Quo Vadis GO GREEN
Hampir di semua warung makan maupun
restoran sering kita temukan tisu yang
kita gunakan untuk membersihkan kotoran, hal itu wajar karena sifat tisu
yang murah dan praktis namun di balik banyaknya tisu yang beredar ternyata
banyak juga pohon yang berhasil ditebang bahkan hingga mencapai ratusan ribu
pohon yang tumbang hanya untuk memenuhi kebutuhan manusia di bumi ini.
Tidak
hanya tisu banyak kebutuhan manusia yang terbuat dari pohon seperti kertas
misalnya hampir di setiap lingkungan yang kita jumpai terdapat kertas. Sukar
untuk meninggalkan ketergantungan akan tisu dan kertas di balik dampak yang
mengerikan saat hilangnya pohon-pohon sebagai paru paru dunia. Banjir, longsor
dan global warming adalah salah satu
dampak dari tumbangnya pohon. Tidak hanya tisu dan kertas yang menjadikan bumi
kita panas atau yang sering dinamakan Global Warming, Gaya hidup glamour sehari
– hari seperti menggunakan listrik berlebihan, membuang sampah tidak pada
tempatnya, serta tidak sadarnya kita akan pentingnya transportasi umum, hal ini
juga melibatkan dampak dari modern dan
globalisasi yang terjadi saat ini.
Hal
yang ada atas masalah diatas dan sering
kita temui adalah banjir yang kerap terjadi dan melanda setiap tahun di ibu
kota Jakarta, sungai meluap hingga jalan raya bahkan membuat permukiman
masyarakat penuh tergenang oleh air yang tidak lain adalah buah dari ulah para
masyarakat setempat yang tidak sadar akan bahaya. Masyarakat terbiasa membuang
sampah di bantaran sungai serta mendirikan permukiman dekat dengan bantaran
sungai.
Tidak
hanya itu yang menjadikan banjir di ibu kota sulit teratasi adanya apartemen
mewah dan hotel – hotel berbintang juga turut menimbulkan masalah, bagaimana
tidak tanah lapang yang seharusnya menjadi daerah resapan air digunakan untuk
mendirikan bangunan serta gedung – gedung tinggi.
Seharusnya
daerah resapan harus dilindungi oleh pemerintah setempat dan digunakan sebagai
mana mestinya seperti dengan menanam pohon atau menjadikanya taman kota, namun
masyarakat belum sadar terutama masyarakat dominan yang mendirikan aparteman
yang menawarkan suasana asri bebas dari hiruk pikuk kota serta bebas dari
ancaman banjir, hal ini tentu menjadi senjata makan tuan bagi para penghuni
apartemen dan masyarakat daerah dimana mereka menjadi korban paham Kapitalisme oleh masyarakat dominan yang
menyalahgunakan daerah resapan air.
Peran
pemerintah serta kesadaran akan diri sendiri untuk lingkungan sekitar harus
lebih kiat menuju paham dan hidup yang lebih baik. Pemerintah harus melakukan
aksi untuk mengurai sebelit masalah yang ada mengingat Indonesia adalah negeri
yang kaya akan hutan perairan serta ekosistem lainya, karena itu seharusnya
negeri kita bisa menjadi negeri yang Go
green hijau ditumbuhi hutan – hutan, indah dengan kekayaan laut.
Namun
apa daya kita terlena oleh Modernisasi
dan Globalisasi kita acuh menggunakan
tisu dan membuangnya tidak pada tempatnya, menebang pohon secara liar, membuang
sampah sembarangan dengan tidak memikirkan apa dampak negativ yang terjadi atas
semua perbuatan yang kita lakukan sehari – hari.
Dibalik
semua masalah yang dihadapi pasti ada jalan untuk merubah semua itu, Global warming dimulai dari perbuatan
yang kecil, seperti mengajarkan kepada sesama untuk membuang sampah pada
tempatnya, mengurangi penggunaan Air
Conditioner. mengganti tisu dengan
sapu tangan atau kain, mendaur ulang sampah untuk dijadikan barang yang berguna
sehingga dapat menghasilkan pendapatan dan menunjang ekonomi untuk lebih baik.
Memanfaatkan
modernisasi dengan menggunakan kertas seperlunya bila perlu mangganti kertas
dengan komputer jinjing untuk alat tulis menulis.
Adapun
peran pemerintah dan kesadaran masyarakat akan pentingnya menggunakan
transportasi umum, di Eropa misalnya transportasi umum berkembang pesat dan
menjadi primadona untuk membantu
mobilitas mereka sehari – hari, mereka yang tinggal di benua Eropa sadar akan
pentingnya keamanan dan kenyamanan lingkungan hal ini menjadi terbalik jika
dibandingkan dengan Indonesia yang kaya akan hutan dan perairan.
Sekulerisme dan Hedonisme masih menyelimuti gaya hidup
warga indonesia ingin memiliki banyak kendaraan dan memiliki mobil mewah hingga
sudah lazim ketika jalan raya disesaki kendaraan pribadi serta macet menjadi
pemandangan yang biasa terjadi sehari – hari. Jika masyarakat Indonesia dapat
mencontoh Eropa dimana tranportasi umum sangat dimanfaatkan tentu hal itu dapat
mengurai kemacetan yang ada, mengurangi polusi yang yang menjadikan Global Warming.
Quo Vadis Go green, mau
dibawa kemana asri dan hijau nya Indonesia jika masyarakat tidak pernah paham
dan sadar akan perbuatan yang dilakukan dapat membunuh mereka, bumi semakin
panas jika masyarakat tidak belajar akan pentingnya lingkungan sekitar, Quo
Vadis Go green jika masyarakat acuh tak acuh dengan apa yang diperbuat dan apa
yang terjadi dilingkungan sekitar mereka.
Hal
yang perlu kita ketahui bahwa allah pun menurunkan firmanya yang tercantumkan
di kitab suci Al – Quran pada surat Yunus ayat 101 yang berbunyi, Katankalah “
perhatikan apa yang ada di langit dan di bumi, tidaklah bermanfaat tanda
kekuasaan allah dan Rasul – rasul yang memberi peringatan bagi orang – orang
yang tidak beriman.”.
Ayat
diatas mengajak kita untuk memperhatikan apa yang terjadi di belahan bumi ini
serta mengajak untuk mencari dan menuntut ilmu, oleh karena itu mari kita
bangun bersama negeri Indonesia yang Go
Green akan hutan, perairan dan lingkungan, mengurangi efek rumah kaca dan Global Warming dengan meninggalkan gaya
hidup glamour untuk peduli dan cinta lingkungan, Quo Vadis Go green !.

Comments
Post a Comment