Tahun 1868 tepatnya di
Kauman Yogyakarta banyak umat islam yang terpengaruh ajaran Syeh Siti Jenar,
yang meletakan raja sebagai perwujudan tuhan masyarakat meyakini titah raja
adalah sebda tuhan dan syariat islam begeser kearah tahayul dan mistik.
Muhammad darwis atau
yang sekarang di panggil K.H. Ahmad Dahlan adalah pendiri organisasi
muhammadiyah, muhammadiyah mampu berdiri pada 18 November 1912 M atau 8
Dzulhijjah 1330 H. Sebuah gerakan islam yang paling besar di indonesia yang
berdiri dengan proses yang panjang oleh Ahmad Dahlan dan kerabatnya, “
Muhammadiyah” secara etimologi berarti “ pengikut Nabi Muhammad” . Berlandaskan
Al Qur’an dan As Sunah, muhammadiyah berusaha menciptakan umat islam yang
sebenarnya dalam arti kembali ke jalan yang benar tidak terpengaruh dengan
ajaran yang menyesatkan yang membawa umat ke arah tahayul dan mistik.
Merangkum QS. Al Imron:
104 dan 110 yang menyeru kepada yang ma’ruf ( kebaikan ) dan mencegah dari yang munkar ( penyimpangan).
Tidak hanya mengajak ke jalan yang lurus berdasarkan al Qur’an dan menciptakan
umat islam yang sebenarnya, muhammadiyah juga berperan kepada masyarakat
sebagai nilai humanitas, dahulu Ahmad Dahlan memberikan ilmu yang di dapatkanya
dengan mengajar ngaji serta sekolah yang mayoritas muridnya non muslim dan saat
itu pula masih berada di bawah kroni penjajahan Belanda, tidak hanya itu
beranjak bertambahnya tahun Muhammadiyah memperluas amal usahanya dengan
mendirikan sekolah – sekolah, perguruan tinggi, panti asuhan, dan rumah sakit
semua juga tidak lepas dari usaha syiar dan menghirohkan makna surat Al – Maun
bagai mana kita peduli dengan kaum Dhuafa dan Mustadh’afin.
Di dalam Muhammadiyah
tidak berhenti sebatas apa yang telah di paparkan di atas, muhammadiyah juga
mempunyai ortom ( Organisasi Otonom ) yang berdiri dan di bawah bimbingan persyarikatan muhammadiyah
dan yang tidak lain juga untuk meneruskan cita – cita Muhammadiyah dan
pendirinya K.H. Ahmad Dahlan.
Aisyiyah, Pemuda
Muhammadiyah, Nasyiayatul Aisyiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah, Tapak Suci Putra Muhammadiyah, dan Hizbul Wathan. Ke
tujuh organisasi otonom tersebut hingga sekarang masih berdiri dan aktif di
bidangnya masing – masing yang tetap berlandaskan Muhammadiyah. Menengok
sekarang kepada para penerus estafet negeri muhammadiyah berharap mampu
melahirkan tokoh – tokoh nasional seperti Buya Hamka, Amien Rais, dan Din
Syamsudin, harapan itu ada pada pemuda – pemudi dan semua yang terjaring dalam
organisasi otonom muhammadiyah tidak hanya muhammadiyah sebagai tujuan hidup
akan tetapi mereka juga harus belajar untuk menjadi penerus dan pemimpin negeri
yang berbekal kan ilmu dan islam yang berlandaskan Al Qur’an dan As Sunnah.
Daftar Pustaka :
IMM FKIK UMY., 2013, Idiologi Muhammadiyah,
(onlline),
(http://www.muhammadiyah.or.id/id/content-225-det-redaksi.html,
diakses pada 27 Desember 2014)
Comments
Post a Comment