Skip to main content

Bhineka Tunggal Ika dan Bahasa Indonesia Sebagai Relativisme dan Pemersatu







Bhineka Tunggal Ika dan Bahasa Indonesia Sebagai Relativisme dan Pemersatu
Oleh : Rendi Eko Budi S / Ilmu Komunikasi



Banyaknya budaya etnis ras dan golongan yang menimbulkan multikuiltur di negeri ini, atas dasar itu banyak gejala gejala yang terjadi positif maupun negatif teringat dengan semboyan “ Bhineka Tunggal Ika” dengan itu multikulturalisme dijunjung tinggi untuk menerapkan bunyi semboyan diaktifitas kehidupan sehari – hari.
Beberapa tahun silam publik digemparkan oleh media dimana terjadinya konflik di Provinsi Lampung, interaksi fisik antara suku asli lampung dengan sekelompok suku bali yang bermukim dan menetap di kota dalam Lampung, kasus ini banyak menimbulkan konsep Multikulturalime. Prasangka mislanya dimana etnis Lampung yang terkenal kejam, kasar dan emosional ini menjadikan etnis Lampung tak layak sebuah suku yang diminoritaskan oleh masyarakat untuk itu multikulturalisme harus diperjuangkan.
Tidak berhenti disitu masalah yang timbul akibat adanya multikultur di negeri ini, banyaknya kasus kejahatan seperti halnya teroris dengan modus menggunakan bom dan lain lain yang mengatas namakan agama islam, dengan kasus ini mucul lagi sebuah konsep multikulturalisme yaitu stereotype, ini mengacu pada stereotype masyarakat pada agama, dunia maupun benua asia sekalipun, benua asia yang notabene beragama islam menghasilkan stereotype dimasyarakat bahwa tindak kejahatan teroris selalu dilakukan pada negara negara timur maupun islam.
Relativisme mungkin satu dari banyaknya cara untuk menjunjung tinggi nilai nilai multikulturalisme, karena pada hakikatnya multikulturalisme adalah dimana masyarakat mengetahuai atau  menerima atas adanya kaum minoritas ( marjinal). Adanya kaum mayoritas dan minoritas realitanya memang ada di kehidupan sehari hari hal ini juga dapat -


menimbulkan sikap etnosentrisme di kalangan masyarakat dimana masyarakat menganggap bahwa budya atau sukunya lah yang paling kuat dari yang lainya atas dasar itu relativisme mampu menjawab semua pertanyaan dari konsep etnosentrisme, dengan mengamalkan semboyan “ Bhineka Tunggal Ika” etnosentrisme dapat teratasi.
Multikultur juga tidak selalu menimbulkan masalah sosial, multikultur justru dapat menjadi warna dalam kehidupan sehari hari dalam bermasyarakat dan bernegara, dengan pendekatan konsep akulturasi corak multikultur semakin berwarna, misalkan dengan menggabung kan budaya A dan B hingga menghasilkan budaya baru yaitu budaya AB akan tatapi dengan penggabungan tersebut dari budaya A dan B tidak serta merta meninggalkan budaya lama mereka dengan alasan akulturasi.
Atas dasar konsep multikulturalisme dan sejumlah masalah yang timbul penulis menuai pendapat akan pentingnya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan untuk seluruh masyarakat dengan tidak meninggalkan konsep konsep multikulturalisme serta paham relativisme yang harus tertanam pada konsep diri semua masyarakat untuk menerapkan semboyan” Bhineka Tunggal Ika”.   
Dengan adanya konsep multikulturalisme masalah memang muncul akan tetapi selalu ada solusi untuk mengatasinya, menjunjung tinggi semboyan negara memahami konsep multikulturalisme serta relativisme dan bangga menggunakan bahasa persatuan bahasa Indonesia, hidup bernegara akan lebih berwarna.


Source : komunikasi multikultur/ Filosa Gita/ Fajar Junaedi/





Comments

Popular posts from this blog

Dibuang Sayang 3

Tadabur Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo Oleh   : Rendi Eko Budi S / Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi UMY 2014 Menilik sekilas perkembangan ilmu pengetahuan dalam sejarah, dapat kita bagi berdasarkan periodesasi filsafat, yang biasanya sering dimulai dari zaman Yunani kuno, dalam kurun waktu 624 – 370 SM. Dalam kurun waktu di tahun tersebut berkembanglah pengetahuan dan keyakinan yang bermula dari kepercayaan mitologi dan dewa dewa, serta pandangan sentral akan asal muasal alam raya, atau dapat juga disebut dengan kosmosentrisme. Beranjak dari pelbagai mitologi yunani, hadirlah para filosof zaman Yunani kuno yang dapat disebut juga filosof pra Socrates: Filsafat Alam, banyak filosof yang lahir di zaman ini seperti Thales, Phytagoras, Heraklitus, Demokritus dan masih banyak lagi. Para filosof itu mencetuskan buah pikiranya, dengan seri diskursus kosmosentris melalui berbagai cara memperolehnya (epistimologi) baik secara empiris, rasional maupun intuisi, yang selanjutnya buah dar...

Kesunyian Übermensch om berkumis

Gambar berasal  di sini Bagiku, dalam hal pendiasporaan sangatlah dibutuhkan kekuatan "organik" yang berangkat dari akar rumput, maka dari itu sangatlah perlu kita meluaskan pandangan dan pengetahuan, "mekanik" akan selalu menjadi patronya untuk mencapai suatu etikat kebersamaan dan kebijaksanaan. kekuatan organik yang dipupuk sejak awal, dengan penuh kasih dan perenungan pastilah sangat menghindari  "itik se attelor, ajam se ngeremme" .  kekuatan itu akan selalu diharapkan semua umatnya. karena lahir untuk mengasihi semua umatnya, dan dimiliki oleh bersama dalam satu ikatan kebersamaan.(Rendi)

Peradaban jogja

Oleh   : Rendi Eko Budi S / komfak fisipol umy Jogja   kota menawan bagi para pelajar dan wisatawan Jogja menyimpan genangan cakrawala ilmu bagi setiap insan Jogja punya seribu satu cerita tentang problematika kehidupan                 Disana, terlahir cendikiawan abadi dan berpendidikan                 Bersama kisah pilu merebut kemerdekaan Jogja punya cerita cinta dengan pelancong kehidupan Cinta, budaya, agama, warna dan angkringan                 Kini, jogja ramai ringkih dan rentan                 Ramai, gedung pencakar yang mengusik nostalgia angkringan                ...