Kuantitas umat
islam yang besar, merupakan pasar besar bagi kapital-kapital besar (M.S)
Dewasa ini, berbicara mengenai media dan agama seperti masalah kontemporer yang sangat empuk dibahas, mulai dari sejarah perkembangan islam hingga awal mula percetakan digunakan dan perkembangan dunia menuju ere moderenisasi dan berteknologi,
Agama sendiri adalah sesuatu yang suci dan mempunyai intuisi yang tinggi. Emile Durkhaim salah seorang sosiolog agama juga menawarkan sebuah konsep mengenai agama yaitu sakral dan profane, agama sendiri identik dengan penjelasan secara teks dan lisan, bisda dilihat dengan kitab suci beberapa agama, serta periodisasi filsafat ilmu yang disetiap orde menghasilkan sebuah karya melalui teks tulisan
Ketika zaman telah sampai pada abad dewasa ini, masalah agama masih menjadi jantung kehidupan umat,disisi lain teknologi dan media massa berkembang sangat pesat dan industri berkapitalis yang merajalela. Welaupun zaman serta teknologi telah beerkembang maju, tidak dengan agama, sifat agama yang diyakini luhur dan sakral tidak memungkinkan berubah menjadi elastis mengikuti perkembangan. Lantas bagaimana ketika tekonologi semakin berkembang, media massa telah menjadi sebuah alat kekuatan di dunia, lalu bagaimana posisi agama yang dibeberapa tempat menjadi dominan dengan kuantitas yang bsar.
Tahun 1920 di Amerika Serikat media massa telah berkembang menjadi industri dan alat politik komersil, tentu itu menjadi masalah tersendiri, agama terancap menjadi bahan komersil olehmedia massa untuk mendapatkan sebuah keuntungan. Terlepas itu sejatinya agama tidak lepas dari teks tulisan yang abadi, dengan agama yang diangkat media, kesucian agama yang juga sakral terancam kehilangan keontetikanya.
Menghadapi media massa yang memanfaatkan kuantitas besar, dijelaskan dalam buku David Morgan bahwa kaum-kaum beragama yang juga terdoktrin oleh pemikiran marxisme mulai kritis terhadap idustri media massa yang kapitalis, mulai menghindari “dakwah” atau ajaran agamanya disebarluaskan melalui media massa, karena masalah keontentikan sebuah agama dan kitab suci dengan teksnya. Para kaum yang tertindas juga tidak serta meningggalkan media yang dirasa mengganggu agama mereka, akan tetapi untuk menyebarluaskan ajaran
Agamanya mereka menggunakan media cetak atau media baru dengan tetap menggunakan teks tulisan untuk akhirnya.
Dengan masalah yang cukup kompleks tersebut, agama dan media massa tidak selaras seperti dua kutub magnet yang saling bertolak. agama sendiri telah dijiwai oleh para pengikutnya dengan ketenangan jiwa, dengan berpedoman kitab yang diyakininya yang sebagian besar ada dalam teks dan kalimat indah. Media
Media massa sendiri banyak macamnya, mulai dari surat kabar hingga pertelevisian, yang semakin modern dan besar, akan tetapi mempunyai masalah yang sama dan kontemporer, yaitu memanfaatkan fenomena “ profane “di lingkungan masyarakat, sosial budaya, maupun agama untuk dijadikan komoditas public dengan tidak mementingkan keaslian sebuah teks agama dan nilai profetik.
Review buku “Key Words in Religion, Media and Culture” David Morgan/ Bab religi & Media
Benang Merah :
Agama dan media adalah tidak bias sejalan dan selaras satu tujuan, agama diyakini mempunyai kesakralan yang dapat dirasa dengan intuisi. Kekinian media massa semakin gencar akan komodifikasi mengenasi agama, sosial dan budaya, hingga dapat mengakibatkan kostruksi pemaknaan serta stereotype tertentu

Comments
Post a Comment