Skip to main content

Multikulturalisme dalam Media




Multikulturalisme dalam Media
Oleh : Rendi Eko Budi Setiawan


Masyarakat Indonesia terdapat banyak suku, budaya, etnis, ras yang berbeda dan menjadi warna dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara ( Bhineka Tunggal Ika) Multikulturalisme adalah sebuah kebijakan yang pertama kali diperkenalkian di Amerika Serikat  pada tahun 1960-an, merupakan suatu pergeseran signifikasi dimana identitas dikonstruksi dalam  konteks modernitas barat. Multikulturalisme menandai ditinggalkanya universalisme barat maupun ideologi asimilasi monokultural (Chang  You  Hoon, 2012 : 7 ).
            Dewasa ini, Berbicara mengenai multikulturalisme banyak terdapat dilingkungan kita dan kehidupan sehari hari, mulai dari dilingkungkungan keluarga, tetangga, sekolah, universitas, instansi, olahraga dan masih banyak lagi, ketika kita mempunyai teman yang berbeda agama dan suku, perbedaan pendapat tentang sesuatu, semuanya itu adalah sebagian kecil contoh dari multikulturalisme.
            Atas dasar itu tidak sedikit tidak sedikit para peneliti yang mengangkat multikulturalisme dalam kajian dan tulisanya, sebut saja seperti kajian kritis oleh  Hendar Putranto tentang Kesetaraan Jender dan Multikulturalisme (2013), Aprinus Salam dalam risetnya tentang Politik Multikulturalisme dalam Novel (2009), dan kajian kritis dari suparlan yaitu Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikultural (2002).





Multikulturalisme dalam Media
            Lingkungan sekitar yang telah terdapat multikulturalisme serta para peneliti yang tertarik mengangkat multikulturalisme dalam kajian tulisanya, atas dasar itu multikulturalisme mempunyai warna tersendiri untuk yang tertarik membahasnya dengan realita multikultur yang dapat ditemukan semua orang dilingkungan sekitar.
            Multikulturalisme tidak hanya menarik dibahas dengan kajian tulisan saja akan tetapi multikulturalisme saat ini juga dilekatkan dengan media sehingga menjadi “ menu wajib” bagi para agenda setting media baik itu di media elektronik maupun media cetak, sebagai contoh dari pada multikulturalisme ada digenggaman media adalah ketika kita menonton televisi, film, sinetron atau acara televisi lainya, sebagai contohnya adalah film Cinta tapi Beda, film ini menunjukan bahwa dalam  masyarakat multikultur sekat – sekat pemisah itu masih ada dan sulit untuk dilewati. Film ini juga menimbulkan stereotip akan suku jawa yang terkenal akan agama islam sedangkan minang yang identik dengan kristen.
            Para kreator media seperti membuat multikulturalisme sebagai alat vital untuk menarik konsumen dan menambah ratting sebuah acara satu lagi penulis mencontoh program acara televisi yang ditayangkan oleh media televisi swasta yaitu Etnic Runway program acara tersebut menjelajah dan menjamak berbagai suku, budaya, ras serta etnic yang ada di Indonesia untuk dikenalkan kepada publci.
            Multikulturalisme juga lekat dalam dunia periklanan yang ada di media, multikultur seakan sangat membantu untuk mempengaruhi konsumen. Gambaran diatas adalah sedikit contoh – contoh bahwa multikulturalisme ada di genggaman media, yang tidak terpungkiri jika melihat media saat ini yang lebih mendahulukan profit dari pada tujuan dari adanya media tersebut. Akibatnya multikulturalisme juga sering dipersoalkan dkalangan masyarakat yang mengatas namakan program acara televisi yang mungkin menurut paradigma beberapa oknum mengandung doktrik terhadap budaya, suku, ras, dan etnic tertentu.
            Demikian adalah review dari pembahasan multikulturalisme dalam media yang semakin beranekaragam. multikultur tidak bisa dihindarkan dari kehidupan manusia, serta bagaimana kita sebagai mahluk sosial menyikapi adanya multikultur di sekitar kita.

Sumber : Komunikasi Multikultur / Filosa Gita Sukmono & Fajar Junaedi

Comments

Popular posts from this blog

Dibuang Sayang 3

Tadabur Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo Oleh   : Rendi Eko Budi S / Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi UMY 2014 Menilik sekilas perkembangan ilmu pengetahuan dalam sejarah, dapat kita bagi berdasarkan periodesasi filsafat, yang biasanya sering dimulai dari zaman Yunani kuno, dalam kurun waktu 624 – 370 SM. Dalam kurun waktu di tahun tersebut berkembanglah pengetahuan dan keyakinan yang bermula dari kepercayaan mitologi dan dewa dewa, serta pandangan sentral akan asal muasal alam raya, atau dapat juga disebut dengan kosmosentrisme. Beranjak dari pelbagai mitologi yunani, hadirlah para filosof zaman Yunani kuno yang dapat disebut juga filosof pra Socrates: Filsafat Alam, banyak filosof yang lahir di zaman ini seperti Thales, Phytagoras, Heraklitus, Demokritus dan masih banyak lagi. Para filosof itu mencetuskan buah pikiranya, dengan seri diskursus kosmosentris melalui berbagai cara memperolehnya (epistimologi) baik secara empiris, rasional maupun intuisi, yang selanjutnya buah dar...

Kesunyian Übermensch om berkumis

Gambar berasal  di sini Bagiku, dalam hal pendiasporaan sangatlah dibutuhkan kekuatan "organik" yang berangkat dari akar rumput, maka dari itu sangatlah perlu kita meluaskan pandangan dan pengetahuan, "mekanik" akan selalu menjadi patronya untuk mencapai suatu etikat kebersamaan dan kebijaksanaan. kekuatan organik yang dipupuk sejak awal, dengan penuh kasih dan perenungan pastilah sangat menghindari  "itik se attelor, ajam se ngeremme" .  kekuatan itu akan selalu diharapkan semua umatnya. karena lahir untuk mengasihi semua umatnya, dan dimiliki oleh bersama dalam satu ikatan kebersamaan.(Rendi)

Peradaban jogja

Oleh   : Rendi Eko Budi S / komfak fisipol umy Jogja   kota menawan bagi para pelajar dan wisatawan Jogja menyimpan genangan cakrawala ilmu bagi setiap insan Jogja punya seribu satu cerita tentang problematika kehidupan                 Disana, terlahir cendikiawan abadi dan berpendidikan                 Bersama kisah pilu merebut kemerdekaan Jogja punya cerita cinta dengan pelancong kehidupan Cinta, budaya, agama, warna dan angkringan                 Kini, jogja ramai ringkih dan rentan                 Ramai, gedung pencakar yang mengusik nostalgia angkringan                ...