Skip to main content

Hipodermic Theory : Propaganda Politik dan Praktiknya




Propaganda secara sederhana dapat diartikan sebagai informasi yang disebarkan untuk mempengaruhi dan membentuk sikap dan pikiran sekelompok orang. Propaganda adalah fenomena sosiologi yang ada dalam setiap masyarakat sejak jaman pra modern. Oleh karena itu, propaganda bukan barang using yang hanya digunakan oleh dictator atau rezim otoriter. ( Rianne Subijanto dalam Indoprogres)
                Agitasi propaganda yang dikerucutkan dalam studi komunikasi politik adalah merupakan alat yang digunakan untuk mem perngaruhi khalayak baik itu untuk kepentingan subyektif maupun untuk kemaslahatan bersama. Propaganda lahir oleh medium yang sangat signifikan, adalah media massa yang mampu menyuntikan opini public untuk berkicau masalah kebijakan-kebijakan pilitik pemerintahan yang berpengaruh dalam hajat hidup masyarakat.
                Jarum hypodermic atau yang biasa disebut dengan teori peluru, dahulu media massa degunakan untuk praktek propaganda politik dimana dimana media dapat menyuntikan “sesuatu” yang dapat mempengaruhi opini public dan pemaknaan tertentu.
                Propaganda tidak dapat dipisahkan oleh mediumnya yaitu media massa terutama dalam urusan politik praksis ataupun para elite politik yang ingin berkuasa. Media sendiri juga lahir sebagai “ Four Estate” pilar keempat Negara yang menjunjung demokrasi trasnparan untuk memantau kebijakan Eksekutif, Legislatif dan yudikatif.
                Salah satu focus propaganda adalah efektifitas. Artinya, dalam teknik penyebaranya, bentuk da nisi pesan yang disampaikan dikalkulasikan secermat mungkin unyuk mencapai tujuan yang diinginkan. Propaganda yang efektif adalah sintesis dan manipulasi dari tiga hal berikut ini : symbol, retorika dan mitos. Selain itu, ada juga elemen-elemen propaganda lainya yang sering digunakan: manipulasi dan tipu daya, imitasi, konstruksi musuh dan bahasa yang merendahkan. Selain elemen propaganda ini, ada dua konsep penting dalam pendidikan melek media ( media literacy)yang penting dalam memahami proses bekerjanya propaganda: peran media dalam menetapkan agenda ( agenda setting) dan peran pemimpin opini dalam membentuk opini. ( analisis propaganda pemilu 2014 dalam Subijanto Rianne)
                Dalam praktiknya propaganda politik sangat besar , adalah ketika Indonesia sedang melakukan hajat besar yaitu pemilu pergantian presiden . pemilu pada tahun 2014 misalkan propaganda politik yang dilatarbelakangi oelh kepentingan subyektif sangata terasa, baik dipihak Prabowo maupun Jokowi, berikut adalah beberapa macam propaganda :
                Simbol adalah bentuk yang diberikan makna tersendiri contohnya , Ketika prabowo menggunakan lambang burung garuda yang melambangkan sifat  nasionalisme, dan memakai kuda serta senjata sebagai bentuk katria dan militer.
                Selain itu kita berpaling ke pihak calon presiden Jokowi yang mempraktikan propagandanya untuk mempengaruhi massa, contohnya ketika jokowi memakai kemeja kotak -kotak merah itu juga berpengaruh besar terhadap kalangan masyarakat yang juga sebagian besar mengikuti memakai kemeja persis yang dipakai idolanya jokowi, jokowi juga memakai kemeja berlengan panjang yang dilempit sampai ke siku yang menandakan bahwa ia adalah seorang yang suka bekerja keras yang dapat memimpin Negara.

                Berikut adalah praktik-praktik propaganda politik yang ada di Indonesia serta masih banyak lagi propaganda lainya. Dengan media propaganda semakin mudah dilakukan elite politik untuk menyuntikan apa yang inign disampaikan kepada public. ( Rendi )

Comments

Popular posts from this blog

Dibuang Sayang 3

Tadabur Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo Oleh   : Rendi Eko Budi S / Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi UMY 2014 Menilik sekilas perkembangan ilmu pengetahuan dalam sejarah, dapat kita bagi berdasarkan periodesasi filsafat, yang biasanya sering dimulai dari zaman Yunani kuno, dalam kurun waktu 624 – 370 SM. Dalam kurun waktu di tahun tersebut berkembanglah pengetahuan dan keyakinan yang bermula dari kepercayaan mitologi dan dewa dewa, serta pandangan sentral akan asal muasal alam raya, atau dapat juga disebut dengan kosmosentrisme. Beranjak dari pelbagai mitologi yunani, hadirlah para filosof zaman Yunani kuno yang dapat disebut juga filosof pra Socrates: Filsafat Alam, banyak filosof yang lahir di zaman ini seperti Thales, Phytagoras, Heraklitus, Demokritus dan masih banyak lagi. Para filosof itu mencetuskan buah pikiranya, dengan seri diskursus kosmosentris melalui berbagai cara memperolehnya (epistimologi) baik secara empiris, rasional maupun intuisi, yang selanjutnya buah dar...

Kesunyian Übermensch om berkumis

Gambar berasal  di sini Bagiku, dalam hal pendiasporaan sangatlah dibutuhkan kekuatan "organik" yang berangkat dari akar rumput, maka dari itu sangatlah perlu kita meluaskan pandangan dan pengetahuan, "mekanik" akan selalu menjadi patronya untuk mencapai suatu etikat kebersamaan dan kebijaksanaan. kekuatan organik yang dipupuk sejak awal, dengan penuh kasih dan perenungan pastilah sangat menghindari  "itik se attelor, ajam se ngeremme" .  kekuatan itu akan selalu diharapkan semua umatnya. karena lahir untuk mengasihi semua umatnya, dan dimiliki oleh bersama dalam satu ikatan kebersamaan.(Rendi)

Peradaban jogja

Oleh   : Rendi Eko Budi S / komfak fisipol umy Jogja   kota menawan bagi para pelajar dan wisatawan Jogja menyimpan genangan cakrawala ilmu bagi setiap insan Jogja punya seribu satu cerita tentang problematika kehidupan                 Disana, terlahir cendikiawan abadi dan berpendidikan                 Bersama kisah pilu merebut kemerdekaan Jogja punya cerita cinta dengan pelancong kehidupan Cinta, budaya, agama, warna dan angkringan                 Kini, jogja ramai ringkih dan rentan                 Ramai, gedung pencakar yang mengusik nostalgia angkringan                ...