Skip to main content

Tolak Mobilitas Demi Tradisi Kejawen



WONOKERSO, YOGYA, (SR) – Adat kejawan Nampak sudah melekat erat pada masyarakat suku jawa. Nyadran adalah satu dari sekian banyak tradisi suku jawa yang ada, tahlilan serta diiringi bahasa daerah Sehingga keduanya menimbulkan asimilasi berupa nada. Tidak hanya itu Nyadran juga menjadi euforia Bagi masyarakat suku jawa, mereka memasak bak acara hajatan untuk dibawa pada waktu hari Nyadran Tersebut, biasanya selepas tahlilan dilanjut dengan makan dengan cara bertukar menu yang dibawa dari Rumah masing – masing. Ziarah kubur untuk mendoakan sanak dan leluhur mereka yang sudah tiada Menjadi acara inti kegiatan Nyadran tersebut.
Para sesepuh dan tokoh desa yang dituakan dengan memakai pakaian surjan batik dilengkapi dengan Blangkon seperti halnya masyarakat kraton, “ Nyadran niku mpun enten, mpun dangu gadah masyarakat Jowo, tradisi engkang sesepuh kulo lan nenek moyang. Setiap tahun diselenggara aken teng latar makam Kubur lan bulan ramadhon teko,” Ucap salah satu sesepuh desa.
Para masyarakat berbondong – bondong memanfaatkan momentum ini selain untuk berziarah juga Bersilaturahmi dengan sanak saudara, dengan membawa anak, dan keluarga besar tradisi nyadran Terlihat ramai. Menurut pengamat masyarakat Rendi Eko Budi S “ Tradisi Nyadran tersebut sudah kuat Dan turun temurun dari leluhur mereka, menurut agama islam ziarah kubur waktunya tidak ditentukan, Serta diajaran agama Islam tidak ada perintah menjadikan tempat makam sebagai arena hedonisme dan Konsumtifme. Walaupun sudah menjadi tradisi dan sulit untuk menghapus budaya tersebut, kita masih Bisa untuk mengalihkan tradisi tersebut kearah yang benar, yaitu dengan cara memberikan Pengetahuan agama islam yang sebenarnya kepada para pemuda dan sehingga kelak tradisi yang Menyimpang ajaran Islam tersebut lambat laun tiada dengan sendirinya, “ pungkasnya.
Wonokerso adalah desa yang berada di Jl. Kaliurang km 22 serta 20 kilometer dari lereng gunung Merapi Masyrakat setempat masih asli suku jawa namun sebagian besar memeluk agama Islam. WONOKERSO, HARGOBIONANGUN, PAKEM, YOGYAKARTA.  Setiawan Rendi melaporkan



Comments

Popular posts from this blog

Dibuang Sayang 3

Tadabur Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo Oleh   : Rendi Eko Budi S / Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi UMY 2014 Menilik sekilas perkembangan ilmu pengetahuan dalam sejarah, dapat kita bagi berdasarkan periodesasi filsafat, yang biasanya sering dimulai dari zaman Yunani kuno, dalam kurun waktu 624 – 370 SM. Dalam kurun waktu di tahun tersebut berkembanglah pengetahuan dan keyakinan yang bermula dari kepercayaan mitologi dan dewa dewa, serta pandangan sentral akan asal muasal alam raya, atau dapat juga disebut dengan kosmosentrisme. Beranjak dari pelbagai mitologi yunani, hadirlah para filosof zaman Yunani kuno yang dapat disebut juga filosof pra Socrates: Filsafat Alam, banyak filosof yang lahir di zaman ini seperti Thales, Phytagoras, Heraklitus, Demokritus dan masih banyak lagi. Para filosof itu mencetuskan buah pikiranya, dengan seri diskursus kosmosentris melalui berbagai cara memperolehnya (epistimologi) baik secara empiris, rasional maupun intuisi, yang selanjutnya buah dar...

Kesunyian Übermensch om berkumis

Gambar berasal  di sini Bagiku, dalam hal pendiasporaan sangatlah dibutuhkan kekuatan "organik" yang berangkat dari akar rumput, maka dari itu sangatlah perlu kita meluaskan pandangan dan pengetahuan, "mekanik" akan selalu menjadi patronya untuk mencapai suatu etikat kebersamaan dan kebijaksanaan. kekuatan organik yang dipupuk sejak awal, dengan penuh kasih dan perenungan pastilah sangat menghindari  "itik se attelor, ajam se ngeremme" .  kekuatan itu akan selalu diharapkan semua umatnya. karena lahir untuk mengasihi semua umatnya, dan dimiliki oleh bersama dalam satu ikatan kebersamaan.(Rendi)

Peradaban jogja

Oleh   : Rendi Eko Budi S / komfak fisipol umy Jogja   kota menawan bagi para pelajar dan wisatawan Jogja menyimpan genangan cakrawala ilmu bagi setiap insan Jogja punya seribu satu cerita tentang problematika kehidupan                 Disana, terlahir cendikiawan abadi dan berpendidikan                 Bersama kisah pilu merebut kemerdekaan Jogja punya cerita cinta dengan pelancong kehidupan Cinta, budaya, agama, warna dan angkringan                 Kini, jogja ramai ringkih dan rentan                 Ramai, gedung pencakar yang mengusik nostalgia angkringan                ...