerita cinta dengan pelancong kehidupan Cinta, budaya, agama, warna dan angkringan                 Kini, jogja ramai ringkih dan rentan                 Ramai, gedung pencakar yang mengusik nostalgia angkringan                ...